Sanak IJP, Mokasi sangaik paparan dan pencerahannyo...
Met. --- Pada Jum, 5/3/10, Indra J Piliang <[email protected]> menulis: Dari: Indra J Piliang <[email protected]> Judul: [...@ntau-net] Fw: IJP: Politik Paripurna Pasca-Sidang Paripurna Kepada: "RantauNet" <[email protected]>, "KIM" <[email protected]> Tanggal: Jumat, 5 Maret, 2010, 10:37 AM ~~Segera terbit "Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan"~~ -----Original Message----- From: Koran Digital <[email protected]> Date: Thu, 4 Mar 2010 16:53:29 To: Koran Digital<[email protected]> Subject: [Koran-Digital] IJP: Politik Paripurna Pasca-Sidang Paripurna Indra J. Piliang, DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUTE Skor itu sudah terpampang jelas di layar televisi. Angka 323 mengalahkan angka Wiro Sableng 212. Lalu tiap-tiap fraksi menyampaikan ucapan saling selamat dan permohonan maaf. Selanjutnya Indonesia Raya dikumandangkan bersama Padamu Negeri. Setelah itu, apa lagi? Artikel ini ditulis sebelum Presiden Susi- lo Bambang Yudhoyono menyampaikan pi- dato resmi. Apa pun itu, Presiden SBY adalah pemegang mandat eksekutif. Beliau sudah mengatakan bertanggung jawab se- cara hukum tata negara berkaitan dengan proses kebijakan bailout Bank Century. Apakah pertanggungjawaban itu ditunjuk- kan dengan menyerahkan keputusan Si- dang Paripurna DPR kepada lembaga- lembaga hukum terkait atau Presiden SBY langsung memberikan kepastian, terutama atas nasib dua sosok paling banyak disebut dalam Pansus Angket Bank Century--Boe- diono dan Sri Mulyani Indrawati--seperti- nya membutuhkan proses lanjutan. Sidang Paripurna DPR juga menunjuk- kan bahwa adagium legislative heavy da- lam postur konstitusi pasca-amendemen terbukti lagi. Proses amendemen yang di- tandai dengan "ketakutan"mendalam atas supremasi lembaga kepresidenan dalam era Bung Karno dan Pak Harto disikapi dengan memutilasi banyak kewenangan presiden. Kendali pada prinsipnya dimiliki oleh partai politik, karena hanya partai po- litik yang mempunyai wakil di DPR RI dan sekaligus berhak mencalonkan presiden dan wakil presiden. Legislator telah men- jadi tuan bagi dirinya sendiri. Di sini letak masalahnya, ketika desain ketatanegaraan kita menjerat seluruh lem- baga negara untuk tidak berdiri sama ren- dah atau sama tinggi. Parlemen sudah men- jadi inti dari seluruh pertarungan kekuasaan yang semuanya berasal dari partai politik. Akibat kealpaan membagi-bagikan kekua- saan ke daerah, misalnya, pada prinsipnya akan menjadikan perjalanan pemerintahan terlihat timpang. Situasi ini bisa menjebak, yakni terdapat presiden yang didukung oleh satu partai mayoritas tunggal di DPR RI. So- sok otoriter bisa saja hadir.Tapi celah ke arah itu tertutupi oleh sistem multipartai, yang terpilah-pilah ke dalam beragam basis tradisional dan rendahnya party id. Koalisi Bagaimana nasib koalisi? Ini pertanyaan populer, tapi miskin argumentasi. Koalisi pada prinsipnya berinduk pada kepenting- an partai politik masing-masing dan cetak biru dokumen yang ditandatangani dengan Presiden SBY-Wakil Presiden Boediono. Presiden SBY bisa saja menyingkirkan 2 menteri dari Partai Golkar, 4 menteri dari PKS, atau 2 menteri dari PPP. Tapi apakah itu menyelesaikan masalah? Jangan-jangan pepatah lama akan berlaku: berharap mer- pati terbang tinggi, punai di tangan dile- paskan. Dengan kekakuan model komuni- kasi politik yang dimainkan oleh Ahmad Mubarak, Ruhut Sitompul, Ramadhan Pohan, dan Anas Urbaningrum, bagaimana bisa menaklukkan para veteran politik yang sudah lama ada di DPR RI? Koalisi dibentuk untuk mengatasi san- dera legislative heavy. Apabila koalisi hen- dak dihindari, satu-satunya cara adalah SBY mengundurkan diri dari Ketua De- wan Pembina Partai Demokrat dan mem- bentuk zaken kabinet yang 100 persen ter- diri atas kaum profesional. Politikus harus dibuat percaya bahwa SBY tidak hendak memikirkan kemenangan Partai Demokrat atau melanjutkan proses penguasaan atas politik Indonesia dalam waktu lama. Kon- sentrasi Presiden SBY akan benar- benar tersita bagi kepentingan bangsa dan nega- ra, bukan dicantolkan pada kepentingan Partai Demokrat. Tapi beranikah SBY menjadi sosok yang imun dari kehidupan politik murni itu? Pengalaman Pemilu 2009 sudah memberi bukti kepada semua politikus bahwa SBY mengklaim seluruh prestasi pemerintahan untuk dirinya dan partainya saja. Cara lain adalah memperbarui kontrak politik. Revisi boleh saja dilakukan. Berarti akan ada renegosiasi atas kursi eksekutif. Kalau ini dilakukan, SBY sudah menem- patkan diri sebagai politikus ulung yang tidak hanya mengandalkan para staf yang kurang berpengalaman dan malah menam- bah buruk hubungan dengan para tokoh bangsa. Lagi-lagi, beranikah SBY menjadi pemain politik utama itu, yang dipenuhi beragam pertemuan, lobi, dan debat serius? Atau mengambil mitra koalisi baru di sayap sebelah kiri. Apa tidak terlalu jauh melompat? Di balik itu semua, Presiden SBY seperti melupakan peranan dari lem- baga-lembaga sosial kemasyarakatan, seperti NU-Muhammadiyah. Barangkali ka- rena pembisik Istana mengatakan bahwa kedua organisasi itu tidak netral dalam pe- milihan presiden lalu. Moratorium Bagi rakyat, yang dibutuhkan adalah moratorium politik. Para gubernur, bupati, dan wali kota adalah pihak yang menja- lankan pemerintahan di daerah sehari-ha- ri. Tapi mereka juga sering dikumpulkan, baik oleh presiden maupun oleh pimpinan partai politik masing-masing. Rakyat me- mang menikmati tontonan demokrasi, juga belajar dengan baik melalui perdebatan yang digelar oleh politikus dan para ahli. Namun, sementara kesibukan itu terus- menerus berlangsung, situasi demokrasi ultra-liberal yang terjadi pada 1955-1959 bisa terulang lagi, yakni pembangunan menjadi terbengkalai serta politikus bersi- lat kata dan bersilat kuasa. Dalam keada- an yang tidak terkendali, impuls saraf bisa diisi dengan kehadiran sesosok tokoh yang mengatasi keadaan setelah semadi di pun- cak Gunung Lawu. Ultraliberal dilawan oleh mitologi. Politikus harus bisa membangun harap- an yang realistis, bukan optimisme yang berlebihan atau pesimisme yang akut. Bangsa ini semakin banyak kehilangan so- sok-sosok pemimpin visioner yang tidak la- rut dalam kepentingan politik jangka pan- jang. Demokrasi, sebagai sebuah peradaban baru, terletak pada dimensi kesadaran ten- tang pentingnya manusia dan kemanusiaan yang sudah terpenuhi hak-hak dasarnya. "Silakan kalian berdebat tuan, tapi kami belum lagi makan menonton perdebatan itu!"adalah sikap umum di warga-negara (citizen) di mana pun. Tugas negara dan pemimpin negara adalah memastikan ter- penuhinya kebutuhan akan makan, mi- num, pakaian, dan tempat tinggal yang la- yak. Selama itu belum terpenuhi, demo- krasi kaum kerabat dan kaum penjahat masih dominan di negeri ini. Politik paripurna digerakkan oleh labi- rin pikiran dan medan kesadaran yang me- longok kepada kaum miskin dan kaum bo- doh, yang masih banyak di negeri ini. Bisa- kah para elite politik keluar dari kepom- pong persoalan masing-masing, lantas se- cara bersama-sama bekerja bersama ma- syarakat yang mereka selalu sebut itu? Po- litik paripurna terjadi ketika tujuan-tuju- an berbangsa dan bernegara makin dide- kati, bukan dijauhi, sekalipun secara pelan dan perlahan. Kalau itu tidak ada, berarti tujuan telah dibelokkan dan sejarah akan menghukum bangsa ini kembali. http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/03/05/ArticleHtmls/05_03_2010_011_002.shtml?Mode=1 -- - One Touch News- To post : [email protected] "Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun - Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu - Hindari ONE-LINER - POTONG EKOR EMAIL - DILARANG SARA - Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. - Berdiskusilah dengan baik dan bijak. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------------- “Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von Bismarck "Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
