Bung Andiko, biografi Letkol Ahmad Husein ini perlu dibaca, dan sudah barang 
tentu harus dikritisi. Kebetulan saya sudah pernah membacanya. Mungkin baik 
juga kita baca biografi dari tokoh-tokoh sezaman dengan beliau, a.l. biografi 
Kaharuddin Dt Rangkayo Basa, yang walaupun setuju dengan Dewan Banteng, namun 
menolak PRRI.

Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Tue, 2/16/10, andi ko <[email protected]> wrote:

From: andi ko <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Mengungkap Nasionalisme "Kolonel Pembangkang"
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 16, 2010, 8:38 AM





Mengungkap
Nasionalisme "Kolonel Pembangkang"      

Dec
13, '06 6:05 AM

 

Judul
: Perlawanan Seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein,

Penulis:
Mestika Zed dan Hasril Chaniago,

Penerbit
: Sinar Harapan, Jakarta 2001,

Tebal
: (xvi + 489) halaman

 

SALAH
satu sisi menarik dari kajian sejarah adalah aspek dinamis dari interpretasi
sejarawan. Seorang sejarawan memiliki kebebasan untuk memperlakukan fakta
berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Di atas itu semua, kajian sejarah
kontemporer umumnya ditulis dengan suatu misi yang sarat beban.

 

Pertama,
keinginan untuk menempatkan sejarah sebagai ilmu yang bebas dari kepentingan
dan konflik. Itu mengacu pada objektivitas.

Kedua,
meluruskan sejarah dengan sumber dan interpretasi si pelaku. Ini sifatnya
inward looking.

Demikian
halnya dengan buku ini. Sebagai sebuah biografi, ia ingin menghadirkan sejarah
menurut pelakunya sendiri.

 

Dalam
penulisan sejarah Orde Baru, peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) diberi stigma "pemberontakan"; sesuatu yang
setidaknya hingga akhir tahun 1970-an menimbulkan perasaan traumatik dalam diri
masyarakat Sumatera Barat. Perasaan rendah diri sebagai komunitas yang telah
dikalahkan dan dengan sendirinya selalu dipojokkan. Mentor dari peristiwa itu,
Ahmad Husein, dalam pelajaran di sekolah-sekolah dicap sebagai
"pemberontak".

***

 

BUKU
Perlawanan Seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein yang sarat dengan
misi ini terdiri dari dua belas bagian. Pada prolog dipaparkan bahwa biografi
ini disusun untuk menjawab pertanyaan siapakah Ahmad Husein; pahlawan ataukah
pemberontak? Dan segera ditutup dengan suatu harapan buku ini dapat menjadi
salah satu jendela untuk memahami sejarah Sumatera Barat pada umumnya.

 

Bagian
pertama, kedua, dan, ketiga dari buku ini membicarakan sang tokoh dari riwayat
masa kecil, remaja, hingga karier awalnya dalam militer. Ahmad Husein
dilahirkan di Padang pada 1 April 1925, dalam lingkungan keluarga usahawan
Muhammadiyah. Pada tahun 1943 di usia yang masih sangat muda (18 tahun), Husein
bergabung dengan Gyugun.

 

Berkat
kecerdasan dan keterampilannya, ia menjadi perwira termuda Gyugun di Sumatera
Barat. Pada saat revolusi, Husien aktif merekrut anggota Badan Keamanan Rakyat
(BKR) dan menjadikan rumah orangtuanya sebagai markas sementara BKR.

 

Selanjutnya,
perannya dalam perjuangan makin menonjol ketika ia menjadi Komandan Kompi
Harimau Kuranji dan kemudian Batalyon I Padang Area. Pasukan Harimau Kuranji
begitu populer karena keberaniannya di medan pertempuran menghadapi Inggris dan
Belanda.

Bagian
keempat dan kelima mengungkap meroketnya Divisi IX/banteng sebagai kesatuan
terbaik di Sumatera pada masa revolusi fisik. Pada pertengahan tahun 1947
terjadi reorganisasi tentara, Husein dipromosikan menjadi Komandan Resimen
III/Harimau Kuranji yang membawahi tiga ribu pasukan.

 

Kekecewaan
Ahmad Husein dan kawan-kawan bermula ketika Tentara Republik Indonesia (TRI)
berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Konsekuensinya, terjadi
efisiensi berupaya penyusutan jumlah anggota besar-besaran. Husein sendiri
merelakan dirinya turun pangkat dari Letkol ke Mayor. Pada masa agresi militer
Belanda II, Husein bersama anak buahnya berhasil mengamankan Pemerintah Darurat
Republik Indonesia (PDRI) dari serangan Belanda. Kontak bersenjata menghadapi
Belanda beberapa kali terjadi. Dalam pertempuran di Lubuak Selasih 11 Januari
1949, pasukan Husein memperoleh kemenangan.

 

Di
sela-sela perjuangan itulah pada tahun 1951 Husein memasuki fase kedua
kehidupannya dengan menyunting Desmaniar, putri Jaksa Idroes.

Bagian
keenam dan seterusnya lebih banyak mengungkap Dewan Banteng dan keterlibatan
Ahmad Husein dalam PRRI. Prakondisi Peristiwa PRRI yang terjadi sesungguhnya
dapat dilacak ketika terjadinya polarisasi Jawa-luar Jawa, dalam realitas
politik nasional waktu itu.

 

Hasil
Pemilu 1955 menunjukkan bahwa hanya empat partai saja yang memiliki suara yang
cukup signifikan, yakni PNI 22 persen, Masyumi 21 persen, NU 18 persen, dan PKI
16 persen.

 

Tiga
partai rulling minorities, PNI, NU, dan PKI adalah partai yang memiliki basis
massa yang kuat di Jawa. Sementara, Masyumi untuk sebagian besar memiliki
banyak pendukung di luar Jawa.

 

Konfigurasi
dan polarisasi politik Indonesia hasil Pemilu 1955 ini, kelak dapat memberikan
penjelasan ketika terjadi pergolakan daerah, di mana terjadi konflik
politik-dan juga militer-antara pemerintah pusat di Jawa dengan daerah-daerah
di Sumatera dan Sulawesi (PRRI/ Permesta) (hlm 147).

 

Dewan
Banteng adalah jembatan yang mengantarkan Husein masuk ke jajaran elite daerah
yang memiliki akses ke tingkat nasional. Reuni eks Divisi Banteng beralih pada
persoalan yang lebih luas. Peserta menuntut dilaksanakannya segera
perbaikan-perbaikan yang progresif dan radikal di segala lapangan, terutama di
dalam pimpinan negara dengan jaminan-jaminannya demi keutuhan Negara Republik
Indonesia.

 

Ahmad
Husein mengambil alih kekuasaan pemerintahan di Sumatera Tengah pada tanggal 20
Desember 1956. Tindakan Husein segera memancing daerah lain; Sumatera Utara,
Sumatera Selatan, Sulawesi, dan Kalimantan, untuk melakukan langkah serupa.

 

Tanggal
10 Februari 1958, Ahmad Husein atas nama Dewan Perjuangan mengeluarkan
"Piagam Perjuangan" yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Di
dalamnya, ada limit waktu yang harus diperhatikan oleh pusat.

 

Setelah
limit waktu yang diberikan terlewati, lima hari kemudian melalui siaran RRI
Husein mengumumkan PRRI. Eksperimentasi Dewan Banteng dalam menjalankan roda
pemerintahan secara darurat dalam beberapa hal meningkatkan perekonomian
masyarakat.

 

Perlawanan
Husein terhadap pemerintah pusat bukanlah untuk memisahkan diri dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan membentuk negara sendiri. Sebagaimana
dilaporkan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri di
Washington, Husein mengatakan kepada Hatta, "Kami di Sumatera Tengah, akan
berjuang terus untuk mencari Indonesia yang adil dan makmur. Kami akan
membuktikan kepada mereka yang tidak percaya bahwa gerakan ini justru mendukung
Negara Kesatuan Indonesia (hlm 209).

***

 

SESUNGGUHNYA
yang terpenting dari biografi Ahmad Husein ini adalah bahwa nasionalisme
bukanlah merupakan sikap membabi buta tanpa reserve. Nasionalisme dapat 
ditunjukkan
melalui sikap kritis terhadap ketidakbenaran dan kesewenang-wenangan. Dalam
bahasa yang lebih keras, pembangkangan Ahmad Husein terhadap pemerintah pusat
merupakan kewajiban patriot manakala amanah telah diselewengkan pimpinan
negara.

 

Pertanyaan
yang sampai sekarang masih menggelayuti pikiran orang adalah: kalau begitu
siapakah Ahmad Husein? Pahlawankah atau pemberontak?

 

Pertanyaan
itu sungguh menarik karena berbicara tentang aspek normatif. Apalagi di tengah
kuatnya daerah-sebagai konsekuensi otonomi daerah-menampilkan tokoh-tokoh
lokalnya.

 

Dalam
buku ini jawaban atas pertanyaan itu tidak dibaca secara eksplisit. Penulis
menawarkan bacaan yang berdasarkan fakta. Soal interpretasi diserahkan pada
diri masing-masing. Mendudukkan peran seseorang dalam bingkai sosial politik
tertentu memang terkadang menyesatkan.

 

Buku
ini menarik untuk dibaca karena ditulis dengan bahasa populer tanpa
meninggalkan bobot keilmiahannya. Apalagi penggalian sumber informasi begitu
ekstensif, dan penulisannya pun tidak tergesa-gesa: perlu waktu dua tahun,
1999-2001.

 

Sebagai
sebuah biografi, buku ini menceritakan konflik-konflik psikologis yang dialami
Husein. Di sini dapat kita lihat bahwa Husein bersetia dengan kawan-kawannya.
Suatu ketika, setelah gerakan PRRI dilumpuhkan oleh pusat, dia dipanggil
Presiden Soekarno yang akan membebaskan dan memberikannya jabatan. Husein
menjawab, kalau dia dibebaskan seluruh teman-temannya harus juga dibebaskan
(hlm 385).

 

Nilai
yang dapat diambil dari sosok Husein adalah konsistensi dalam menegakkan
nilai-nilai. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Mohammad Natsir. Pada suatu
ketika Buya Natsir ditanya orang tentang kegagalannya dalam politik riil, ia
mengatakan, "Kita boleh kalah dalam pertempuran-pertempuran, tetapi tidak
boleh kalah dalam peperangan".

 

Term
"pertempuran" yang digunakan Mohammad Natsir itu bukanlah kontak
senjata, melainkan suatu tahap perjuangan. Dalam satu dua tahap boleh kalah,
tetapi pada akhirnya perjuangan mesti berhasil juga. Berjuang itu butuh seni
dan kesabaran. Apalagi di alam yang kian demokratis ini.

 

(Iim
Imadudin, staf Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang )



-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke