Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,Dengan tidak kita sadari, satu demi
satu 'asset' daerah Sumatera Barat merosot dalam kualitas, bukan saja oleh
karena tak ada yang mengelola, tetapi juga --kelihatannya oleh karena tak ada
yang memperhatikan.
Kali ini diberitakan tentang pelabuhan Muaro di Padang yang nyaris mati, oleh
karena pendangkalan, yang jelas berdampak pada merosotnya kehidupan ekonomi
lokal. Saya bertanya dalam hati: kok kementerian perhubungan dan pemda Sumbar
tidak memberikan reaksi ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
PERHUBUNGAN
Pelabuhan Muaro Padang Nyaris Mati
Kompas, Sabtu, 6 Februari 2010 | 03:24 WIB
Padang, Kompas - Pelabuhan Muaro Padang nyaris mati tanpa aktivitas. Kapal
layar motor tidak masuk ke dermaga karena Sungai (Batang) Arau mengalami
pendangkalan. Kapal hanya bisa masuk saat pasang pada malam hari dengan muatan
terbatas.
Selama ini Pelabuhan Muaro Padang menjadi tumpuan masyarakat kepulauan barat
Sumatera. Dari pelabuhan inilah mobilisasi barang dan manusia berlangsung
bertahun-tahun. Pendangkalan sungai menuju pelabuhan mengganggu kelancaran
distribusi kebutuhan pokok masyarakat kepulauan.
”Pelabuhan ini mulai sepi tiga tahun belakangan. Kapal hanya bisa masuk mulai
pukul enam sampai delapan malam. Bahkan, sekarang KLM (kapal layar motor) hanya
bisa masuk ke sini sebulan sekali,” tutur Kepala Regu Kerja Pelabuhan Muaro
Padang Sofyan (70) saat ditemui di dermaga, Jumat (5/2).
Sepinya Pelabuhan Muaro Padang membuat aktivitas ekonomi hampir mati. Mereka
yang mulai kehilangan pekerjaan, antara lain, adalah penarik becak, sopir
pengangkut barang, buruh angkut, dan penjual nasi di sekitar dermaga.
Tidak jauh dari pelabuhan, sejumlah kapal ikan masih bisa masuk. Kapal milik
nelayan setempat ini tertambat di tengah sungai. Sementara kapal yang kandas di
lumpur tepi dermaga yang tampak jelas oleh mata.
Pelabuhan ini biasanya melayani kapal dari Gunungsitoli (Sumatera Utara), Teluk
Dalam (Sumatera Utara), Pulau Telo (Sumatera Utara), Kepulauan Mentawai
(Sumatera Barat), dan Tapak Tuan (Nanggroe Aceh Darussalam). Pemilik kapal
lebih memilih Pelabuhan Muaro Padang karena letaknya dekat dengan pusat kota.
Kini kapal-kapal dari daerah itu mengalihkan sandarnya di Pelabuhan Teluk Bayur
dan Pelabuhan Bungus. Pelabuhan Teluk Bayur terletak sekitar 7 kilometer dari
pusat Kota Padang, sedangkan Pelabuhan Bungus terletak 20 kilometer dari pusat
Kota Padang. Kondisi ini membuat pengguna jasa pelabuhan harus menempuh jarak
lebih jauh.
Ermansyah (50), sopir pengangkut barang, kini tidak banyak bekerja. Kapal-kapal
tidak lagi bersandar di Pelabuhan Muaro Padang. Pendapatannya turun tajam sejak
pelabuhan tersebut menjadi sepi.
Administratur Pelabuhan Kelas I Teluk Bayur Capt Purnama S Meliala mengatakan,
persoalan ini terjadi karena pendangkalan Batang Arau. (NDY)
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe