Uda Abraham, Ephi, dan Dunsanak Sadonyo.

Kalau ambo liek, sabananyo para birokrat di daerah itu bukan anti IT, tapi
tergantung seberapa bisa para pakar IT (entah itu pakar teknologi atau
supplier) meyakinkan mereka mengenai cost benefit nya. Urusan tekonologi apa
dan bagaimana teknisnya buat mereka urusan ke sekian, juga masalah cost
dalam arti pitih. Yang lebih penting bagi mereka adalah apakah seberapa
besar manfaat yang dapat diperoleh dikaitkan dengan pemenuhan peraturan
perundangan dan data dan system security (*iko nan manjadi concern Uni Isna
tadi malam). Tapi maaf, saya bukan orang IT. Kesimpulan saya tentang di
alinea pertama di atas saya dapat waktu bantu2 Depdagri menyiapkan SIPKD
(Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah).*

Untuk Sumbar, menurut saya yang harus ditawarkan bukan e-vote nya, tapi
sekian banyak peluang yang bisa diambil dari SIN yang dibuat Kemdagri
berdasarkan UU 23/2006 tentang Adminduk. Kan sistem sampai dengan NIK itu
dari Depdagri, mungkin juga KTP nya juga. Nah, *tinggal meneruskan saja toh?
*

Kalau cuma e-vote, mungkin tidak begitu menarik, karena - sampai saat ini
-tidak sesuai dengan peraturan perundangan. UU 32/2004 tentang Pemerintahan
Daerah jelas2 menggunakan kata "mencoblos" (pasal 88). Saya baca DPR katanya
tertarik dengan e-vote ini, dan akan membahas perubahan UU 32/2004. Tapi itu
kan ga tau kapan waktunya. Jembrana mencoba mengambil jalan yang lebih
pendek, dengan meminta uji materi ke MK, tapi hasilnya belum keluar (setahu
saya).

Kalau teknologinya sebetulnya tidak terlalu baru dan canggih juga.
Supermarket malah lebih rumit. Untuk media input, touch screen itu kan biasa
dipakai restoran dan ATM. Bahkan saya melihat di beberapa supermarket sekian
input media terpakai sekaligus: membaca harga yang menggunakan barcode,
kalau barcode nya tidak ketemu mereka  cari di touchscreen atau pakai
keyboard, waktu kita membayar pakai kartu, card reader nya bisa membaca data
yang di *magnetic strip* dan juga bisa membaca *chips*. Dan jumlah pembeli
di supermarket mungkin lebih banyak dibanding pemilih pilkadus; jenis
barangnya malah jauh lebih banyak dibanding jumlah calon Kadus, kan? E-vote
dimana2 di dunia menggunakan teknologi Diebold, yang justru lebih terkenal
dalam urusan transaksi perbankan/ ATM.

Jadi tinggal meyakinkan birokrat bahwa hasil dari IT - bukan IT nya sendiri
- itu bermanfaat luas untuk mereka. Kalau IT nya sendiri dijelaskan, ya
mungkin saja mereka resist.

Riri
Bekasi, l 47


2010/2/14 Abraham Ilyas <[email protected]>

> Dnda Ephi Lintau
>
> Kini kan alah ado Biro Rantau di Kantua Gubernur, mungkin apo apo nan
> dipostingkan/didiskusikan di Palanta iko, insyaalah lai manjadi perhatian
> (dibaco) mereka pulo !
>
> Salam
>
> Abraham Ilyas
>
>
>  --
>

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke