Dua hari yang lalu saya menonton sebuah film Indonesia yang 30% ceritanya  ser 
dsetting do Sawahlunto, berjudul "Bahwa Cinta itu Ada".
Lapeh sudah taragak dan bangga melihat sudut2 sawahlunto yang romantis 
terekspos dalam film tersebut.

Salam

Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300

--- On Wed, 3/10/10, andi ko <[email protected]> wrote:

From: andi ko <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Gambaran Minangkabau dalam berbagai era agama
To: [email protected]
Date: Wednesday, March 10, 2010, 5:13 AM

Masukan ambo, judulnyo di ganti menjadi "Mencari jejak Islam di Minangkabau". 
Setelah ambo baco-baco ambo manangkok sabananyo Roni ingin mancari sajak kapan 
Islam ado di Minangkabau. Pemahaman ambo yang roni tulis iko tidak murni 
mendeskripsikan perkembangan agama-agama di MK, tetapi juga berisi gugatan 
berbagai kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam.


Salam

andiko

Pada 10 Maret 2010 16:56, Syafroni (Engineering) 
<[email protected]> menulis:














Adi Dunsanak di
palanta

 

Babarapo hari
nan lewaik mancubo mareka-reka dan membayangkan minangkabau dlm berbagai era
agamo.

Silahkan sanak
perhatikan tulisan ambo dibawah ko. Kalau ado nan kurang atau kaliru minta 
tolong
diagiah tukuak, kritik dan koreksi. 

 

Tarimokasih

 

wassalam

 

Gambaran Minangkabau dalam berbagai
era agama

 

5 Mar 2010

 

Minangkabau di era dinamisme dan
animisme

 

Di era ini banyak orang Minang yang memuja gunung, pohon
dan binatang-binatang tertentu. Mempercayai keberadaan ula nago, hantu, dan
pelangi diyakin sebagi penampakan ‘ula bangun’.

 

Belum mengenal dewa-dewa dlm ajaran Hindu-Buddha
maupun tentang Allah, malaikat surga neraka dlm Islam.

 

Di era ini, belum ada mesjid atau surau, belum ada
candi atau biaro. Belum ada pandito ataupun buya.

 

Yang ada hanyalah datuk dan dukun. Dubalang apakah
sudah ada?

 

Pakaianpun mungkin seadanya dari kulit kayu tarok.

 

Apakah di zaman ini sudah aturan Minangkabau yang
kemudian disebut ‘adat’ ?

 

Minangkabau di era Hindu-Buddha

 

Sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa kebudayaan
Hindu Buddha dalam masyarakat muslim Minangkabau walaupun kuantitas dan
kualitasnya tidak seperti pada kebudayaan Jawa yang terlihat masih kuat.

 

Di Jawa Candi-candi dan adat kejawen masih kental.
Itulah bedanya dengan Minangkabau.

 

Candi dan biaro tinggal nama.

 

Di era Hindu Buddha ini (kemungkinan) banyak berdiri
candi-candi dan biaro (istilah Minang untuk vihara).

 

Pengaruh Buddha paling terasa di zaman Adityawarman
karena ia sendiri menganut aliran Tantrisme (Tantrayana).

 

Patung Buddha ada dimana-mana. 

Minangkabau didominasi oleh warna merah kuning dan
hitam.

Banyak yang melakukan ritual ‘batarak’ di gua-gua
di tengah hutan atau di rumah-rumah tinggal di tengah rimba, demi mendapatkan
sejumlah kehebatan.

 

Di zaman ini pula diperkenalkan istilah-istilah yang
berasal dari kedua agama, tentunya dalam bahasa sanskerta dan bahasa Pali.

 

Di era ini, banyak masyarakat melakukan persembahan
sesajen. Membangun rumah, dipotonglah seekor ternak misalnya kerbau, sapi,
kambing atau ayam. Setelah islam masuk, kadang-kadag masih diamalkan.

 

Ilmu-ilmu hitam berkembang. Gasing tangkurak dan
guna-guna banyak dipakai oleh masyarakat.

 

Tubo dan palasik suatu hal yang biasa.

Mantra-mantra banyak digunakan.

 

Dengan pengaruh kerajaan yang diperintah Adityawarman,
Minangkabau banyak mendapat pengaruh budaya Jawa.

 

Dikenallah istilah2 sbb:

dewa-dewi

bidadara bidadari

patih

tumenggung.

Bodhi

Hyang

Manti (menteri)

Pandito (pandita)

Dewano

Sadeo (sadewa)

Swarga-nairaka

 

Mgkn di era Hindu dan Buddha ini orang Minang tidak
mengenal istilah kuburan karena dalam Hindu dan Buddha mayat biasanya dikremasi
lalu dibakar.

Tapi ada sebuah kuburan rajo-rajo di Kuburajo, Tanah
Datar. Apakah mereka tidak menjalani aturan
agamanya? Atau mereka sudah Islam?

 

Apakah Datuk Tantejo itu bukan seorang Hindu atau
Buddha? Sebab kuburannya masih ada. Begitu pula kuburan Dt. Perpatih Nan 
Sebatang.

 

Di era Hindu-Buddha ini, perempuan Minang belum
mengenal pakaian penutup aurat seperti Jilbab.

 

Minangkabau di era Islam

 

Ketika Islam mulai dipeluk oleh suku Minang. Mereka
mulai mengenal beberapa istilah yang lazim dalam Islam, terutama yang berasal
dari kosakata arab.

 

Maka muncullah istilah arab sbb:

Adat

Rajo ibadat

Alam

Rajo alam

Ibadat

Rajo ibadat

Sultan alif

Nagari Sumpur Kudus

Nagari Lima Kaum

Imam Kathib

Malin Bila

Angku Kali dan Tuan Kadi 

Buya

Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi
kitabullah.

Swarga disesuaikan menjadi syurga 

Nairaka menjadi neraka

 

Bisa jadi dulu orang Minang di awal Islam datang, yang
awal diperkenalkan adalah istilah adat untuk menggantikan istilah buek. Maka
disusunlah adat itu dari sumber-sumber lisan berupa petatah petitih atau
disebut pula sebagai mamangan adat.

 

Waktu itu masih banyak adat yang berasal dari
kebudayaan Minang pra-Islam. Masih banyak orang ’bakoa’, menyabung
ayam, menyaratuih hari dan sebagainya.

 

Semenjak munculnya kalangan ulama yang concern terhadap
pelaksanaan syariat (syara’) maka mulai diganti aturan2 adat sebelumnya
menurut aturan syara’.

 

Kemudian barulah muncul adagium ’adat bersendi
syara’ dan syara’ bersendi kitabullah’

 

Di Minangkabau mulai berdiri surau-surau dan mesjid.
Sudah tidak ditemukan lagi candi-candi dan biaro-biaro bekas tempat peribadatan
pra Islam. Tradisi ‘batarak’ sudah mulai ditinggalkan.

 

Minangkabau di era Kristen (Eropa)

 

Minangkabau di masa ini adalah Minangkabau dalam era
penjajahan. Walaupun cukup lama dijajah oleh Belanda. Juga pernah Inggris dan
Portugis tapi agama bangsa Eropa ini tidak menggiurkan bagi orang Minang yang
sudah kuat memegang Islam.

 

Pengaruh dari Eropa ini hanya tampak pada nama-nama
sebagian orang Minangkabau bahkan hingga saat ini.

 

Namun beberapa orang Minang di perantauan sudah pula
ada yang berpindah keyakinan memeluk Kristen akhir-akhir ini karena gencarnya
gerakan kristenisasi di Minangkabau.

 

Selain itu di Minangkabau khususnya di kota-kota,
terdapat masyarakat yang heterogen terdiri dari berbagai etnis dan agama
misalnya di kota Padang, yang mempunyai penduduk beretnis Tionghoa Kristen,
Konghucu dan Buddha, suku Nias dan Batak, Jawa dan Jawa Kristen di daerah
transmigrasi yang mengepung Sumatera Barat yaitu Sitiung, Pasaman dan Lunang.

 









-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~


===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet


- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe







-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke