Assalamualaikum Wr Wb Pak Saaf dan dunsanak palanta maya RN nan Mulia
Baiklah saya akan menyampaikan saran dan pendapat saya seputar masalah atau kondisi Pelabuhan Muara Padang Ini hanya sebagai pengulangan saja seperti yang telah saya sampaikan dalam bahasa ibu kita dan juga sekitar tahun 2004 secara tertulis juga saya sampaikan ke pada Wali Kota Padang melalui adik saya yang bekerja di kantor Wali Kota, kata Adik saya "sudah disampaikan dan tentu Pak Wali baca, tapi tentang pelaksanaan dilapangan tentu Pak Wali dengan segenap jajarannya akan menindaklanjuti" 1. Pada prinsipnya Pelabuhan Muara Padang memang tidak cocok lagi menjadi dermaga sandar bongkar muat barang dan jasa kapal-kapal antar pulau baik dari segi teknis yaitu bobot kapal tidak seimbang lagi dengan kedalaman air (dangkal akibat pengendapan material lumpur, pasir dan sampah) serta mulut muara yang terlalu sempit hanya satu jalur saja kapal masuk dan keluar dari dan ke Muara Padang ini ditandai Kapal2 tersebut berlayar harus menunggu pasang naik maksimal dan tentunya pasang ini setiap bulan sepanjang tahun akan berubah2 pasang naik dan turun air (kalau tidak salah dalam ilmu pelayaran dan maritim ada tabel pasang naik pasang surut hari dan jamnya) tentu membuat jadwal pelayaran baik keluar pelabuhan maupun masuk pelabuhan (buang jangkar dulu di tengah laut) tidak teratur Lalu hal-hal lain ditandai sering saat keluar dan masuk muara baling-baling kapal macet berputar karena tersangkut sampah plastik dan tali ini memaksa anak buah kapal turun menyelam untuk membuang sampah yang tersangkut tersebut Dari segi non teknis lebih kepada estetika lingkungan, semrawut buat bongkar, pencemaran BBM yang tercecer serta sampah2 barang yang di muat maupuyn yang di bongkar 2. Karena mulut muara yang sempit sering juga terjadi kecelakaan yang terkadang sangat "konyol" maksud saya begini pernah kejadian yang saya lihat dan ini tidak asing lagi, sebuah kapal barang yang mengangkut semen ke Sipora Mentawai, keluar dari mulut muara yang sempit menuju lautan bebas, ketika akan lepas mulut muara karena arus ombak yang kuat nakhoda lepas kendalii maka kapal terseret beberapa meter menuju tubir karang akhirnya pecah lambung dan karam, konyol disini adalah "baru beberapa meter berlayar sudah karam" seandainya pelabuhan ini luas lansung menghadap laut bebas tentu kalaupun harus kuat kapal tersebut terseret tentu dibawa arus kelautan yang dalam dan nakhoda masih punya waktu mengendalikan kapalnya ke jalur yang diinginkan 3. Masalah pengendapan dan pendangkalan itu akan terjadi selamanya, saya memang tidak ahli ilmu lingkungan dan geologi, tapi dengan melihat fenomena alam sedikit banyak saya bisa jelaskan sebagai contoh masyarakat di Riau yang menambang pasir di sungai kampar tempat tertentu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak pernah kekurangan pasir bangunan yang ditambah dari bekas endapan (sedimentasi) artinya material pasir ini akan selalu terbawa arus dari hulu dan mengendap pada ruas sungai tertentu (kalau kasus pelabuhan muara Padang tentunya mengendap pasir, lumpur dan sampah di mulut muara) Seperti ungkapan ninik kita yang belajar dari alam takambang jadi guru "sakali aia gadang, sakali tapian berubah" nah begitu juga saya rasa fenomena alam ini sekali air besar atau arus besar di hulu musim hujan tentunya endapan pasir dan lumpurnya semakin banyak terbawa ke muara, lama kelamaan terakumulasi (mengendap) maka terjadilah pendangkalan, ini tidak asing lagi sering kita jumpai di muara pertemuan sungai dan laut disebut delta atau pulau2 kecil yang timbul akibat endapan pasir yang menumpukm Sungguh ninik kita telah mengajarkan sebuah kearifan pada kita dengan melihat fenomena alam tersebut keluarlah ungkapan "sekali air besar datang, maka berubahlah tepian mandi kita" 4. Dari poin tiga diatas apapun ceritanya kalaupun ada pengerukan sedimentasi tadi, maka hanya akan mengatasi persoalan sesaat tapi bukan itu saja tentu aspek keselamatan pelayaran perlu dipertimbangkan karena jalur keluar masuk ke Dermaga dari dan ke lautan bebas sangat sempit, Jika dulu-dulunya mungkin lalu lintas pelayaran kapal pulau di kota Padang tidak terlalu sibuk seperti sekarang dan pendangkalan kalaupun ada tidak mempengaruhi secara teknis kedalaman muara sungai untuk berlayar kapal bobot tertentu. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka pelabuhan kapal antar pulau yang mengangkut penumpang dan barang harus pindah ke pelabuhan mungkin pelabuhan khusus di Teluk Bayur (dibuat dermaga tersendiri) atau di Bungus yang telah ada bersama dermaga kapal penangkapn ikan 5. Awalnya memang akan menuai protes dengan alasan teluk bayur dan Bungs dari segi aksebilitas sangat jauh dari Kota Padang sehingga cost transportasi penumpang dan barang jadi tinggi dibandingkan kalau proses muat bongkar di muara Padang serta "matinya" pendapatan orang2 yang bekerja di pelabuhan ini baik jasa pengangkutan barang, muat bongkar, kedai-kedai makanan dan minuman serta penghasilan lain, tapi kembali lagi ke fenomena perpindahan terminal pada umunya di negara kita sebagai contoh ketika terminal andalas sekarang menjadi plaza Andalas dipindahkan ke Bingkuang by pass, betapa maraknya protes dan demo, tapi dengan ketegasan serta mempertimbangkan ketidaklayakan lagi terminal tersebut lambat laun akhirnya masyarakat menerima kondisi ini, kita bisa saksikan terminal bus antar kabupaten dan propinsi di by pass berjalan sebagaimana mestinya dan malah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru didaerah tersebut. 6. Setelah pindah pelabuhan kapal antar pulau itu, jika ada dianggarkan dana pengerukan mulut muara maka dilakukan pengerukan untuk menambah kedalaman air dan membuang sampah2 yang ikut mengendap bersama lumpur dan pasir, lalu pelabuhan tersebut hanya digunakan buat kapal2 kecil penunjang sarana dan prasarana parawisata dunia laut dan pantai seperti tempat bersandar yacht, speedboat fiber dan kayu dan perahu2 nelayan tempatan yang mencari nafkah menangkap ikan diseputar peraiaran muara padang 7. Bantaran sungai batang arau mulai dari jembatan siti nurbaya sampai muara ditata ulang kembali dan menjadi satu paket dengan object parawisata pantai muara Padang sekaligus sebagai Kota Tua di sepanjang batang arau, memang telah ada. Penataan hal tersebut dan telah menampakan hasil dibandingkan sebelumnya yang semrawut sepanjang bantaran sungai tapi lemahnya pengawasan menjadikan bantaran sungai tersebut kembali diokupasi oleh bangunan liar, tenda2 makanan asal jadi dan kios2 atau tempat mangkal penjualan BBM, ini perlu ditertibkan lagi, ajak pihak swasta membuaty bangunan atau kedai-kedai sederhana yang rapi dan indah dipandang mata. Sponsornya seperti produk minuman terkenal, provider seluler untuk membuat kedai2 makanan dan minuman serta selter2 tempat duduk2 bersantai pengunjung. Kedai tersebut diisi oleh masyarakat tempatan, mereka dibina agar lebih tertib dan bersih dalam berjualan sepanjang bantaran sungai tersebut, lalu "jinakan" preman2 yang selama ini mungkin dengan kekuasaan mereka dan main mata dengan aparat maka bisa tumbuh bangunan dan kedai liar tersebut dimana pemiliknya memberi setoran kepada mereka, nah "preman" ini dibina dengan memberikan honor perbulan, menjaga keamanan serta insentif resmi lainnya dengan menguasai lahan parkir misalnya Dari hal diatas kiranya muara padang dan bantaran sungai arau dengan Kota Tuanya serta Pantai Muara Padang lebih ditata lagi menjadi kesatuan object Parawisata di Kota Padang, tidak ada lagi pelabuhan kapal antar pulau disana dan solusinya di Pindahkan ke Dermaga khusus di Teluk Bayur atau Di Bungus dan atau di gunakan kedua-keduanya tergantung karakter dan jenis kapal apa yang bersandar dalam membawa penumpang dan barang. Demikianlah saran, pendapat dan urun rembuk dari saya, semoga ada manfaatnya jika ada kekurangan dalam penyampaian saya mohon maaf *** Pak Saaf semoga memenuhi harapan yang Bapak minta kepada saya, silahkan disampaikan ke forum2 resmi yang Bapak hadiri dengan unsur2 pimpinan Kota di Padang Terima kasih Wass-Jepe Kota Pinang, 7 Peb 2010 Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
