Da Jepe
Ambo setuju jo pemindahan ko. Bantuaknyo memang rancak kalau kawasan
Muaro Padang dijadikan pusat wisata. Tabayang dek ambo banyak hotel jo
Cafe tagak disinan, terus ado pulo kapa-kapa yang lalu lalang disinan
merupakan restoran terapung. Nan agak canggih ambo caliak di Singapura,
tapi nan relatif sederhana yo di Sungai Kapuas Kalbar. Tapi kalau dapek
Cafe memanfaatkan bangunan tuo disinan dengan sedikit renovasi jo
mampakuek bangunan tu. Itu bisa kito jadikan jadi kota tua beserta
segala macam caritonyo. Tapi nan harus tageh ditagakkan adolah paraturan
yang ndak buliah mambuang sarok, apo lai limbah ka batang aia ko.
Satu hal nan paralu dipertimbangkan adolah rumah-rumah yang di gunuang
Padang tu, paralu dipikirkan untuak relokasi mereka. Tapi tentu relokasi
disesuaikan jo aspek sosialnyo. Misalnyo kalau mereka itu pelaut, mako
usahokan dakek jo pelabuhan tampek relokasinyo. Panah katiko kajadian
longsor disinan, beberapa kelompok direlokasi jauh diatas kota Padang,
mereka pada protes karena jauh kalau pergi ke laut.
Salam
andiko
[email protected] wrote:
Assalamualaikum Wr Wb
Pak Saaf dan dunsanak palanta maya RN nan Mulia
Baiklah saya akan menyampaikan saran dan pendapat saya seputar masalah atau
kondisi Pelabuhan Muara Padang
Ini hanya sebagai pengulangan saja seperti yang telah saya sampaikan dalam bahasa ibu
kita dan juga sekitar tahun 2004 secara tertulis juga saya sampaikan ke pada Wali Kota
Padang melalui adik saya yang bekerja di kantor Wali Kota, kata Adik saya "sudah
disampaikan dan tentu Pak Wali baca, tapi tentang pelaksanaan dilapangan tentu Pak Wali
dengan segenap jajarannya akan menindaklanjuti"
1. Pada prinsipnya Pelabuhan Muara Padang memang tidak cocok lagi menjadi
dermaga sandar bongkar muat barang dan jasa kapal-kapal antar pulau baik dari
segi teknis yaitu bobot kapal tidak seimbang lagi dengan kedalaman air (dangkal
akibat pengendapan material lumpur, pasir dan sampah) serta mulut muara yang
terlalu sempit hanya satu jalur saja kapal masuk dan keluar dari dan ke Muara
Padang ini ditandai Kapal2 tersebut berlayar harus menunggu pasang naik
maksimal dan tentunya pasang ini setiap bulan sepanjang tahun akan berubah2
pasang naik dan turun air (kalau tidak salah dalam ilmu pelayaran dan maritim
ada tabel pasang naik pasang surut hari dan jamnya) tentu membuat jadwal
pelayaran baik keluar pelabuhan maupun masuk pelabuhan (buang jangkar dulu di
tengah laut) tidak teratur
Lalu hal-hal lain ditandai sering saat keluar dan masuk muara baling-baling
kapal macet berputar karena tersangkut sampah plastik dan tali ini memaksa anak
buah kapal turun menyelam untuk membuang sampah yang tersangkut tersebut
Dari segi non teknis lebih kepada estetika lingkungan, semrawut buat bongkar,
pencemaran BBM yang tercecer serta sampah2 barang yang di muat maupuyn yang di
bongkar
2. Karena mulut muara yang sempit sering juga terjadi kecelakaan yang terkadang sangat
"konyol" maksud saya begini pernah kejadian yang saya lihat dan ini tidak asing lagi,
sebuah kapal barang yang mengangkut semen ke Sipora Mentawai, keluar dari mulut muara yang sempit
menuju lautan bebas, ketika akan lepas mulut muara karena arus ombak yang kuat nakhoda lepas
kendalii maka kapal terseret beberapa meter menuju tubir karang akhirnya pecah lambung dan karam,
konyol disini adalah "baru beberapa meter berlayar sudah karam" seandainya pelabuhan ini
luas lansung menghadap laut bebas tentu kalaupun harus kuat kapal tersebut terseret tentu dibawa
arus kelautan yang dalam dan nakhoda masih punya waktu mengendalikan kapalnya ke jalur yang
diinginkan
3. Masalah pengendapan dan pendangkalan itu akan terjadi selamanya, saya memang tidak ahli ilmu lingkungan dan geologi, tapi dengan melihat fenomena alam sedikit banyak saya bisa jelaskan sebagai contoh masyarakat di Riau yang menambang pasir di sungai kampar tempat tertentu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak pernah kekurangan pasir bangunan yang ditambah dari bekas endapan (sedimentasi) artinya material pasir ini akan selalu terbawa arus dari hulu dan mengendap pada ruas sungai tertentu (kalau kasus pelabuhan muara Padang tentunya mengendap pasir, lumpur dan sampah di mulut muara)
Seperti ungkapan ninik kita yang belajar dari alam takambang jadi guru "sakali aia
gadang, sakali tapian berubah" nah begitu juga saya rasa fenomena alam ini sekali
air besar atau arus besar di hulu musim hujan tentunya endapan pasir dan lumpurnya
semakin banyak terbawa ke muara, lama kelamaan terakumulasi (mengendap) maka terjadilah
pendangkalan, ini tidak asing lagi sering kita jumpai di muara pertemuan sungai dan laut
disebut delta atau pulau2 kecil yang timbul akibat endapan pasir yang menumpukm
Sungguh ninik kita telah mengajarkan sebuah kearifan pada kita dengan melihat fenomena
alam tersebut keluarlah ungkapan "sekali air besar datang, maka berubahlah tepian
mandi kita"
4. Dari poin tiga diatas apapun ceritanya kalaupun ada pengerukan sedimentasi
tadi, maka hanya akan mengatasi persoalan sesaat tapi bukan itu saja tentu
aspek keselamatan pelayaran perlu dipertimbangkan karena jalur keluar masuk ke
Dermaga dari dan ke lautan bebas sangat sempit, Jika dulu-dulunya mungkin lalu
lintas pelayaran kapal pulau di kota Padang tidak terlalu sibuk seperti
sekarang dan pendangkalan kalaupun ada tidak mempengaruhi secara teknis
kedalaman muara sungai untuk berlayar kapal bobot tertentu. Jadi mau tidak mau,
suka tidak suka pelabuhan kapal antar pulau yang mengangkut penumpang dan
barang harus pindah ke pelabuhan mungkin pelabuhan khusus di Teluk Bayur
(dibuat dermaga tersendiri) atau di Bungus yang telah ada bersama dermaga kapal
penangkapn ikan
5. Awalnya memang akan menuai protes dengan alasan teluk bayur dan Bungs dari segi
aksebilitas sangat jauh dari Kota Padang sehingga cost transportasi penumpang dan barang
jadi tinggi dibandingkan kalau proses muat bongkar di muara Padang serta
"matinya" pendapatan orang2 yang bekerja di pelabuhan ini baik jasa
pengangkutan barang, muat bongkar, kedai-kedai makanan dan minuman serta penghasilan
lain, tapi kembali lagi ke fenomena perpindahan terminal pada umunya di negara kita
sebagai contoh ketika terminal andalas sekarang menjadi plaza Andalas dipindahkan ke
Bingkuang by pass, betapa maraknya protes dan demo, tapi dengan ketegasan serta
mempertimbangkan ketidaklayakan lagi terminal tersebut lambat laun akhirnya masyarakat
menerima kondisi ini, kita bisa saksikan terminal bus antar kabupaten dan propinsi di by
pass berjalan sebagaimana mestinya dan malah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru
didaerah tersebut.
6. Setelah pindah pelabuhan kapal antar pulau itu, jika ada dianggarkan dana
pengerukan mulut muara maka dilakukan pengerukan untuk menambah kedalaman air
dan membuang sampah2 yang ikut mengendap bersama lumpur dan pasir, lalu
pelabuhan tersebut hanya digunakan buat kapal2 kecil penunjang sarana dan
prasarana parawisata dunia laut dan pantai seperti tempat bersandar yacht,
speedboat fiber dan kayu dan perahu2 nelayan tempatan yang mencari nafkah
menangkap ikan diseputar peraiaran muara padang
7. Bantaran sungai batang arau mulai dari jembatan siti nurbaya sampai muara ditata ulang kembali
dan menjadi satu paket dengan object parawisata pantai muara Padang sekaligus sebagai Kota Tua di
sepanjang batang arau, memang telah ada. Penataan hal tersebut dan telah menampakan hasil
dibandingkan sebelumnya yang semrawut sepanjang bantaran sungai tapi lemahnya pengawasan menjadikan
bantaran sungai tersebut kembali diokupasi oleh bangunan liar, tenda2 makanan asal jadi dan kios2
atau tempat mangkal penjualan BBM, ini perlu ditertibkan lagi, ajak pihak swasta membuaty bangunan
atau kedai-kedai sederhana yang rapi dan indah dipandang mata. Sponsornya seperti produk minuman
terkenal, provider seluler untuk membuat kedai2 makanan dan minuman serta selter2 tempat duduk2
bersantai pengunjung. Kedai tersebut diisi oleh masyarakat tempatan, mereka dibina agar lebih
tertib dan bersih dalam berjualan sepanjang bantaran sungai tersebut, lalu "jinakan"
preman2 yang selama ini mungkin dengan kekuasaan mereka dan main mata dengan aparat maka bisa
tumbuh bangunan dan kedai liar tersebut dimana pemiliknya memberi setoran kepada mereka, nah
"preman" ini dibina dengan memberikan honor perbulan, menjaga keamanan serta insentif
resmi lainnya dengan menguasai lahan parkir misalnya
Dari hal diatas kiranya muara padang dan bantaran sungai arau dengan Kota
Tuanya serta Pantai Muara Padang lebih ditata lagi menjadi kesatuan object
Parawisata di Kota Padang, tidak ada lagi pelabuhan kapal antar pulau disana
dan solusinya di Pindahkan ke Dermaga khusus di Teluk Bayur atau Di Bungus dan
atau di gunakan kedua-keduanya tergantung karakter dan jenis kapal apa yang
bersandar dalam membawa penumpang dan barang.
Demikianlah saran, pendapat dan urun rembuk dari saya, semoga ada manfaatnya
jika ada kekurangan dalam penyampaian saya mohon maaf
***
Pak Saaf semoga memenuhi harapan yang Bapak minta kepada saya, silahkan
disampaikan ke forum2 resmi yang Bapak hadiri dengan unsur2 pimpinan Kota di
Padang
Terima kasih
Wass-Jepe
Kota Pinang, 7 Peb 2010
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe