Uda Muzirman, Pemahaman ambo tentang politik terbatas. Tapi nan ambo katokan "awak" itu - by system - adalah awak sadonyo. Bukankah DPR itu Dewan Perwakilan Rakyat dan anggotanya itu dipilih oleh rakyat? Nah, kalau dalam pelaksanaannya rakyat badarai itu ternyata tidak punya akses (apalagi control) terhadap para wakilnya, itu kelemahan yang harus diatasi.
Tentang "bagaimana mengembalikan uang 2-10M" itu, itu yang manuruik ambo tergantung orangnya. Mungkin ndak sado urang lo nan mangaja keuntungan materi, Da. Itu makonyo ambo kaitkan jo Maslow. Contoh sederhana nyo, misalnyo Padangpanjang. Mau korupsi seperti apa juga, ndak ka kayo bagai pak wali nyo dek itu do, Uda tau berapa APBD nya, berapa GDPnya. Kecuali kalau ndak dibayianyo seluruh gaji pegawai ... :) Contoh lain, ambo pernah mandanga, seorang Helmy Yahya nan mencalonkan diri jadi Wagub (wakil lho, bukan gubernur) Sumsel. HY ko iduiknyo (dalam arti pitih) lah aman 5 tahun kamuko. Tapi toh dia mau jadi calon wagub. Lihat juga walikota Solo yang sebenarnya bisnisnya sudah mapan. Toh dia mau menjadi pejabat publik yang harus berhadapan langsung dengan rakyat badarai. Salah satu yang dia hadapi (dan diatasi) adalah pedagang kaki lima. Ternyata dia berhasil. Saya rasa, buat dia ini jauh lebih "asyik" dibandingkan bagaimana mengembalikan biaya kampanye. Atau, ambo pernah mambaco 2 mantan petinggi Sumatera Barat ikuik Pemilihan Kepala Desa. Apakah mereka memikirkan "kembali modal"? Ambo raso indak Tapi, again, pemahaman ambo tentang politik terbatas, Da ... riri bekasi, l, 47 2010/2/14 Muzirman -- <[email protected]> > Sanak Riri dan sanak sebalairung, > Kalau bisiek ala kadangaran ala ado ciek jo duo info nan cukuik sahih, > sanak kito IJP mengatokan biayo nyo 10-20 milyar, mancubo ambo ma respond > kato Riri, "iko konsekwensi dr system nan awak inginkan, kepala daerah > dipilih lansung, ...........perlu biaya". > Kato "awak" disiko mungkin paralu kito diskusikan, menurut ambo awak disiko > indak tamasuak rakyat badarai,..krn UU/Peraturan tantangan Permilu dan KaDa > nan di buek nyo sekarang sarat dgn kepentingan Parpol nan sadang duduk di > DPR tu. > Mis. Bukankah setiap warga negara berhak utk ambil bagian dalam > penyelenggaraan negara, dan kenapa calon independent harus melalui "lubang > kalam dan kereta parpol",..knp tak lansung berdiri > berkampanye utk jadi KaDa, atau wakil rakyat di DPR tanpa melalui > parpol.....ya krn UU nya dmk. Apakah UU tsb di debatkan dan di pertanyakan > didepan publik (sekedar disosialisasikan ya ada) kalau perlu diadakan > voting. Dengan lubang kalam, parpol itu mintak "honorarium dan fee" nya, > atau bahasa bagus nya biaya pelaksanaan kampanye dll. > Knp UU tidak menetapkan biaya utk parpol secukupnya/se mampunya dan di > umumkan ke publik. > Pertanyaan nya : Bgmn mengembalikan uang yg 2-10 milyar tsb? atau kita ber > pikiran baik,.. biaya itu sebagai pengabdian terhadap kampung halaman,.. > atau sbg beramal ibadah. (unwritten Maslow's law). > Keseimpulan , belum adanya keseimbangan rakyat yg memberi mandat dgn beliau > yg menerima mandat., kondisi keseimbangan ini tercipta kalau salah satunya > "pendidikan rakyat " kita sdh sampai memadai pada tingkat tertentu dan mau > perpartisipasi dlm kehidupan bernegara scr terstruktur. > Utk memciptakan keseimbangan itu . perlu adanya UU Keterbukaan dan > Recall(penarikan kembali wakil rakyat). Bisakah rakyat badarai mengetahui > kehadiran wakil rakyat di DPR?,Bisakah rakyat badarai > mengusulkan recall krn kinerja nya yg tidak merakyat dll.? kelihatannya > jauh panggang dari api. Apalagi mengetahui wakil kita memimilh apa dalam > process pembentukkan UU tertentu. > Mudah2an keterbukaan itu mulai beringsut , kita harapkan keterbukaan yg > membuka mata rakyat terus > mengelinding kedepan utk masa depan yg lbh baik. InsyaAllah. > > Wass. Muzirman Tanjung > > -------------------------------------------------------------------------------------------------- > 2010/2/13 Riri Chaidir <[email protected]> > >> Uda Muzirman, >> >> Kalau ambo mancubo bapikia nan positif2, iko kan konsekuensi dari sistem >> nan awak inginkan, kepala daerah dipilih langsung. Nah, dalam proses ko kan >> paralu biaya. >> >> Tentang bara sesungguhnya biaya tu, kama larinyo, dan dari ma pitihnyo, yo >> iko sadonyo merupakan bagian dari sistem itu. >> >> Tentang "ini ada daya tarik tersendiri" mungkin sajo Da. Kalau ambo pacayo >> jo Maslow's hierarhy of needs. >> >> Riri >> Bekasi, l, 47 >> >> >> >> -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
