repost: --- On Thu, 2/25/10, Datuk Endang <[email protected]> wrote:
From: Datuk Endang <[email protected]> Subject: Re: [...@ntau-net] Tanggapan terhadap masukan dari Pak Emil Salim To: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Date: Thursday, February 25, 2010, 10:55 PM Pak Mochtar Naim yth. Saya coba telusuri thread yang berkembang saat ini, dan bertemu dengan postingan ini. Karena sudah memasuki ranah publik, saya izin berkomentar walau tanpa referensi masukan dari Pak Emil, sbb: 1. Saya ingin mempertanyakan pernyataan: "... ABS-SBK jelas-jelas Islam sandarannya -- dan hanya Islam --dengan Al Quran sebagai pedoman hidup tertinggi ..." Kalau saya boleh memberikan pandangan, ABS-SBK adalah 'plakat/pituah adat', diartikulasikan dalam Bahasa Minang dan dimulai dengan kata 'adat'. 2. Saya meragukan konsep 'sinkretik' bapak yang mungkin dikarenakan kerancuan bapak bersikap sebagai ilmuwan atau ulama. Di satu pihak sangat jelas membedakan maksud sinkretik, namun pada paragraf terakhir tidak jelas memaksudkan sinkretik, contoh: "Satu lagi karena Islam tidak mengenal pemisahan antara negara dan agama"; "sistem ekonomi dan perbankan syariah yang sekarang sudah mulai mengglobal"; dst. Terima kasih sebelumnya. Wassalam, -datuk endang --- On Mon, 2/22/10, Mochtar Naim <[email protected]> wrote: Pak Emil yang saya hormati, Terima kasih dengan masukannya yang menggelitik. Kalau pertanyaan atau pernyataan Pak Emil itu dibalik, "dapatkah sesuatu sukubangsa, seperti sukubangsa Minangkabau kita ini, memiliki filosofi hidup spt ABS-SBK itu dalam konteks NKRI dan dalam wadah Pancasila?" ABS-SBK jelas-jelas Islam sandarannya -- dan hanya Islam --dengan Al Quran sebagai pedoman hidup tertinggi. Bahkan adat yang dipakainyapun hanyalah sejauh tidak bertentangan dengan Islam. Dan filosofi hidup ABS-SBK ini bukan hanya individual sifatnya tetapi juga kolektif bersuku dan bersuku-bangsa. Setahu saya, ABS-SBK inipun adalah juga filosofi hidup dari suku-suku Melayu di manapun di Nusantara ini. Secara kultural, orang Melayu dianggap Melayu kalau dia beragama Islam. Yang tidak beragama Islam tidaklah dianggap Melayu. Sebaliknya, orang Cina yang beragama Islam dan hidup di tengah2 masyarakat Melayu, dianggap Melayu dan diperlakukan sebagai Melayu. Antara Islam dan Minang serta Melayu telah terjadi hubungan sintetis, dan bukan sinkretis seperti pada masyarakat Jawa. dsb. Di Jawa malah mereka menganggap bahwa "sedoyo agami sami kemawon," seperti yang kemarin juga dipelopori oleh Gus Dur dan golongan Islib lainnya. Dan orang boleh memeluk agama apapun yang mereka sukai dan bahkan boleh berpindah agama kapanpun dia mau. Makanya di Jawa dalam satu keluarga sajapun bisa ditemukan anutan agama yang beragam, yang di Minang tidak mungkin terjadi. Jika jawab pertanyaan di atas tidak dapat, karena Pancasila diartikan sebagai tidak boleh berdasar kepada sesuatu agama tertentu, yaitu Islam, tentu tidak ada tempat bagi orang Minang ataupun Melayu lainnya secara bersukubangsa untuk hidup dalam negara NKRI yang berpancasila seperti itu yang sifatnya, seperti di Jawa, adalah sinkretis. Lain halnya kalau hanya Negara yang berdiri di atas semua agama-agama, karena warganya pluralis, alias berbilang agama. Tetapi kalau sukubangsa pun, seperti Minang dan Melayu itu, harus pula pluralis, maka jelas tidak ada tempat bagi orang Minang dan orang Melayu umumnya untuk menjadi warga negara RI. Yang akan terjadi pastilah Aceh kedua, ketiga, dst. Malah pertanyaan menggelitik dari saya sendiri, bagaimana kalau melalui proses demokrasi dengan pemilu secara bebas, satu waktu, entah kapan, kelompok yang beragama Islam di Indonesia ini berhasil memenangkan NKRI ini berdasar Islam dan menjadi Negara Islam? Yang secara demokratis adalah sah. Sesuatu yang sangat mungkin ke masa depan. Satu dengan mengingat jumlah warga Islam yang merupakan mayoritas terbesar di Republik ini. Satu lagi karena Islam tidak mengenal pemisahan antara negara dan agama. Dan lagi satu, Islam sekarang sedang memasuki era tamaddun kebangkitan kembali gelombang ketiga yang berskala mondial dan global. Lambat tetapi pasti hal-hal yang tadinya tidak mungkin terjadi, bisa terjadi. Misalnya saja: sistem ekonomi dan perbankan syariah yang sekarang sudah mulai mengglobal. Bagaimana menurut Pak Emil. Salam taragak saya, Mochtar Naim -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
