*Maaf, manyalo saketek pak Abraham dan Sanak Ahmad Ridha. Oleh karena topiknya sudah beda, bagaimana kalau dibuat judul baru ?
*Dunsanak di palanta nan ambo hormati. Assalamualaikum Wr.Wb. Karano ambo alah diminta oleh Pak Saaf sarupo kalimat nan dikutip di ateh, mako ambo buek judulbaru untuak baiyo batido satantangan thread (benang) nan dirantang oleh angku Fitr Tanjuang dan disingguang oleh angku Ahnad Ridha sarato Malin Mancayo. Untuak itu ambo copykan bagian dari artikel DR. Raudha Thaib (Ny. Wisran Hadi) nan dilelewakan melalui: http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=109 Mungkin iko nan bisa pulo bahan referensi KKMK karano ado disabuik sabuik ABS SBK. Salam Abraham Ilyas * *Telah dibaca oleh: 4839 orang.BUDAYA MINANGKABAU MENYERAP KEMAJUAN DAN IPTEK Dikarang oleh : DR. Raudha Thaib Pendahuluan Setiap suku bangsa atau etnik manapun, mempunyai cara atau landasan tertentu dalam mengembangkan dan menyerap pengetahuan, ilmu dan teknologi. Mulai dari ilmu dan teknologi yang sangat sederhana sampai kepada yang teramat tinggi. Kecepatan gerakannya untuk mengembangkan, menyerap dan menemukan pengetahuan, ilmu dan teknologi ditentukan oleh banyak faktor, antara lain; *geografis, sistim kepercayaan, sistim adat dan sistem pendidikan.* *....................* *4*. Dari ketiga konsep pemikiran ini, maka *konsep budaya Minangkabau berada pada point 2 dan 3 *(ketr. tdk dicopy !) Mereka selalu pulang balik dari kedua konsep itu. Kadang-kadang mereka satukan, jika terjadi perbedaan mereka carikan penyelesaian secara cerdik dan diplomatik sekali. Sebagai contoh *Adat Basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah adalah konsep penyatuan adat dan agama.* Jadi, jika kita bicara tentang bagaimana adat dan budaya Minangkabau dalam menyerap, atau mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsep berpikir masyarakat Minang yang pulang balik antara konsep pemikiran 2 dan 3 di atas harus pula menjadi pertimbangan. Percepatan penyerapan ilmu dan tekonologi dalam masyarakat Minangkabau *tidak dapat diukur hanya berdasarkan pemanfaatan dan penggunaan alat-alat teknologi semata, tetapi pada sikap masyarakatnya terhadap semua hasil-hasil teknologi itu berdasarkan beberapa faktor yang telah di kemukakan. Sebab, ilmu tidak punya batas geografis, seperti -matematika Minangkabau-, atau -teori quantum Minangkabau-.* Dari apa yang telah dijelaskan di atas, akhirnya akan menimbulkan pertanyaan; sekiranya memang demikian konsep budaya masyarakat Minangkabau dalam menyerap ilmu dan teknologi, kenapa masyarakat Minangkabau jauh tertinggal dari pada masyarakat Eropa, Jepang, Korea dan bangsa-bangsa lain yang menguasai teknologi? Siapa yang salah? Konsep budayanyakah yang tidak relevan dengan perkembangan kemajauan? Atau ada hal-hal lain yang tidak “terlihat” atau diluar “perhitungan” kita? Persoalan yang dihadapai masyarakat Minangkabau dewasa ini tidak terlepas dari beberapa faktor penentu yang berasal baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Persoalan yang terjadi dalam dirinya adalah; masyarakat Minangkabau sekarang sudah berada pada *era masyarakat perkotaan yang konsumtif,* bukan lagi sebagai masyarakat produktif. Dalam pemikiran, masyarakat Minang tidak lagi berada di depan, tetapi sudah menjadi *makmum dari pemikiran-pemikiran lain.* Jika dulu, pemikir-pemikir Minang telah menjadi “imam” dalam perkembangan pemikiran di Indonesia, sekarang tidak lagi. Masyarakat Minang sekarang sudah menetap, tidak lagi “mobil” sebagaimana dulu konsep rantau diterapkan dalam segala aspeknya. Masyarakat Minang sekarang tidak lagi menjadi “investor” baik dalam pemikiran maupun perkembangan ilmu, tetapi menjadi “*pedagang kaki lima”, menerima upah setelah sebuah proyek selesai.* Persoalan yang terjadi di luar dirinya yang mempengaruhi kehidupan dan cara mereka mengatasi keadaan cukup membuat masyarakat Minang “kalang kabut”. Konsep politik yang sentralistik dalam sekian puluh tahun, menyebabkan masyarakat kehilangan daya “inisiatif”. Mereka tidak berani berbuat, takut salah, takut dipersalahkan. Jika mereka bergerak dalam bidang keilmuan, mereka tidak mencipta, tapi mengikuti dan membenarkan sebuah karya cipta orang lain. Mereka kehilangan keberanian. Ketergantungan pada pusat terhadap penelitian-penelitian ilmiah sangat dirasakan, sehingga “pusat”lah yang menentukan maju tidaknya penelitian di semua daerah di Indonesia. Sungguh suatu hal yang mustahil jika kita menginginkan suatu percepatan penyerapan pengetahuan dan iptek dalam masyarakat Minangkabau, tanpa membuang dulu perasaan “ketergantungan” pada pihak luar. Para ilmuwan di Sumatera Barat sekarang seperti orang memakan *“sagun-sagun” * tanpa diberi air minum yang cukup. Mereka tercekik kekurangan air dalam keadaan mulut mengangga penuh tepung kering. Mereka tak dapat bicara apa-apa lagi dalam dunia ilmu. Inilah problematik kita. Problematik para ilmuwan, para civitas akademica di manapun juga di Indonesia. Padang, 17 Juli 2002 * * -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
