Hubungan darah antara raja Sunda, Galuh, dan Majapahit rupanya tak
diketahui oleh Gajah Mada. Ketidaktahuan ini merupakan salah satu
petunjuk bahwasanya Gajah Mada bukanlah berasal dari kalangan kerabat
istana, beliau benar-benar seorang prajurit yang merintis karier dari
derajat yang paling bawah.


RADEN WIJAYA CUCU RAJA SUNDA
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.296\raden-wijaya-cucu-raja-sunda.html>  


22 Januari 2010 

(Kutipan Buku Sundakala karangan Prof. Ayatrohaedi)


 
<http://3.bp.blogspot.com/_oJ-TYEMxhvM/S13HVpuRRQI/AAAAAAAAAP4/p3jEKtOpc
_8/s1600-h/prasasti+bubat.jpg>  
<http://3.bp.blogspot.com/_oJ-TYEMxhvM/S13HVpuRRQI/AAAAAAAAAP4/p3jEKtOpc
_8/s1600-h/prasasti+bubat.jpg> Salah satu ciri bangsa yang kuat adalah
penghayatannya kepada sejarah, karena penghayatan kepada sejarah bangsa
akan memperkuat jatidiri bangsa yang bersangkutan. Buku-buku sejarah
menyebutkan bahwa pada abad ke-12 di Nusantara pernah berdiri Negara
Majapahit yang wilayahnya melampaui luas NKRI saat ini. Negara Majapahit
itu didirikan oleh Raden Wijaya atau Sanggrama Wijaya. Kisah menarik
Majapahit bukan saja tentang luasnya kekuasaan dan tingginya peradaban
yang telah dicapai, namun ada juga sepenggal cerita tragis yang
disebut-sebut sebagai 'aib sejarah' sehingga sejarawan yang hidup kala
itu, Mpu Prapanca, tidak sudi menuliskannya dalam buku karangannya yang
tersohor, Nagara Kertagama.

Kisah tragis itu dikenal sebagai 'Palagan Bubat' atau 'Perang Bubat'
yang terjadi tahun 1357 menurut naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi
Nusantara sarga ke-3 halaman 119--127. Bubat adalah nama sebuah lapangan
di wilayah Majapahit. Konon sepuluh abad yang lalu di Bubat, pernah
terjadi perang antara tentara Majapahit dan Galuh (Galuh adalah kerajaan
di wilayah Jawa Barat bagian Timur, sedangkan Sunda adalah kerajaan di
wilayah Jawa Barat bagian Barat. Raja Sunda kala itu membagi kembali
kerajaan Sunda menjadi Sunda dan Galuh). 

Kisah Palagan Bubat dimulai dari keberangkatan rombongan mempelai
wanita, yang terdiri dari Raja Galuh, sang mempelai, beberapa petinggi
kerajaan, dan sepasukan tentara pengawal dari Galuh ke Majapahit. Kala
itu, sudah merupakan tradisi perkawinan apabila mempelai wanita diboyong
ke pihak mempelai pria yang bertahta sebagai raja. Bagi pihak Galuh,
kedatangan ke Majapahit bukan saja sebagai 'nganten', namun lebih dari
itu, yakni silaturrahmi kepada keluarga sendiri. 

Klimaks kisah Palagan Bubat dimulai ketika rombongan Galuh beristirahat
di wilayah Bubat untuk persiapan upacara penyambutan esok harinya.
Tiba-tiba atas perintah Maha Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada,
rombongan Galuh diultimatum untuk menanggalkan segala senjata dan masuk
ke Kotaraja sebagai taklukan (Sunda-Galuh bagi Gajah Mada adalah
satu-satunya kerajaan Nusantara yang belum ditaklukkan). Ultimatum Gajah
Mada ditolak. Rombongan Galuh yang jumlahnya tak seberapa itu memilih
perang hingga mati daripada terhina. Maka pecahlah Palagan Bubat, darah
tertumpah di Bubat. Dari pihak Galuh tak ada satupun yang hidup. Semua
tentara, semua pejabat, bahkan Raja dan sang calon mempelai wanita pun
ikut tewas. 

Kisah Palagan Bubat sedemikian jauh amat melukai perasaan keluarga raja
di Galuh dan Sunda. Bahkan menurut beberapa sumber, konon keluarga raja
Majapahit, termasuk Sang Prabu Hayam Wuruk, pun menyesalkan peristiwa
Palagan Bubat tersebut. Lalu bagaimanakah kisah Gajah Mada selanjutnya?
Riwayat Gajah Mada pasca peristiwa berdarah itu tidak jelas ditulis oleh
para sejarawan. Di Pihak Galuh dan Sunda, diantara sisa-sisa luka lama
itu masih dapat dijumpai, yakni hingga detik ini tidak dijumpai nama
jalan Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gajah Mada di pelosok wilayah
propinsi Jawa Barat !

Perang Bubat tak lain adalah perang saudara. Hubungan darah antara raja
Sunda, Galuh, dan Majapahit rupanya tak diketahui oleh Gajah Mada.
Ketidaktahuan ini merupakan salah satu petunjuk bahwasanya Gajah Mada
bukanlah berasal dari kalangan kerabat istana, beliau benar-benar
seorang prajurit yang merintis karier dari derajat yang paling bawah. 

Hubungan darah antara Sunda, Galuh, dan Majapahit kami jelaskan sebagai
berikut :

Raja Singhasari yang berkuasa pada waktu itu, Prabu Wisnuwardhana,
mengawinkan Jayadharma dengan salah seorang kemenakannya yang bernama
Dewi Singhamurti atau Dyah Lembu Tal, anak Mahisa Campaka. Dari
perkawinan itu lahirlah Sang Nararya Sanggramawijaya atau Raden Wijaya
yang kelak mendirikan kerajaan Majapahit.

Jayadharma, ayah Raden Wijaya, adalah kakak kandung Prabu Ragasuci,
keduanya adalah putra Prabu Guru Dharmasiksa atau Sanghyang Wisnu yang
bergelar Sang Paramartha Mahapurusa (memerintah kerajaan Sunda selama
122 tahun antara 1175-1297 masehi). Jayadharma adalah putra mahkota,
namun wafat sebelum menjadi raja. Maka seandainya Jayadharma tidak mati
muda, kemungkinan besar yang menjadi raja Sunda selanjutnya adalah Raden
Wijaya. Sepeninggal Jayadharma, Raden Wijaya bersama ibundanya, Dyah
Lembu Tal, diboyong kembali ke Singhasari. 

Hubungan perkerabatan Sunda - Singhasari diperkuat lagi dengan
pernikahan Dara Kencana anak Prabu Ragasuci (yang berarti adalah sepupu
Raden Wijaya dari pihak ayah) dengan raja Singhasari berikutnya, yakni
Kertanegara (yang adalah paman Raden Wijaya dari pihak ibu).

Ketika Wijaya menjadi raja Majapahit yang pertama, kakeknya, Sang Prabu
Guru Dharmasiksa, sempat memberinya seberkas nasehat, yakni agar jangan
sampai mempunyai niat untuk menyerang, apalagi menaklukkan kerajaan
Sunda karena dua kerajaan itu sungguh-sungguh adalah bersaudara, dan
bahwasanya Majapahit dan Sunda hendaklah saling bahu membahu,
tolong-menolong, serta mempererat silaturrahmi.

...

Demikianlah, beberapa puluh tahun setelah peristiwa Bubat, Majapahit
mengalami kemunduran. Negara Adikuasa itu semakin tak bertaring. Pada
saat Nusantara lemah dan mulai terpecah, datanglah kekuatan baru dari
Eropa yang perlahan namun pasti merontokkan segala kemegahan yang pernah
ada, dan selanjutnya menjajah Nusantara selama berabad-abad.

Sumber : 
http://hamdanarfani.blogspot.com/2010/01/raden-wijaya-cucu-raja-sunda.ht
ml 

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke