-----Original Message-----
From: Koran Digital <[email protected]>
Date: Mon, 1 Feb 2010 17:10:21 
To: Koran Digital<[email protected]>
Subject: [Koran-Digital] IJP:  Tragedi Politik Sebagai Industri

 Tragedi Politik Sebagai Industri
Indra J. Piliang DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUTE

Wakil Presiden Boediono benar dalam memberi kesimpulan, betapa praktek
"industri panitia khusus"di DPR bisa berakibat kepada kegagalan
penyelenggara negara dalam mengejar program-program pembangunan.
Namun, konteks dari kesimpulan itu yang terkesan naif. Hanya Pansus
Buloggate dan Bruneigate yang mampu menyebabkan kejatuhan pamor
Presiden Abdurrahman Wahid. Itu pun ditandai dengan kekuatan politikus
pendukung Gus Dur terbatas di DPR, yakni Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa. Sedangkan elemen-elemen lain di MPR masih berkuasa, yakni
Fraksi TNI-Polri, Utusan Daerah, dan Utusan Golongan.

Kalau diukur dari kekuatan pendukung SBY-Boediono sekarang, tentu jauh
panggang dari api. Sekalipun begitu, politik tidak selamanya berjalan
linear dengan pemilu dan aspek dukungan di MPR RI. Hal ini bisa
dikaitkan dengan proses kejatuhan Presiden Soekarno dan Presiden
Soeharto.
Aksi massa di luar gedung parlemen dan konflik di lingkaran elite
militer menjadi pemicu, ketimbang arus konservatif di MPR. Pada
prinsipnya, elite-elite yang menghuni DPR atau MPR adalah elemen
paling terakhir yang menyetujui perubahan secara drastis.

Musuh terbesar setiap penguasa adalah monopoli terlalu besar di
kalangan elite.
Manajemen konflik terbuka kehilangan padanan ketika banyak aktor
bergerak di bawah tanah. Politik sebagai seni bernegosiasi menjadi
kenyal ketika berhadapan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dari
sini, persoalan-persoalan ketidakpercayaan merembes ke tingkat
kesadaran masyarakat, terutama level kelas menengah. Persekutuan kelas
menengah dengan massa rakyat memungkinkan bagi munculnya erupsi-erupsi
konflik dalam bentuk apa pun.

* Sejak Pansus Angket Bank Century dibentuk, lalu sidang-sidang secara
terbuka digelar, hanya lidah api dari mulut politikus yang membawa
perdebatan. Itu pun ditandai dengan realitas media yang muncul tanpa
beban dengan cara menguliti aspek terkecil dari substansi perdebatan.
Seiring dengan liberalisasi di bidang politik, media massa muncul
sebagai kekuatan atau pilar keempat, di luar parlemen, pemerintah, dan
yudikatif. Keberimbangan informasi terjadi di dalam proses ini.

Hal ini berbeda sama sekali dengan zaman kejatuhan Soekarno dan
Soeharto.
Sampai kini, masih menjadi rumor yang dipercakapkan oleh para ahli
menyangkut kedatangan rombongan dokter Cina untuk mengobati Soekarno.
Begitu juga aspek persaingan di kalangan jenderal pada masa Soeharto.
Desas-desus terjadi di segala lini, sehingga masyarakat bersiap-siap
menghadapi keadaan terburuk dengan cara memagari diri.

Kini, datanglah ke mal atau jalanan, tetap saja berisi dengan manusia-
manusia dalam beragam usia yang memilih begadang sampai pagi atau
bepergian tanpa rasa takut. Bayangkan kondisi 1998 ketika begitu
banyak daerah rawan di sepanjang jalan dengan aksi pembegalan dan
perampokan. Masyarakat berada dalam suasana aman damai saat ini.
Saking asyiknya dengan dunianya, bahkan masyarakat tidak bisa
menghafal nama dan wajah seorang menteri.

Jadi, bagi kalangan yang suka melakukan komparasi antara masa lalu dan
masa sekarang, tentulah itu hanya sebagai catatan kaki. Sejarah tidak
bergerak dalam teks-teks yang diciptakan itu, mengingat sudah banyak
yang berubah dan masih terus berubah. Masa lalu terkadang penting
dijadikan sebagai renungan. Hanya bahwa deja vu yang akan selalu
terjadi adalah igauan di siang bolong di tengah terik matahari.

* Bahwa politik muncul sebagai kegiatan industrial adalah perpaduan
kata yang tidak cocok. Boleh saja siapa pun khawatir bahwa anggota
kabinet akan diganti, begitu juga presiden dan wakil presiden. Namun,
kalau dilihat dari kerangka liberalisasi sendiri, pergantian itu
sangat dipengaruhi oleh apa yang disebut sebagai obyektifikasi. Fakta-
fakta sebagai obyek yang tersusun secara detail akan jauh lebih kuat
mempengaruhi publik, ketimbang hanya tebak-tebak buah manggis di taman
yang terlalu banyak pohonnya.

Dalam kasus Bank Century, bukan kerja Pansus itu yang kemudian
dijadikan sebagai industri, melainkan bagaimana media massa dan
masyarakat awam menempatkannya dalam agenda keseharian. Dua metode
pendekatan saja akan berakibat berbeda, yakni apabila seluruh sidang
di Pansus itu dibuka kepada umum atau ditutup sama sekali. Efek dari
kedua pendekatan itu bisa saja sama atau berbeda. Persamaan itu adalah
tuduhan langsung atau tidak langsung kepada anggota-anggota Pansus dan
para pihak yang dipanggil. Perbedaannya, bisa saja kemarahan elemen-
elemen masyarakat sipil jauh lebih menggumpal apabila keadaan di
persidangan sama sekali tidak diketahui.

Rumor dan desas-desus akan dipertukarkan dalam pasar gelap politik
(black market of politics). Ilmu propaganda hitam diedarkan untuk
membuat keresahan.
Bukan politikus yang bertengkar di televisi, melainkan ketakutan
hinggap di masyarakat. Barangkali, acara menonton televisi akan
digantikan oleh kegiatan ronda atau jaga malam yang lain. Masyarakat
saling menghabiskan waktu untuk menjaga diri dan sekaligus mewaspadai
yang lain.

Jadi, industri politik di zaman ini, yang berimpitan dengan industri
media massa, juga perkembangan terbaru teknologi informasi dan sarana
bebas hambatan dalam berkomunikasi, akan sangat sulit untuk
disamaratakan dengan masa lalu. Demokrasi, sebagai sistem yang bisa
dan terbiasa memperbaiki dirinya, sudah berkembang jauh di masyarakat.
Mau pergi ke mana pun di seluruh Indonesia, akan terasa betapa
masyarakat mengikuti perkembangan politik dengan baik. Bagi yang
terbiasa memberikan seminar atau diskusi di berbagai daerah, akan
merasakan betapa kualitas perdebatan di kalangan audiens sama sekali
meningkat dan berbeda dari tahun ke tahun.

Pansus Bank Century hanyalah jalan mendaki dalam menata kehidupan yang
lebih baik bagi bangsa dan negara ini. Tetapi bukan jalan yang tidak
bisa dilalui sama sekali. Semak belukar dan belantara peraturan
perundang-undangan yang dijadikan dasar perdebatan malahan menjadi
bahan yang baik bagi masyarakat untuk belajar. Bahwa ada kesimpulan
atau rekomendasi yang bersifat politik, justru adalah bagian dari
kewajaran.Yang namanya lembaga politik tentulah menelurkan keputusan-
keputusan politik, sebagaimana pemerintah menjalankan amanat
konstitusi dan undang-undang.

Menyebut Pansus sebagai bagian dari industri adalah istilah yang
kurang tepat.
Pansus hanya hadir beberapa kali, bahkan tidak sampai satu kali dalam
setahun. Di parlemen daerah malahan jarang sekali Pansus dibuat.
Apalagi, Pansus Angket diwadahi dalam UUD 1945. Siapa pun yang ingin
menghapuskan DPR untuk menjalankan "industri kecil"itu, tentu harus
mengubah UUD 1945 terlebih dulu.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/02/02/ArticleHtmls/02_02_2010_009_002.shtml?Mode=1

-- 
- One Touch News-

To post  : [email protected]
To unsubscribe  : [email protected]

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun
               -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
               -  Hindari ONE-LINER
               -  POTONG EKOR EMAIL
               -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau 
Moderator 
                 Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
              -  Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~-------------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke