Teroris Memahami Rezim ; Catatan Tidak
Lazim<http://esito.web.id/2010/03/teroris-memahami-rezim-catatan-tidak-lazim/>

by e.s. ito ~ March 10th, 2010 http://www.esito.web.id


Mati, tertangkap, dieksekusi sudah seringkali terjadi. Itu tidak akan pernah
membuat kita berhenti, sebab bukankah itu yang selama ini kita cari?
Kebebasan kita tidak ditentukan oleh udara segar yang dihirup tetapi oleh
wangi kesturi. Barangkali dalam hal-hal seperti itu kita tidak perlu
berdebat lagi. Kita adalah hantu bagi kehidupan, tamu suci bagi yang telah
mati. Semua kebencian yang terarah pada kita adalah kemuliaan yang tidak
pernah berusaha mereka baca. Masalah itu juga, jauh-jauh hari kita sudah
sepakati. Tetapi kita mesti berhenti sejenak, ada perhitungan yang
terlewatkan. Terkadang dalam ukuran duniawi, beberapa nyawa telah terenggut
dengan sia-sia. Itu sebabnya saya menuliskan catatan tidak lazim ini dalam
rangka membaca sebuah rezim.


Kita telah bertahan di tengah gelombang kematian. Bukan saja karena kita
terlatih dan bersiap diri. Tetapi mungkin karena mereka tidak
sungguh-sungguh mencari. Ada ruang yang senantiasa tersisa untuk kita lari
dan bersembunyi. Mungkin saya salah, tetapi rasa-rasanya keberadaan kita
juga penting bagi mereka. Kita terpelihara oleh kepentingan. Kita mendayung
di antara dua karang, antara idealisme kita dan pragmatisme mereka. Bila
kita tiada, kerja mereka tidak akan menuai jasa. Bila kita habis, maka
mereka akan mudah terkikis. Ini adalah permainan kematian yang menimbulkan
candu tersendiri. Kita harus berhitung dengan hati-hati, bukan karena kita
takut mati. Tetapi karena seringkali kita terlalu nyaman dalam persembunyian
dan cenderung merasa aman dalam berhubungan. Tiba-tiba kita dikejutkan
dengan berita penyerbuan layaknya panen dari kebun yang mereka lupakan.
Mereka tidak hendak memburu kita pada saat yang kita takutkan, tetapi mereka
memburu pada saat dibutuhkan. Siapa yang membutuhkan? Tentu mereka yang
senantiasa lari dan menghindar menunggangi isu.


Saatnya kita memasang rambu, karena kita sudah bisa membaca isu. Bila suhu
politik memanas, seseorang akan tersudutkan. Dia tidak akan menyelesaikan
masalah tetapi mencari masalah baru yang akan meniadakan tudingan.
Kenyamanan kita dalam bergerak ternyata tidak semata-mata tercipta dari
ramuan kita yang canggih tetapi juga dari suhu politik yang menentukan
kematangan. Bila suhunya dingin, bahkan kita tidak perlu bersembunyi untuk
bergerak. Bila suhu politik memanas, kita sudah bersembunyi di ujung bumi
pun akan mereka cari. Mereka akan datangkan pasukan lengkap dengan senjata
dan pena. Senjata untuk mengakhiri kita, pena untuk mengabarkannya. Sehingga
masalah-masalah menghimpit yang menyudutkan bisa diatasi tanpa perlu
diselesaikan. Karena kita mengancam kita bisa dijual. Karena kita
menakutkan, maka masalah lain terasa ringan dan pantas dilupakan. Kita telah
mengalaminya berulangkali, seharusnya kita belajar membaca situasi.


Bisnis kematian memang menggiurkan. Teror sebagaimana tindakan yang
dialamatkan kepada kita, penting untuk memelihara ketergantungan manusia
terhadap penguasa. Kita harus sadar diri, gerak dan tindakan kita mungkin
sering ditunggangi. Bila sudah begini, semakin panjang jalan bagi kita untuk
mencium wangi kesturi. Kita bisa memutuskan untuk berhenti sama sekali atau
pindah ke lain negeri. Sebab disini ternyata mereka lebih canggih
menghadapi. Ketimbang memadamkan kita dengan senjata, mereka memelihara kita
di dalam kesempatan-kesempatan yang mereka ciptakan sendiri. Kita
merencanakan peledakan, mereka bebas menentukan penyerbuan. Bila sudah
begini, bukannya lebih baik bila kita berhenti sama sekali. Negeri ini bukan
lagi tempat yang nyaman untuk mengembangkan karier dan reputasi. Setiap
ketakutan yang kita munculkan hanya dijadikan alasan untuk menimba
keuntungan. Keberadaan kita terpelihara sebab sewaktu-waktu berguna bagi
mereka untuk menciptakan suasana.


Setelah saya membaca rezim, saya mendapatkan kesimpulan yang tidak lazim.
Bahwa ternyata kita tidak lagi berkuasa dalam tindakan dan cita-cita. Sebab
pada saat mereka bebas menentukan maka ketakutan tidak akan pernah lagi
menjadi teror. Daripada menjadi teroris banci lebih baik kita tinggalkan
negeri ini

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke