Uda Irsal, Uda Zul, Z, dan Sanak Sapalanta.
Kalau memang pasien punya pilihan - seperti obat bebas, atau dia bisa
"mengeksekusi hak nya untuk minta meminta dan menolak resep", maka berarti
akan tercapai apa yang disebut "harga wajar".
Tapi kalau nan ambo tangkok dari Keputusan Menteri Kesehatan tersebut,
tampaknya pasien tidak (bisa) mengeksekusi haknya, sehingga pemerintah
mengeluarkan aturan. Dan dari penjelasana Sekjen IDI nan ambo kutip
sabalunnyo, nampak pulo saketek apo yang ado di baliak resep.
Tentang harga wajar, yang ambo mukasuik adalah "fair value", bukan
"perceived value". Kalau yang terjadi di harga ubek (seperti yang disebut
Menkes dan Sekjen IDI) perbedaan harga bukan "perceived value".
Kalau ambo baco2, fair value ko ditentukan oleh berbagai faktor - obyektif
dan subyektif. Perceived value/ benefit ini memang merupakan bagian dari
faktor subyektif, tetapi bagian terbesar dari fair value adalah production
dan distribution cost.
Dari sisi teori, harga yang dipengaruhi oleh penetapan pemerintah itu
dianggap fair value juga. Dan untuk rokok, memang pengaruh peraturan
pemerintah terhadap harga memang tinggi. Itu bukan cuma di eropa, tapi
dimana2. Di Indonesia, rata2 50-60% dari harga bandrol rokok itu untuk cukai
tembakau. Dan sekarang para perokok harus siap2 lagi dengan Pajak Rokok yang
merupakan Pajak Provinsi.
Perceived value itu bisa "menjadi pembeda" kalau dalam keadaan persaingan
sempurna. Contohnya tentang bika si mariana dan pical si kai yang
dikemukakan Z.
Z, kalau harga kendaraan bermotor, sebagian ada unsur "perceived value"
tetapi ini mungkin tidak besar proporsinya sebagai "pembeda harga". Jadi
saya tidak berpendapat bahwa ini merupakan "harga wajar". He he, maaf Z.
Kalau ndak salah Z "urang pabirik oto/ honda"? Maaf kalau iyo, ambo takok Z
pasti di ATPM besar nan lah lamo di Indonesia.
Mungkin bilo2nyo awak bisa maota2 tentang struktur perdagangan (dan tentunya
kebijakan pemerintah donk) di bidang otomotif. Kebetulan ambo pernah
melakukan penelitian tentang kebijakan pemerintah, dan disampiang pakai data
primer dan sekunder, kami duu mewawancarai pihak Pemerintah, ATPM, Pengusaha
yang terkait dengan otomotif, dan konsumen.
Dari situ lah ambo berani batanyo: "bara sabananyo harago wajar"
Riri
Bekasi, l, 47
2010/3/4 <[email protected]>
> Sanak Riri, Abraham Ilyas dan sanak di Palanta.
>
> Masalah ubekko sabananya indak sarumik itu banadoh. Semuanya tergantung
> pasien. Pasien punyo hak untuk minta atau menolak ubek yang diresepkan.
> Minta sajo ubek generik, pasti dokter akan memberikan. Dokterpun juga
> maresepkan ubek tantu indak sumbaragan, diliekno dulu kamampuan pasien.
> Urang nan indak mampu indak mungkinlah dokter ka maresepakan ubek nan maha..
> Itu samo jo bunuah diri tu. Indak kabapasien dokter tu doh..
> Di lain pihak pihak pasien juo banyak nan mamintak ubek nan maha, asakan
> lai sihaik bialah maha saketek dok..co itu kabanyakan pasien tantang ubekko.
> Satantangan alternatif penentuan ubek disarahkan ka apotik, ambo kiro samo
> sajo nantik akibatno. Apolai apotik dikelola dng aspek bisnis. Tantu baa nan
> kabauntuang pikiranno.
> Ambo jugo manyadari banyak memang dokter yang dalam maresepkan ubek
> dipengaruhi oleh perusahaan farmasi. Tapi, itu hanyo dokter yang terkenal,
> nan laris, nan banyak pulo pasienno dan umumno nan praktek dikota-kota, di
> Rumah Sakit nan gadang. Bagi dokter nan biaso-biaso sajo, indak banyak
> pasuienno, indak ka diengo perusahaan farmasidoh....
> Sakali lai, semua tagantuang pasien. Pasien punya hak memilih, menyetujui
> atau menolak..
>
> Wassalam
>
> Irsyal Rusad bdr di ateh. L 55.
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
>
> --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>
--
Riri Chaidir
Bekasi, L, 47
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe