Waalaikumsalam w.w. pak Azmi Dt Bagindo dan Sanak Harman, sarato para sanak 
sapalanta,
Masalah nan diajukan dek Sanak Harman alah dijawab sacaro langkok dek baliau 
pak Azmi Dt Bagindo.  Untuak itu kito ucapkan tarimo kasih nan 
sagadang-gadangnyo kapado baliau.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kito basamo dalam mahadoki maso datang, khususnyo 
dalam malaksanakan ABS SBK.
Tipak di ambo, jawaban tu alah ambo 'download' dan alah ambo 'print'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Tue, 2/9/10, azmi abu kasim azmi abu kasim 
<[email protected]> wrote:


From: azmi abu kasim azmi abu kasim <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Posisi Datuk dalam Budaya Merantau ---> PERLU 
DIRUMUSKAN BAIK-BAIK
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 9, 2010, 3:57 PM








--- Pada Sen, 8/2/10, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis:


Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Judul: Re: [...@ntau-net] Batagak Penghulu --> Posisi Datuk dalam Budaya 
Merantau ---> PERLU DIRUMUSKAN BAIK-BAIK
Kepada: [email protected]
Cc: "Farhan Muin DATUK BAGINDO" <[email protected]>, "azmi datuk bagindo" 
<[email protected]>, "Ir. Raja Ermansyah YAMIN" 
<[email protected]>
Tanggal: Senin, 8 Februari, 2010, 9:15 AM







Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya rasa artikel di bawah ini penting untuk dijawab dan dirumuskan baik-baik. 
Kalau bisa selesai sebelum dimulainya KKMP bulan Juli yang akan datang.

Sambah ambo taruihkan ka pak Farhan Dt Bagindo jo pak Azmi Dt Bagindo.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Fri, 2/5/10, Harman <[email protected]> wrote:


From: Harman <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Batagak Penghulu --> Posisi Datuk dalam Budaya 
Merantau
To: [email protected]
Date: Friday, February 5, 2010, 11:01 AM






ini ada artikel lama terkait penganugerahan gelar Datuk
kepada tokoh masyarakat.

Tak ketinggalan para broker (calo) gelar yang juga memanfaatkan kedekatannya 
dengan tokoh yang bermain tersebut

wah ada lahan bisnis baru ternyata

wassalam,
harman St.Idris-Koto



http://saniangbaka.org/2009/08/24/posisi-datuk-dalam-budaya-merantau/



Posisi Datuk dalam Budaya Merantau


“Penghulu adalah  Raja dalam Negara, Katonyo didanga, pangajarannyo di turuti, 
maanjuang jauh manggantuang tinggi”


Beberapa waktu yang lalu, nagari Saniangbaka mengadakan alek gadang malewakan 
gala penghulu/datuk baru dari suku koto, yaitu Bapak Suryadi Asmi dengan gelar 
Datuk Rajo Nan Sati. Acara batagak gala tersebut berlangsung cukup meriah 
dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting di Sumatera Barat.


Ditengah semaraknya acara tersebut, kembali muncul pertanyaan yang selama ini 
menghantui pikiran penulis. Apa sebenarnya tujuan dan motivasi orang (utamanya 
perantau) untuk diangkat menjadi penghulu? Karena pada tahun 2007 yang lalu, 
dimana pada saat itu juga diadakan prosesi malewakan gala datuk secara masal, 
dimana sebagian dari mereka yang diangkat adalah perantau. Bukan maksud penulis 
menggugat pengangkatan penghulu yang baru saja diadakan, akan tetapi penulis 
melihat kondisi ini terjadi hampir menyeluruh di Minangkabau.


Sebagaimana kita ketahui Datuk merupakan gelar adat tertinggi di Minangkabau, 
seseorang ketika sudah diangkat menjadi datuk oleh suku atau kaumnya 
ditempatkan pada posisi yang terhormat dan mempunyai tanggung jawab yang cukup 
besar terhadap sanak kemenakan/kaumnya. Sebagai pemimpin adat, seorang Datuk 
jamaknya tentu harus mengetahui dan mengerti serta memahami nilai-nilai adat. 
Layaknya ulama yang juga harus paham akan nilai-nilai agama.


Menurut Sumpah Satie Marapalam “Rapat Besar Marapekkan Alam/Sakato Alam  yang 
dihadiri oleh tokoh adat, ulama dan cadiak pandai seluruh Alam Minangkabau” 
yang diadakan di Bukik Marapalam atau Puncak Pato Kab. Tanah Datar, “Penghulu 
adalah  Raja dalam Negara, Katonyo didanga, pangajarannyo di turuti, maanjuang 
jauh manggantuang tinggi”. (Penghulu adalah pemimpin katanya didengarkan, 
petunjuknya diikuti, dan menjatuhkan hukuman serta memberikan penghargaan).


Dalam pelaksanaan tugasnya, seperti yang disampaikan oleh Prof. Damsar Datuk 
Nan Beco, “Guru Besar Sosiologi Universitas Andalas” selain sebagi pemimpin 
adat, seorang datuk mempunyai tugas paripurna dalam kaumnya, mulai dari 
mengurus masalah perkawinan, perceraian, perselisihan, mengelola harta pusaka, 
mendidik dan membina serta membantu menafkahi sanak kemenakannya.


Melihat besarnya tanggung jawab dari seorang datuk, apakah mungkin peran yang 
begitu besar bisa dijalankan oleh mereka yang ada dirantau/perkotaan yang 
identik dengan nilai-nilai modernisasi yang lebih berorientasi pada 
simbol-simbol lahiriah dan material “yang bertolak belakang dengan adat 
Minangkabau”. Sejauhmana sebenarnya fungsi-fungsi itu bisa dijalankan, dan 
sejauhmana usaha mereka berusaha untuk memposisikan diri mereka sebagai seorang 
penghulu, utamanya bagi mereka yang berdomisili di perantauan.  Sebelum 
pertanyaan tersebut terjawab, menarik bila kita coba cari tahu terlebih dahulu, 
apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk menjadi datuk.


Seperti yang kita ketahui dalam dua dekade terakhir, sebagian besar penghulu 
(datuk) yang diangkat, adalah mereka yang sudah sukses diperantauan. Mereka 
yang berdomisili dan berkiprah di rantau, dan sudah mapan secara finansial 
serta memiliki keturunan/tunggua datuk memiliki peluang yang besar untuk 
diangkat. Ada juga gelar datuk yang dilewakan kepada bukan orang Minangkabau, 
contohnya pemberian gelar datuk kepada tokoh-tokoh penting atau tokoh politik 
seperti suami mantan presiden Megawati, Taufik Kiemas, Presiden SBY, dan yang 
terbaru adalah Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin. Dengan mencari-cari 
asal-usul atau tali darahnya, tokoh tersebut diangkat menjadi ninik mamak.


Kalau pada zaman dahulu, tujuan seseorang diangkat menjadi datuk masih jelas 
dan sesuai dengan fungsi yang sesungguhnya, walaupun motif harta pusaka sering 
mengemuka, akan tetapi targetnya jelas. Faktor pendukungnya pun kuat, sepereti 
Datuk yang diangkat umumnya berdomisili di kampung, begitupun dengan sanak 
kemenakan yang akan dipimpinnya, harta pusaka yang akan dikelola-pun tersedia.


Sedangkan untuk saat ini tujuannya sudah agak menyimpang dari faktor-faktor 
yang dikemukakan diatas. Kasus tokoh-tokoh politik yang diangkat menjadi datuk, 
mungkin tidak terlalu sulit bagi kita untuk menebak tujuan mereka, seperti 
seorang calon gubernur Sumbar periode 2005-2010, yang diangkat menjadi datuk 
tiga bulan sebelum pemilihan gubernur diadakan. Begitu pula dengan Taufik 
Kiemas yang diangkat menjadi Datuk pada saat istrinya masih menjabat sebagai 
Presiden, setali tiga uang dengan kasus SBY dan Alex Nurdin. Semua itu jelas 
bermuatan politis dan hanya untuk kepentingan sesaat. Untuk kasus ini menurut 
Yunarti “antropolog Univ. Andalas” merupakan permainan para elite dari suku 
atau nagari yang mempunyai afiliasi politik/kepentingan dengan tokoh-tokoh 
tersebut diatas, dengan mengatasnamakan kaum atau nagari untuk mengambil 
keuntungan dari pemberian gelar tersebut. Tak ketinggalan para broker (calo) 
gelar yang juga memanfaatkan kedekatannya dengan
 tokoh yang bermain tersebut. Ditambah lagi dengan perilaku Ninik mamak urang 
Minang nan suko tagak dinan manang, “Salero condoang ka nan lamak, tuah 
condoang ka nan manang,” siapa yang berkuasa akan dirangkul, dengan 
mencari-cari karik/kedekatan, salah satunya adalah dengan malewakan gala datuk 
tadi.


Dari sisi pewaris datuk sendiri dalam hal ini penulis memilih datuk yang 
berdomisili dirantau, dan digolongkan kedalam masyarakat modern. Seperti yang 
diutarakan oleh salah seorang datuk yang tidak mau disebutkan namanya 
mengatakan, secara pribadi sebenarnya beliau tidak mempunyai keinginan untuk 
menjadi penghulu, akan tetapi dorongan kuat dari ninik mamak dan keluarga-lah 
yang memaksanya untuk memangku jabatan tersebut. Tunggua datuk yang memang 
sudah ada sejak dahulu, dan sudah lama tidak dilanjutkan, atau sesuai 
kesepakatan para ninik mamak dahulu, gelar datuk dalam kaumnya digilir antara 
paruik yang ada dalam kaum tersebut.


Prof. Damsar sendiri dalam kapasitasnya sebagai seorang datuk secara gamblang 
mengatakan, bahwasanya dirinya diangkat menjadi datuk karena dipaksa oleh ninik 
mamak dan keluarga, karena dirinya memang tidak punya keinginan dan menyadari 
tidak dalam kapasitasnya untuk menjabat sebagai penghulu dikaumnya. Mereka yang 
berdomisili di kampuang dan mempunyai pengetahuan yang baik mengenai adatlah 
yang lebih pantas untuk menyandang gelar tersebut.


Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwasanya ninik mamak atau keluargalah 
sebenarnya yang mempunyai keinginan besar untuk mengangkat gelar datuk 
dikaumnya. Bagi mereka tuah datuk merupakan sebuah kebanggaan yang tetap harus 
dipertahankan, terlepas dari ada atau tidaknya harta pusaka yang akan dikelola, 
dan tanpa mempertimbangkan kapasitas sanak kemenakannya apakah memang pantas 
atau mempunyai kemampuan untuk itu. Akibatnya penghulu yang diangkat tidak bisa 
menjalankan fungsinya dengan maksimal, karena semua itu bukan atas kehendak 
pribadinya.


Fungsi dan Peranan yang semakin tergerus
Saat ini terjadi sedikit pergeseran peran dari para penghulu, terutama yang 
berdomisili dirantau, mereka lebih mengarahkan kepada peran intelektual dalam 
pembinaan sanak kemenakannya, berupa pendidikan dan ekonomi. Ruang lingkupnya 
sedikit meluas, bukan hanya sebatas kaum atau suku, tapi nagari. Sedangkan 
untuk peran yang sesungguhnya, seperti pembinaan sanak kemenakan dan 
pengelolaan harta pusaka sangat sulit diharapkan, karena sebagian dari para 
penghulu belum tentu tahu sampai dimana batas ulayat kaumnya serta berapa 
jumlah sanak kemenakannya.


Prof. Damsar menambahkan, bahwasanya untuk saat ini fungsi datuk sebenarnya 
sudah jauh berkurang, justru yang nampak itu hanya sebatas untuk acara 
seremonial saja, seperti baralek, batagak penghulu, serta rapat-rapat adat. 
Tugas peripurna seperti yang disampaikannya sebelumnya untuk saat ini hanya 
sebatas teoritis belaka.


Budaya masyarakat Minangkabau yang suka merantau merupakan salah satu faktor 
penyebab tergerusnya fungsi ninik mamak didalam kaumnya. pepatah minang 
mengatakan: Karatau madang dihulu, babuah baungo balun, Marantau bujang dahulu, 
dikampuang paguno balun. Para generasi muda sebagian besar mempunyai orientasi 
merantau, sehingga mereka yang potensial lebih memilih pergi merantau, setelah 
mapan mereka berkiprah dan menetap diperantauan. Mereka inilah sebenarnya yang 
akan mewarisi pusako dari kaumnya masing-masing.


Budaya merantau mengakibatkan sebaran penduduk suatu kamu menjadi tinggi. 
Kondisi ini dengan sendirinya akan mengurangi peran ninik mamak didalam kaum, 
terutama dalam hal peran mendidik dan membina serta membantu nafkah sanak 
kemenakannya. Sebagaimana kita ketahui, dalam adat Minangkabau, seorang 
suami/urang sumando hanyalah sebagai tamu dalam suatu kaum, diibaratkan sebagai 
abu diateh tunggua sehingga tidak mempunyai tanggung jawab dalam mendidik dan 
menafkahi anak, tanggung jawab itu melainkan berada ditangan mamak. Bagi mereka 
yang dirantau apakah mungkin fungsi itu bisa berjalan, “dikampung saja sangat 
sulit untuk dilaksanakan” akhirnya tentu tanggung jawab itu akan diambil alih 
oleh ayah, “yang memang seharusnya paling bertanggung jawab mendidik dan 
menafkahi anak dan istrinya, dan sesuai dengan ajaran islam.”


Begitupun dalam hal pengelolaan harta pusaka. Saat ini hanya sedikit dari 
penghulu yang masih mengelola harta pusaka kaum(harato kagadangan), seiring 
berkembangnya sanak kemenakan, tentu harta tersebut sudah habis dibagi-bagi, 
atau ada juga yang sudah digadaikan atau dijual oleh ninik mamak sebelumnya.


Selain budaya merantau orang minang, kultur masyarakat yang dinamis dan 
cenderung kearah modernitas secara tidak langsung ikut pula memarginalkan 
fungsi dan peran datuk, yang selama ini memang akrab dengan berbagai macam 
protokoler.


Akan tetapi tergerusnya fungsi dan peranan Datuk, apakah sampai memudarkan 
pesona gelar penghulu tersebut? Ternyata tidak, karena pada kenyataannya sampai 
saat ini tetap saja banyak orang berlomba-lomba untuk meraih gelar terhormat di 
ranah minang tersebut, terlepas dari apa kepentingan yang ada dibelakangnya.
Agustus 24th, 2009 Posted by andisaputra in Barito Nagari | 




   


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. 
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! 
-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke