AslmWrWb

Ambo no comment se lah...

Wassalam
fitr tanjuang
lk/35/albany NY
-------
Sabtu, 06 February 2010

Pilkada dan Kongres Kebudayaan Minangkabau

WISRAN HADI

Kongres Kebudayaan Minangkabau yang difasilitasi oleh Gebu Minang
Jakarta, persiapannya sudah memasuki tahap pensosialisasian, mulai
dari berbagai proposal dan tanggapan mengenai latar belakang,
gagasan-gagasan, konsideran-konsideran, bahkan juga penentuan
siapa-siapa saja yang berhak sebagai peserta kongres.

Semua itu disebar melalui mailing list dan e-mail orang-perorang
secara berbalasan, mengadakan diskusi khusus (FGD) di Fakultas Sastra
Unand, wawancara dan siaran pers untuk media massa yang ada di Sumatra
Barat.

Dari apa yang dapat dibaca melalui internet dan mass-media, tampaknya
orang Minang terutama yang bermukim di rantau seakan sudah
kalimpasiangan dengan keminangkabauan orang Minang. Artinya lagi,
orang Minangkabau yang ada sekarang diragukan keMinangannya, walau
kabaunya tidak. Tak tahulah, hal ini sebagai dalih atau ada sesuatu
maksud yang lain.

Dalam konteks ini, maka usaha besar yang akan dilakukan para pencinta
Minangkabau itu dengan mengadakan Kongres Kebudayaan Minangkabau boleh
jadi cukup relevan. Terutama dalam rancangan keputusan yang sudah
dibuat, bahwa dari kongres itu diharapkan akan lahir sebuah lembaga
baru (adat dan syara) yang akan ‘membawahi’ semua organisasi atau
lembaga adat yang sudah ada seperti LKAAM, KAN, MTKAM, Bundo Kanduang,
Parik Paga Nagari dan lain sebagainya.

Artinya di sini, lembaga baru itu diusahakan untuk menjadi induak
samang dari organisasi atau institusi yang sudah ada jauh sebelum ini.
Organisasi itulah nanti yang akan ‘memobilisasi’ orang Minang untuk
me-Minangkan orang Minangkabau masa depan.

Hal semacam ini tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan. Seperti
pertanyaan yang pernah diajukan Muchtar Naim (sebagai pakar yang
diundang) kepada Panitia Kongres Kebudayaan yang difasilitasi oleh
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan beberapa tahun lalu. Pertanyaan yang
diajukannya adalah; apa maunya Kongres ini?

Dengan disertai oleh sebuah ungkapan kecurigaan; “tentu ada sesuatu di
balik kongres ini”.

Sekarang  pertanyaan dan kecurigaan yang sama tentu dapat pula
diajukan kembali kepada beliau, karena beliau adalah salah seorang
inisiator/konseptor dari kongres kebuduayaan yang akan diadakan
pertengahan tahun ini. Mau apa Kongres Kebudayaan ini? Ada apa di
balik kongres ini?

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan, karena kongres tersebut akan
diadakan pada pertengahan tahun ini juga, bersamaan pula dengan
persiapan (kampanye dllnya) Pilkada Sumatra Barat. Tokoh-tokoh Minang
tertentu yang merasa lai lanteh angan sudah mulai melakukan
kampanye-kampanye terselubung.

Perkenalan diri, memberi bantuan dan sumbangan, peduli ini, peduli
itu, pertemuan ini, diskusi itu, dlsbnya. Bantuan dan kepedulian serta
berbagai kegiatan tersebut harus dipajang pula sepenuh halaman surat
kabar agar masyarakat tahu, yang ujung-ujungnya “pilihlah aku”.
Kongres Kebudayaan Minangkabau yang akan diadakan itu digelar di
Istana Bung Hatta Bukittinggi pada pertengahan tahun ini, dan waktunya
sangatlah beriringan dengan Pilkada Sumatra Barat.

Seandainya dugaan di atas benar; bahwa Kongres Kebudayaan Minangkabau
yang akan diadakan itu, yang juga akan melahirkan sebuah organisasi
baru untuk ‘memobilisasi’ lembaga-lembaga dan institusi adat yang ada,
tentulah untuk kepentingan Pilkada sangat besar sekali artinya. Betapa
banyak suara yang dapat diraup dari kalangan ninik mamak, alim ulama
dan cadiak pandai.

Segala anak kemenakan tentu akan memberi dukungan pada figur utama
dari pucuk pimpinan organisasi itu yang nanti akan dipilih dalam
kongres. Bukan tidak mustahil, kongres kebudayaan demikian seumpama
penyampaian visi dan misi dari salah seorang calon yang akan
bertarung.
Saya percaya, andaian seperti ini pasti akan disanggah dan akan
dianggap salah oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan berbagai
alasan. Namun yang tidak dapat disanggah adalah; bahwa Kongres
Kebudayaan Minangkabau 2010 adalah sebuah usaha untuk membentuk
tatanan sosial yang baru. Boleh jadi akan muncul lagi ‘tiga haji’
sebagaimana dulu bermulanya Perang Paderi.

“Kita harus meninggalkan sesuatu yang monumental,” begitu ucapan salah
seorang tokoh Kongres itu yang dilansir sebuah mass-media.

Agak-agak hati awak begini sajalah; agar Kongres Kebudayaan
Minangkabau itu tidak ‘dianggap’ sebagai bentuk baru penyampaian visi
misi dari seorang calon gubernur, sebaiknya kongres itu diadakan
sesudah Pilkada Sumbar, sesudah gubernur Sumbar terpilih. Supaya
kongres yang hebat dan menggetarkan jagad dan alam Minangkabau ini
bersih dari muatan-muatan politik dan interest-interest perorangan.
Sebab, yang perlu diyakini adalah; Pilkada Sumbar untuk memilih
gubernur Sumbar, bukan gubernur Minangkabau. (*)

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke