Dunsanak di palanta nan ambo hormati, ketek indak ka disabuikkan namo,
gadang indak ka himbaukan gala.

Assalamualaikum Wr.wb.

Ambo mambaco *artikel nan penting bagi kito*, kutiko sato sakaki mamikiakan
akibat bahaya gempa, khususnyo sesudah terjadi gempa 30 September 2009 yl.
di kampuang kito.

Walaupun nan dibahas dalam artikel adolah *megacity* (tolok ukurnyo pareso
kuantitas/jumlah penduduk), namun gampo itu tidak
hanyo terjadi di megacity.

*Mencegah* (sato dengan pemikiran !) terjadinya kematian satu orang
(manuruik ambo !) samo pahalonyo dengan mencegah kematian berjuta juta
orang, karano di sinilah kemampuan kita (ambo !).
Artikelnyo sbb:

..........Jadi, faktor perkembangan perkotaan dan penduduklah yang
sebenarnya berperan besar dalam jatuhnya banyak korban.
Kutipan ucapan David Wald dari United States Geological Survey di atas
menguatkan hal ini.

*"Megacity"*

Kalau frekuensi gempa disebut tidak meningkat—rata-rata berkisar 17 gempa
berkekuatan 7 atau lebih kuat terjadi setiap
tahunnya—dan daya yang dilepas juga dalam ukuran yang dikenal selama ini,
mengapa jumlah korban cenderung meningkat?

Rupanya, bertumbuhnya kota-kota raksasa atau megacity menjadi faktor
penting. Kalau bangunan yang menjadi penyebab utama
Seperti telah disinggung di atas, bangunan dan perkembangan perkotaan di
negara miskin kini menjadi sorotan tersendiri.

Ini karena bangunan di negara miskin cenderung dibuat ala kadarnya,
dirancang sekadarnya, dan dibangun menggunakan
bahan-bahan lemah, yang tidak memenuhi standar bangunan dasar (Gautam Naik,
The Wall Street Journal, 1/3).

Bermodal pemahaman baru inilah, kini banyak dilakukan survei pemetaan atas
kota-kota dan bangunannya di dunia.
Jadi, kini ada peta yang melukiskan berapa jumlah penduduk kota-kota di
dunia, dan seberapa besar kemungkinannya diguncang gempa dalam 40 tahun ke
depan.

Dari situ diperoleh tingkat bahaya seismik untuk berbagai wilayah dan kota
dunia. Seperti dimuat di harian The Washington Post (juga di Jakarta Globe,
27/28/2/10), *pantai Barat Sumatera, juga di wilayah Kepala Burung Papua*,
masuk dalam warna merah atau berada *dalam tingkat bahaya amat tinggi*,
sementara Pulau Sumatera dan Jawa secara umum dalam warna kuning, atau dalam
risiko tinggi.

Hanya saja, meski secara alam berada di risiko tinggi, wilayah Indonesia
punya sedikit saja megacity sehingga yang punya lingkaran kecil dengan tinta
lemah hanya satu, yakni Jakarta, dalam kategori berpenduduk 5 - 9,9 juta
jiwa.

Kota dengan lingkaran sedang dengan penduduk 10 - 14,9 juta ada di Buenos
Aires, Los Angeles, dan Shanghai. Adapun megacity
dengan lingkaran besar bertinta tebal',misainya saja adalah New Delhi,
Mumbai, New York, dan Mexico City.

Seperti diulas oleh Joel Achenbach (Washington PostlJG, 27/28/2/10), kota di
AS dengan bahaya terbesar manakala ada gempa
adalah New York. Kota yang juga dijuluki Big Apple ini memang jarang
dikaitkan dengan gempa, tetapi wilayah di yang pernah
mengalami guncangan kecil (tremor) yang mengindikasikan bahwa guncangan
besar tetap merupakan hal mungkin.

*Cile dan Haiti*

Di luar isu megacity, bisa dikatakan pula, bahwa pusat gempa di Haiti
kebetulan ada di dekat ibu kota. Port-au-Prince.
Episenter Cile juga tiga kali lebih dalam dibandingkan dengan Haiti, yakni
35 kilometer dibandingkan dengan 13 km.

Faktor lain yang dicatat adalah Cile sudah "lebih berpengalaman" menghadapi
gempa dibandingkan dengan Haiti. Sebagai salah
satu negara yang berada di Cincin Api, Cile bisa dikatakan memiliki wawasan
gempa. Dapat dicatat bahwa gempa dengan magnitude paling tinggi pernah
terjadi di Cile, yakni dengan skala 9,5 pada tahun 1960.............dst

*Catatan/diskusi:*

Sesudah mambaco artikel di ateh, maka mungkin *akan muncul pertanyaan,
bagaimana di SB apabila jumlah citynyo batambah (nagari nan
dijadikan/digabuang manjadi city) atau city nan alah ado kini
diniatkan pulopertumbuhan dan perkembangannya untuk kelak menjadi
megacity dengan berbagai
model pembangunan nan dilewakan oleh pemilik modal/asing ?*


Salam
Abraham Ilyas
www.nagari.org

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke