saya posting lagi, sepertinya tidak masuk ke Inbox saya ***
Pak Datuak dan Sanak Palanta RN nan mulia
Nggak nyangka..Pak Datuak mengingatkan kenangan manis kami ini jalan2 ke SA
Selamat Ulang Tahun yang pertama ya buat rombongan Pak Emi and his Gang :)
Setahun yang lalu 21 Maret tersebut jatuh hari Sabtu
Rombongan
kami sangat menikmati sekali perjalanan ke SA dan dsambut, dijamu,
diservis oleh Uda dan Uni Yul Rainal serta menginap dirumah kediaman
keluarga yang berasitektur rumah gadang penuh ukiran khas pandai sikek
yang warna warni dengan detail ukiran yang "tajam dan dalam" dari kayu
berkualitas
Masih terkenang dan terbayang sampai saat ini dipelupuk mata saya dan rombongan
(iya kan Pak Emi)
Kami
sampai selepas Magrib (menjelang Isya) di jenjang rumah gadang Da
Rainal lalu kami istirahat sejenak "mangalai-ngalai" diberanda rumah
diatas ketinggian sambil menatap suasana kampung di senja itu sambil
menghirup secangkir teh manis dan mencoba hidangan pembuka beberapa
tusuk sate nagari SA (mirip rasanya dengan sate dangung-dangung) lalu
kami menyantap hidangan makan malam yang istimewa apalagi kalau bukan
menu pusaka khas nagari SA yaitu Gulai Hitam dengan sensasi rasa tampil
beda dari kebanyakan pusaka kuliner ranah minang di katakan rendang
gulai bhitam ini "nggak juga" disebut kalio berwarna hitam jauh rasanya
jadi memang Unik baik dari segi penampilan yang betul2 hitam kayak
pantat kuali yang tahunan nggak pernah dibersihklan terpanggang bara
apai (dark black ?) Bukan itu saja ada gajebo spesial yang daging dan
gomoknya begitu lembut membelai lidah dengan kuahnya yang encer saja
tidak terlalu berminyak serta jangan lupa juga anyang aneka sayuran
berparut kelapa
Nasinya..masih terbayang dipelupuk mata saya
dalam cambung keramik tua berwarna putih oval (khas perobat orang
kampung jadul) beras baru dari sawah nagari SA layaknya beras solok
ketika saya kecil dulu putih bersih panas diibaratkan beras itu kalau
di tanak seperi "kambang bungo limau"
Masalah kuliner (terbaca :
Los Lambung) bukan hanya masalah rasa (taste) tapi juga masalah suasana
dan tempat, ya malam itu cuaca sedikit mendung tapi tidak menyiratkan
akan turun hujan lebat yang pasti tentunya kelembaban malam itu cukup
tinggi dan membuat suasana di senja selepas Isya di ruang tengah kami
berkumpul menyantap hidangan dinginnya terasa menyentuh kulit tubuh
kami dan dingin malam itu tentu berbanding lurus terhadap kondisi
lambung kami yang terguncang dan lelah selama lebih kurang 8 jam
semenjak berangkat dari Kota Pekanbaru (Juma'at, 20 Maret 2009) membuat
perut kami "menggigil dan bergetar" kelaparan
Rasa dan Suasana
"bermain" dalam menyantap makan malam resultannya tentu kami hanya diam
seribu bahasa larut dengan hidangan yang kami "sanrtuang" setiap
rombongan menyipi gulai hitam (bagi saya dan beberapa rombongan bisa
jadi semuanya) inilah pertama kali menyicipi dan mencoba sepuasnya
gulai hitam dengan potongan ayam yang dagingnya rapuh dibalut bumbu
kesetiap daging ayam yang disuir. Mengungkapkan rasa yang khas dan
unik sebuah cita rasa makanan diantara kami setiap menyuap nasi dengan
gulai hitam dengan "meangguak_angguak co balam" lebih dari cukup dan
penuh makna dari pada berkata-kata bagaimana "angguak" ini bentuk
transformasi bahasa tubuh menyatakan gulai hitam ini memang khas, unik
dengan cita rasa yang dalam serta sensasi yang berbeda kami dapat (ini
karena faktor "baru pertama kali mencobanya")
Setelah santap
malam saya menyandarkan lambung saya..oppsss maksudnya punggung saya
kedinding rumah gadang yang berlantai papan sambil kaki
diselonjorkan..tarik napas pelan-pelan sambil minum air hangat kuku dan
menyicipi "pisang taranak" dari ladang Uni Yul..wayauu begitu lembut
serat pisang ini membelai lidah yang masih menyisakan pedas unik gulai
hitam
Heyyy..apa itu di halaman sekolah disamping rumah Da
Rainal..ada alunan dendang saluang..ola la la..itu dendang saluang raun
sabalik sebelum Randai di mulai
"Ayo jepe olah tu duduak basanda
juo, kito turun kabawah lai mancoliak Randai" sapa Da Rainal (logat dan
gaya bahasa Da Rainal sungguh tidak patah lidah beliau berbahasa
kampung "totok" Sulik Aia sebagaimana bunyi, lagak, gaya dan ragamnya
seperti bahasa kampung saya dan bahasa kampung istri saya lubuak
jantan-Lintau)
Akhirnya saya, Pak Emi dan kawan2 lain bergabung
dan berbaur dengan orang kampung Da Rainal yang menggelar tikar di
halaman sekolah yang dibangun Da Rainal dan didekasikannya
Ibundanya tercinta.
Malam
semakin larut, perut yang kembali "menggigil" disaat yang pas
"disorongkan" lagi ke mulut kami sebungkus sate khas nagari SA, cerita
Randai semakin seru "Rajo Angek Garang" semakin "beringas".dalam
kaba/cerita Rambun Pamenan yang dibawakan dengan apik oleh sebuah group
kesenian tradisi dari Nagari Sungayang Tanah Data
Tapi
karena kelelahan mata tidak bisa diajak kompromi lagi, saya memisahkan
diri "malucuik" diam2 ke kamar "datua-datuak" dilantai bawah rumah
gadang kediaman keluarga Da Rainal
Sesampai didalam kamar
ditempat tidur dengan kasur yang empuk, sprei licin dan harum suasana
yang dingin lambung yang terisi lebih dari cukup jika tidak dibilang
kekenyangan karena sebungkus sate yang dilahap sekitar jam 11 malam itu
"tidak ada ampunnya" lagi membuat saya terkapar lelap tidur dengan dua,
tiga kali tarikan napas saya tidak sadar lagi.."Tidur mati" tidak ada
mimpi yang lewat di tengah malam menjelang subuh itu.
Minggu 21 Maret selepas sarapan kami berjalan-jalan mengitari nagari Sulik Aia,
ya seperti yang saya tulis dibawah ini
Suatu
saat jika umur panjang, langkah panjang,rejeki masih panjang Insya
Allah kami akan kembali lagi ke nagari Sulik Air, bagi saya kenangan
ini mengisyaratkan bahwa di nagari-nagari ranah minang mulai dari
pesisir pantai sampai pegunungan (darat) dengan segala keunikan budaya,
adat, tradisi dan masakannya selalu meninggal sebuah kenangan dan
cerita yang berbeda tapi yang pasti ini adalah sebuah kekayaan dan
limpahan rahmat dari Allah SWT kepada anak-anak ranah minang yang
"berkampung" di hamparan bumi khatulistiwa (tropis) dengan suhu yang
hangat sepanjang tahun serta bumi yang subur dengan limpahan air bersih
disetiap pelosok kampung di ranah minang dan tidak semua belahan bumi
mendapatkan sekeping sorga dunia yang terhampar di ranah minang dengan
segala keunikan dan keindahannya dari berbagai aspek kehidupan
Jika ada sumur diladang bolehlah kita menumpang mandi
Kalau nggak ada sumur diladang nggak mandipun bolehlah kita ketemu lagi di
sulik aia makan gulai hitam berbuah galundi :-)
Tentunya di kampung Uda dan Uni Yul pasti ada dong sumur diladang
Aha kalo begitu Insya Allah kita akan berjumpa lagi
Disulik Aia yang dibelah batang Katio berbagarkan Gunung Papan yang bajonjang
saribu
Selamat berakhir pekan dunsanak sadonya
Wass-Jepe
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
To unsubscribe from this group, send email to
rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words
"REMOVE ME" as the subject.
<<inline: --static--bg_tulipsgreen_1.gif>>
