Mengungkap Nasionalisme "Kolonel Pembangkang"

Dec 13, '06 6:05 AM



Judul : Perlawanan Seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein,

Penulis: Mestika Zed dan Hasril Chaniago,

Penerbit : Sinar Harapan, Jakarta 2001,

Tebal : (xvi + 489) halaman



SALAH satu sisi menarik dari kajian sejarah adalah aspek dinamis dari
interpretasi sejarawan. Seorang sejarawan memiliki kebebasan untuk
memperlakukan fakta berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Di atas itu semua,
kajian sejarah kontemporer umumnya ditulis dengan suatu misi yang sarat
beban.



Pertama, keinginan untuk menempatkan sejarah sebagai ilmu yang bebas dari
kepentingan dan konflik. Itu mengacu pada objektivitas.

Kedua, meluruskan sejarah dengan sumber dan interpretasi si pelaku. Ini
sifatnya inward looking.

Demikian halnya dengan buku ini. Sebagai sebuah biografi, ia ingin
menghadirkan sejarah menurut pelakunya sendiri.



Dalam penulisan sejarah Orde Baru, peristiwa Pemerintah Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI) diberi stigma "pemberontakan"; sesuatu yang
setidaknya hingga akhir tahun 1970-an menimbulkan perasaan traumatik dalam
diri masyarakat Sumatera Barat. Perasaan rendah diri sebagai komunitas yang
telah dikalahkan dan dengan sendirinya selalu dipojokkan. Mentor dari
peristiwa itu, Ahmad Husein, dalam pelajaran di sekolah-sekolah dicap
sebagai "pemberontak".

***



BUKU Perlawanan Seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein yang sarat
dengan misi ini terdiri dari dua belas bagian. Pada prolog dipaparkan bahwa
biografi ini disusun untuk menjawab pertanyaan siapakah Ahmad Husein;
pahlawan ataukah pemberontak? Dan segera ditutup dengan suatu harapan buku
ini dapat menjadi salah satu jendela untuk memahami sejarah Sumatera Barat
pada umumnya.



Bagian pertama, kedua, dan, ketiga dari buku ini membicarakan sang tokoh
dari riwayat masa kecil, remaja, hingga karier awalnya dalam militer. Ahmad
Husein dilahirkan di Padang pada 1 April 1925, dalam lingkungan keluarga
usahawan Muhammadiyah. Pada tahun 1943 di usia yang masih sangat muda (18
tahun), Husein bergabung dengan Gyugun.



Berkat kecerdasan dan keterampilannya, ia menjadi perwira termuda Gyugun di
Sumatera Barat. Pada saat revolusi, Husien aktif merekrut anggota Badan
Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadikan rumah orangtuanya sebagai markas
sementara BKR.



Selanjutnya, perannya dalam perjuangan makin menonjol ketika ia menjadi
Komandan Kompi Harimau Kuranji dan kemudian Batalyon I Padang Area. Pasukan
Harimau Kuranji begitu populer karena keberaniannya di medan pertempuran
menghadapi Inggris dan Belanda.

Bagian keempat dan kelima mengungkap meroketnya Divisi IX/banteng sebagai
kesatuan terbaik di Sumatera pada masa revolusi fisik. Pada pertengahan
tahun 1947 terjadi reorganisasi tentara, Husein dipromosikan menjadi
Komandan Resimen III/Harimau Kuranji yang membawahi tiga ribu pasukan.



Kekecewaan Ahmad Husein dan kawan-kawan bermula ketika Tentara Republik
Indonesia (TRI) berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Konsekuensinya, terjadi efisiensi berupaya penyusutan jumlah anggota
besar-besaran. Husein sendiri merelakan dirinya turun pangkat dari Letkol ke
Mayor. Pada masa agresi militer Belanda II, Husein bersama anak buahnya
berhasil mengamankan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari
serangan Belanda. Kontak bersenjata menghadapi Belanda beberapa kali
terjadi. Dalam pertempuran di Lubuak Selasih 11 Januari 1949, pasukan Husein
memperoleh kemenangan.



Di sela-sela perjuangan itulah pada tahun 1951 Husein memasuki fase kedua
kehidupannya dengan menyunting Desmaniar, putri Jaksa Idroes.

Bagian keenam dan seterusnya lebih banyak mengungkap Dewan Banteng dan
keterlibatan Ahmad Husein dalam PRRI. Prakondisi Peristiwa PRRI yang terjadi
sesungguhnya dapat dilacak ketika terjadinya polarisasi Jawa-luar Jawa,
dalam realitas politik nasional waktu itu.



Hasil Pemilu 1955 menunjukkan bahwa hanya empat partai saja yang memiliki
suara yang cukup signifikan, yakni PNI 22 persen, Masyumi 21 persen, NU 18
persen, dan PKI 16 persen.



Tiga partai rulling minorities, PNI, NU, dan PKI adalah partai yang memiliki
basis massa yang kuat di Jawa. Sementara, Masyumi untuk sebagian besar
memiliki banyak pendukung di luar Jawa.



Konfigurasi dan polarisasi politik Indonesia hasil Pemilu 1955 ini, kelak
dapat memberikan penjelasan ketika terjadi pergolakan daerah, di mana
terjadi konflik politik-dan juga militer-antara pemerintah pusat di Jawa
dengan daerah-daerah di Sumatera dan Sulawesi (PRRI/ Permesta) (hlm 147).



Dewan Banteng adalah jembatan yang mengantarkan Husein masuk ke jajaran
elite daerah yang memiliki akses ke tingkat nasional. Reuni eks Divisi
Banteng beralih pada persoalan yang lebih luas. Peserta menuntut
dilaksanakannya segera perbaikan-perbaikan yang progresif dan radikal di
segala lapangan, terutama di dalam pimpinan negara dengan jaminan-jaminannya
demi keutuhan Negara Republik Indonesia.



Ahmad Husein mengambil alih kekuasaan pemerintahan di Sumatera Tengah pada
tanggal 20 Desember 1956. Tindakan Husein segera memancing daerah lain;
Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi, dan Kalimantan, untuk melakukan
langkah serupa.



Tanggal 10 Februari 1958, Ahmad Husein atas nama Dewan Perjuangan
mengeluarkan "Piagam Perjuangan" yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Di
dalamnya, ada limit waktu yang harus diperhatikan oleh pusat.



Setelah limit waktu yang diberikan terlewati, lima hari kemudian melalui
siaran RRI Husein mengumumkan PRRI. Eksperimentasi Dewan Banteng dalam
menjalankan roda pemerintahan secara darurat dalam beberapa hal meningkatkan
perekonomian masyarakat.



Perlawanan Husein terhadap pemerintah pusat bukanlah untuk memisahkan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan membentuk negara sendiri.
Sebagaimana dilaporkan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Departemen
Luar Negeri di Washington, Husein mengatakan kepada Hatta, "Kami di Sumatera
Tengah, akan berjuang terus untuk mencari Indonesia yang adil dan makmur.
Kami akan membuktikan kepada mereka yang tidak percaya bahwa gerakan ini
justru mendukung Negara Kesatuan Indonesia (hlm 209).

***



SESUNGGUHNYA yang terpenting dari biografi Ahmad Husein ini adalah bahwa
nasionalisme bukanlah merupakan sikap membabi buta tanpa reserve.
Nasionalisme dapat ditunjukkan melalui sikap kritis terhadap ketidakbenaran
dan kesewenang-wenangan. Dalam bahasa yang lebih keras, pembangkangan Ahmad
Husein terhadap pemerintah pusat merupakan kewajiban patriot manakala amanah
telah diselewengkan pimpinan negara.



Pertanyaan yang sampai sekarang masih menggelayuti pikiran orang adalah:
kalau begitu siapakah Ahmad Husein? Pahlawankah atau pemberontak?



Pertanyaan itu sungguh menarik karena berbicara tentang aspek normatif.
Apalagi di tengah kuatnya daerah-sebagai konsekuensi otonomi
daerah-menampilkan tokoh-tokoh lokalnya.



Dalam buku ini jawaban atas pertanyaan itu tidak dibaca secara eksplisit.
Penulis menawarkan bacaan yang berdasarkan fakta. Soal interpretasi
diserahkan pada diri masing-masing. Mendudukkan peran seseorang dalam
bingkai sosial politik tertentu memang terkadang menyesatkan.



Buku ini menarik untuk dibaca karena ditulis dengan bahasa populer tanpa
meninggalkan bobot keilmiahannya. Apalagi penggalian sumber informasi begitu
ekstensif, dan penulisannya pun tidak tergesa-gesa: perlu waktu dua tahun,
1999-2001.



Sebagai sebuah biografi, buku ini menceritakan konflik-konflik psikologis
yang dialami Husein. Di sini dapat kita lihat bahwa Husein bersetia dengan
kawan-kawannya. Suatu ketika, setelah gerakan PRRI dilumpuhkan oleh pusat,
dia dipanggil Presiden Soekarno yang akan membebaskan dan memberikannya
jabatan. Husein menjawab, kalau dia dibebaskan seluruh teman-temannya harus
juga dibebaskan (hlm 385).



Nilai yang dapat diambil dari sosok Husein adalah konsistensi dalam
menegakkan nilai-nilai. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Mohammad
Natsir. Pada suatu ketika Buya Natsir ditanya orang tentang kegagalannya
dalam politik riil, ia mengatakan, "Kita boleh kalah dalam
pertempuran-pertempuran, tetapi tidak boleh kalah dalam peperangan".



Term "pertempuran" yang digunakan Mohammad Natsir itu bukanlah kontak
senjata, melainkan suatu tahap perjuangan. Dalam satu dua tahap boleh kalah,
tetapi pada akhirnya perjuangan mesti berhasil juga. Berjuang itu butuh seni
dan kesabaran. Apalagi di alam yang kian demokratis ini.



(Iim Imadudin, staf Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang )

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke