Dunsanak di palanta nan ambo hormati. Mungkin karano *baru kini* kito mandapek pituah "*Boleh dimaafkan, tapi jangan dilupakan*" mako kito salamo iko alah lupo jo peristiwa penting nan juo terjadi tanggal *15 Februari, tapi tahun 1949.*
Pada tanggal tersebut terjadi pembunuhan *67 orang pemimpin SB* oleh tentara Belanda. Peristiwa iko terjadi karena pengkhianatan oleh Tambiluak. Ambo copykan curitonyo (meskipun alah telat seminggu) dari buku: Sejarah Minangkabau karangan M.D Mansoer dkk. *Pemerintah Militer Sumatera Barat menginsjafi perlu meningkatkan kewaspadaan dan Memperketat koordinasi serta kerdjasama antara badan2 perdjuangan rakjat dengan Pemerintah, maupun antara badan2 perdjuangan itu dengan sesamanja. Guna mentjapai tudjuan itu dikandung niat oleh Pemerintah Militer Sumatera Barat untuk mengadakan rapat besar, jang akan dihadiri oleh segala utusan organisasi perdjuangan rakjat seluruh Sumatera Barat. Sebagai tanggal ditentukan 15 Pebruari 1949 dan nagari Situdjuh Batur diluhak L-Koto ditentukan sebagai tempat musjawarah. Selain wakil2 organisasi perdjuangan rakjat, wakil2 Pemerintah Daerah dan Brigade Banteng akan ikut pula serta. Sungguhpun rahasia waktu dan tempat diadakan pertemuan itu dipegang teguh, namun botjor djuga. Situdjuh Batur terletak dilembah sempit dikaki G. Sago, berbatasan dengan padang rumput sepi, Padang Siantah. Pos pertahanan Belanda terdekat lk 12 km letaknja dari tempat musjawarah besar itu akan diadakan. Sedjak tanggal 14 Pebruari malam utusan utusan telah berdatangan dan berkumpul di Situdjuh Batur. Banjak diantaranja datang berdjalan kaki dari tempat tempat jang ratusan kilometer djauhnja. Djadi tidaklah mengherankan, kalau mereka setiba di Situdjuh Batur sangat letih dan ingin beristirahat, supaja segar apabila rapat dibuka kelak. Pertjaja penuh pada pengawalan dan djaminan keamanan tempat itu, para utusan tidur tanpa tjuriga dan was2. Seorang mata2 Belanda telah menjampaikan informasi tentang pertemuan penting jang akan diadakan di Situdjuh Batur dan dibawah lindungan malam jang gelap, pasukan2 Belanda melakukan pengepungan jang ketat disegala "djalan kuda" jang menudju ke Padang Siantah. Tanggal 15 Pebruari 1949 pagi2 buta, ketika para utusan telah mulai bangun dan sembahjang subuh, tembakan2 gentjar terdengar dari segala pendjuru. Tentara Belanda menghudjani tiap2 rumah dengan muntahan peluru dan menembaki tiap2 jang bergerak. Se¬banjak 67 orang utusan dan pemimpin rakjat mendjumpai adjalnja, diantaranja Chatib Sulaiman (ketua Markas Pertahanan Rakjat Daerah), Arisun (bupati L-Koto) jang baru sadja beberapa hari memangku jabatannja, Kapten Zainuddin "Tembak" dari Sawah Loento, Major Moenir Latif, sedangkan jang bisa lolos dari peristiwa itu ialah Letkol Dahlan Ibrahim, Letkol Thalib, Ruslan Saleh (kelak menjadi dosen Fak Hukum di UGM). Tjerita duka dari Situdjuah Batur merupakan pengalaman pahit dan mahal bagi perdjuangan rakjat Sumatera Barat ketika mempertahankan ibu pertiwi. *Salam Abraham Ilyas www.nagari.org Sejarah adalah guru kita hari ini -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
