Menyigi Peluang Wisata Sumbar
BERAPA jumlah negara di dunia? Mengacu daftar anggota perserikatan 
bangsa-bangsa (PBB), negara sejagad berjumlah 192. Akan tetapi, jawaban 
persisnya adalah sebanyak 195 buah, karena masih terdapat perbedaan pendapat 
tentang Negara Vatikan, Kosovo dan Taiwan. Dari angka ini, hanya tujuh daerah 
di antara 195 negara tersebut, menganut sistem matrilinial. 
Daerah tersebut yakni, suku Yahudi di Negara Israel, suku Indian (di Apache 
Barat), suku Navajo, sebagian besar suku Pueblo, suku Crow dan lainnya (yang 
kesemuanya adalah penduduk asli Amerika Serikat). Selanjutnya, suku Khasi (di 
Meghalaya, India Timur Laut), suku Nakhi dan Yunnan (di Provinsi Sichuan, 
Tiongkok), beberapa suku kecil di kepulauan Asia Pasifik dan suku Minangkabau 
(di Sumatera Barat, Indonesia). Khusus Minangkabau, sangat terkenal di kalangan 
antropolog sebagai penganut sistem matrilineal terbesar di dunia.
Jika tujuh daerah ini dianalogikan dengan seorang manusia yang mengenakan 
kostum serba hitam, kemudian berdiri di antara 188 orang yang berkostum serba 
putih, tentu yang tujuh ini akan menjadi pusat perhatian. Minangkabau sebagai 
sebuah daerah terbesar yang menganut sistem matrilinial, kenapa tidak bisa 
menjadi perhatian dunia? Seandainya bisa menjadi perhatian dunia, tentu angka 
kunjungan wisatawan manca negera menjadi berlipat ganda. 
Iven Tour de Singkarak 2010 yang akan di helat 1-6 Juni 2010 dengan peserta 
dari 20 negara, seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mempromosikan fakta 
‘keganjilan’ yang kita miliki ini. Departemen Pariwisata RI yang menjalin 
kerjasama dengan pemprov dan tujuh pemerintah tingkat kabupaten/kota di Sumbar 
seharusnya mulai berpikir, cara (kita) untuk mempromosikan ‘keganjilan’ kita 
ini di rute sejauh 700 km yang akan dilalui peserta dengan perkiraan anggota 
tim sebanyak 3 ribu orang. Terutama di Kota Padang, Padangpariaman, Maninjau 
(Agam), Bukittinggi, Padangpanjang, Sawahlunto dan Singkarak (Kabupaten Solok).
Kepala daerah terutama kepala Dinas Pariwisata, jangan lagi terkungkung dalam 
konsep wisata sebagaimana diterapkan Provinsi Bali. Di Pulau Dewata ini, yang 
menjadi andalan adalah anak-anak muda yang biasanya diistilahkan dengan 
wisatawan backpackers. Dengan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi 
kitabullah yang dianut masyarakat Minang, jika berpikir untuk meraih wisatawan 
dengan titel backpackers ini, tentu akan merusak tatanan budaya yang telah 
susah payah kita pertahankan ini. Biasanya, packpackers ini menganut paham 
hidup bebas dalam artian sebebas-bebasnya.
Lalu, wisatawan seperti apa yang akan kita kejar? Tentu masih banyak 
klasifikasi wisatawan yang bisa kita bidik. Mulai dari peneliti, penikmat 
budaya, mahasiswa dan lainnya. Jika tak salah, wisatawan kategori ini lebih 
‘beruang’ ketimbang backpackers. Selain itu, mereka lebih polite dan bisa 
diarahkan untuk menghormati adat-istiadat yang urang awak anut dan yakini. 
Peran pemerintah selanjutnya, memastikan iven terselenggara secara terjadwal 
dan berkesinambungan di titik-titik daerah yang dijadikan jualan. Sehingga, 
kedatangan mereka (wisatawan) tersebut lebih bermakna. 
Sudah saatnya, kepala daerah dan pejabat yang mengurusi persoalan wisata ini, 
untuk berpikir out the box (keluar dari tempurung-red). Jangan lagi berpikir, 
untuk sekedar menjual kemolekan alam yang sebagian besar sudah digerus oleh 
tangan-tangan jahil dalam praktek illegal logging, illegal mining dan tindakan 
perusakKan alam lainnya.Berpikir out the box ini, sudah dimulai oleh sejumlah 
biro jasa wisata. Sekedar menyebut nama, mungkin oleh Ridwan Tulus melalui 
Sumatera and Beyond-nya atau kakanda Nofend yang baru saja sukses dengan iven 
kayak di Solsel. Tinggal penguatan dari pemerintah yang belum ada. (*)




      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke