Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Saaf Yth,

Ado tanyo dari President Singapore Minangkabau Association, apokah buliah kami 
ikuik Kongres ko Pak?

wassalam

Junaidi



----- Forwarded Message ----
From: irianto safari <[email protected]>
To: Junaidi M Zein <[email protected]>; PMS IriantoSafari 
<[email protected]>; Johan PMS <[email protected]>; PMS YennyEunos 
<[email protected]>; Junaidi PMS <[email protected]>
Sent: Mon, February 8, 2010 9:25:06 PM
Subject: Fwd: Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010


Junaidi,

You know anything about this? Anyway we can participate?

Ery


 
________________________________
Luxmail.com - Faster than any other email.


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
--- Begin Message ---
For info.
 
> Date: Fri, 5 Feb 2010 23:27:42 -0500
> Subject: [...@ntau-net] Dari harian singgalang ttg kongres budaya
> From: [email protected]
> To: [email protected]
> 
> AslmWrWb
> 
> Ambo no comment se lah...
> 
> Wassalam
> fitr tanjuang
> lk/35/albany NY
> -------
> Sabtu, 06 February 2010
> 
> Pilkada dan Kongres Kebudayaan Minangkabau
> 
> WISRAN HADI
> 
> Kongres Kebudayaan Minangkabau yang difasilitasi oleh Gebu Minang
> Jakarta, persiapannya sudah memasuki tahap pensosialisasian, mulai
> dari berbagai proposal dan tanggapan mengenai latar belakang,
> gagasan-gagasan, konsideran-konsideran, bahkan juga penentuan
> siapa-siapa saja yang berhak sebagai peserta kongres.
> 
> Semua itu disebar melalui mailing list dan e-mail orang-perorang
> secara berbalasan, mengadakan diskusi khusus (FGD) di Fakultas Sastra
> Unand, wawancara dan siaran pers untuk media massa yang ada di Sumatra
> Barat.
> 
> Dari apa yang dapat dibaca melalui internet dan mass-media, tampaknya
> orang Minang terutama yang bermukim di rantau seakan sudah
> kalimpasiangan dengan keminangkabauan orang Minang. Artinya lagi,
> orang Minangkabau yang ada sekarang diragukan keMinangannya, walau
> kabaunya tidak. Tak tahulah, hal ini sebagai dalih atau ada sesuatu
> maksud yang lain.
> 
> Dalam konteks ini, maka usaha besar yang akan dilakukan para pencinta
> Minangkabau itu dengan mengadakan Kongres Kebudayaan Minangkabau boleh
> jadi cukup relevan. Terutama dalam rancangan keputusan yang sudah
> dibuat, bahwa dari kongres itu diharapkan akan lahir sebuah lembaga
> baru (adat dan syara) yang akan ‘membawahi’ semua organisasi atau
> lembaga adat yang sudah ada seperti LKAAM, KAN, MTKAM, Bundo Kanduang,
> Parik Paga Nagari dan lain sebagainya.
> 
> Artinya di sini, lembaga baru itu diusahakan untuk menjadi induak
> samang dari organisasi atau institusi yang sudah ada jauh sebelum ini.
> Organisasi itulah nanti yang akan ‘memobilisasi’ orang Minang untuk
> me-Minangkan orang Minangkabau masa depan.
> 
> Hal semacam ini tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan. Seperti
> pertanyaan yang pernah diajukan Muchtar Naim (sebagai pakar yang
> diundang) kepada Panitia Kongres Kebudayaan yang difasilitasi oleh
> Dinas Pariwisata dan Kebudayaan beberapa tahun lalu. Pertanyaan yang
> diajukannya adalah; apa maunya Kongres ini?
> 
> Dengan disertai oleh sebuah ungkapan kecurigaan; “tentu ada sesuatu di
> balik kongres ini”.
> 
> Sekarang pertanyaan dan kecurigaan yang sama tentu dapat pula
> diajukan kembali kepada beliau, karena beliau adalah salah seorang
> inisiator/konseptor dari kongres kebuduayaan yang akan diadakan
> pertengahan tahun ini. Mau apa Kongres Kebudayaan ini? Ada apa di
> balik kongres ini?
> 
> Pertanyaan ini menjadi sangat relevan, karena kongres tersebut akan
> diadakan pada pertengahan tahun ini juga, bersamaan pula dengan
> persiapan (kampanye dllnya) Pilkada Sumatra Barat. Tokoh-tokoh Minang
> tertentu yang merasa lai lanteh angan sudah mulai melakukan
> kampanye-kampanye terselubung.
> 
> Perkenalan diri, memberi bantuan dan sumbangan, peduli ini, peduli
> itu, pertemuan ini, diskusi itu, dlsbnya. Bantuan dan kepedulian serta
> berbagai kegiatan tersebut harus dipajang pula sepenuh halaman surat
> kabar agar masyarakat tahu, yang ujung-ujungnya “pilihlah aku”.
> Kongres Kebudayaan Minangkabau yang akan diadakan itu digelar di
> Istana Bung Hatta Bukittinggi pada pertengahan tahun ini, dan waktunya
> sangatlah beriringan dengan Pilkada Sumatra Barat.
> 
> Seandainya dugaan di atas benar; bahwa Kongres Kebudayaan Minangkabau
> yang akan diadakan itu, yang juga akan melahirkan sebuah organisasi
> baru untuk ‘memobilisasi’ lembaga-lembaga dan institusi adat yang ada,
> tentulah untuk kepentingan Pilkada sangat besar sekali artinya. Betapa
> banyak suara yang dapat diraup dari kalangan ninik mamak, alim ulama
> dan cadiak pandai.
> 
> Segala anak kemenakan tentu akan memberi dukungan pada figur utama
> dari pucuk pimpinan organisasi itu yang nanti akan dipilih dalam
> kongres. Bukan tidak mustahil, kongres kebudayaan demikian seumpama
> penyampaian visi dan misi dari salah seorang calon yang akan
> bertarung.
> Saya percaya, andaian seperti ini pasti akan disanggah dan akan
> dianggap salah oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan berbagai
> alasan. Namun yang tidak dapat disanggah adalah; bahwa Kongres
> Kebudayaan Minangkabau 2010 adalah sebuah usaha untuk membentuk
> tatanan sosial yang baru. Boleh jadi akan muncul lagi ‘tiga haji’
> sebagaimana dulu bermulanya Perang Paderi.
> 
> “Kita harus meninggalkan sesuatu yang monumental,” begitu ucapan salah
> seorang tokoh Kongres itu yang dilansir sebuah mass-media.
> 
> Agak-agak hati awak begini sajalah; agar Kongres Kebudayaan
> Minangkabau itu tidak ‘dianggap’ sebagai bentuk baru penyampaian visi
> misi dari seorang calon gubernur, sebaiknya kongres itu diadakan
> sesudah Pilkada Sumbar, sesudah gubernur Sumbar terpilih. Supaya
> kongres yang hebat dan menggetarkan jagad dan alam Minangkabau ini
> bersih dari muatan-muatan politik dan interest-interest perorangan.
> Sebab, yang perlu diyakini adalah; Pilkada Sumbar untuk memilih
> gubernur Sumbar, bukan gubernur Minangkabau. (*)
> 
                                          
_________________________________________________________________
Hotmail: Trusted email with powerful SPAM protection.
https://signup.live.com/signup.aspx?id=60969

--- End Message ---

Kirim email ke