IKHLAS BERBAGI... (ala bocah balita)

Boby, anak kakak sepupuku yang satu ini memang pintar dan lucu.
Kelincahannya sering menggemaskan orang-orang disekelilingnya. Pipinya yang
tembem karena doyan minum susu juga makin membuat orang tergoda untuk
mencubitnya. Biasanya ia akan teriak-teriak jengkel dibuatnya. Walaupun
usianya baru balita, tapi mulut usilnya tak berhenti bicara, menirukan apa
saja yang dibicarakan orang-orang disekitarnya. Kenakalan khas anak kecil
juga tak lepas dari kelakuan sehari-harinya. Setiap kali kami bertemu,
ritual yang sering dilakukannya adalah menadahkan tangan sambil merayu; "Nda
, minta uangnya dong, sepuluh ribu. Tapi uang baru...", hehe.

Kalau kutanya untuk apa, dengan sigap akan dijawabnya: "Dimasukin celengan,
untuk Boby nanti naik haji, Bunda..", hahaha. Sering kuledek kedua orang
tuanya, "Hei... itu anakmu, kecil-kecil mata duitan juga... "
Untunglah dia suka 'meminta-minta' hanya kepada orang-orang tertentu saja :)

Minggu ini, begitu aku mampir ke rumahnya, seperti biasa dia sudah sigap
menyapa, tentu saja khas dengan todongan sepuluh ribunya. Dan seperti biasa
pula, kubayarkan 'pajak' yang sudah kusiapkan sebelumnya. Uang ditangannya
belum sempat disimpan, ketika seorang temannya di halaman berteriak
memanggil dan mengajak main.

Tak lama, dia kembali masuk rumah dan berkata bangga, "Nda, Uangnya separo
Boby kasih ke teman ya, kasihan, teman Boby itu nggak punya uang seperti
yang Bunda kasih". Aku menggangguk setuju, "Sini...uangnya biar Bunda
ganti...."

Si ganteng itu tertawa, "sudah Boby bagi kok, Nda. Nih yang bagian Boby...",
sambungnya. Akupun melongo, ternyata selembar kertas bergambar Sutan Mahmud
Badarudin itu sudah terpotong dua. "Separonya mana?" tanyaku bingung.
"Kan sudah dikasih ke teman, supaya kita berdua bisa sama-sama punya uang",
jawabnya ceria, sambil kembali ke luar rumah bersama temannya.

Cepat aku melangkah ke halaman menemui mereka berdua, membujuk dan meminta
kedua lembaran mata uang yang telah terpotong dua itu. Tak sampai hati
melihat kekecewaan dimata mereka karena uang mereka kuminta kembali,
kukeluarkan dua lembar sepuluh ribuan baru agar masing-masing mereka
mendapat satu.
Sambil mencari lem untuk menyambung uang yang robek itu kembali, aku
membatin sendiri...

"Lihatlah..., anak-anak kecil seperti mereka saja sudah merasakan indahnya
rasa memberi dan saling berbagi....
Walaupun mereka belum mengerti bahwa uang kertas yang dipotong dua akan
menjadi kehilangan arti....
Tapi memberi kepada sesama dengan rasa ikhlas, memang akan mendatangkan
kebahagiaan dihati...
seperti yang dirasakan keponakanku ini..."

Wassalam,

Rita D. Lukman

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke