Roni, kalau ada bahan2 terkait di-cc-kan juga ke Kozok, sepertinya beliau perlu 
banyak bahan untuk studinya.
Mengenai asal-usul Raden Wijaya sudah banyak versi dari berbagai daerah, 
termasuk versi Ciliwung juga masuk ke Babad Tanah Jawi.
Hanya perlu perenungan tentang posisi Raden Wijaya pada waktu pemberontak 
Jayakatwang, adalah sebagai 'komandan ibukota'. Posisi komandan bukan posisi 
biasa, biasanya sangat terkait dengan asal-usul kebangsawanan. Yang pasti juga 
bukan bangsawan Singhasari, karena pasti terurai dalam serat dan babad. Bila 
datang dari luar, maka marwah-nya pasti lebih tinggi dari Singhasari.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Wed, 3/31/10, Syafroni (Engineering) <[email protected]> 
wrote:








Hubungan darah antara raja Sunda, Galuh, dan Majapahit rupanya tak diketahui 
oleh Gajah Mada. Ketidaktahuan ini merupakan salah satu petunjuk bahwasanya 
Gajah Mada bukanlah berasal dari kalangan kerabat istana, beliau benar-benar 
seorang prajurit yang merintis karier dari derajat yang paling bawah.
RADEN WIJAYA CUCU RAJA SUNDA 
22 Januari 2010 
(Kutipan Buku Sundakala karangan Prof. Ayatrohaedi)


Salah satu ciri bangsa yang kuat adalah penghayatannya kepada sejarah, karena 
penghayatan kepada sejarah bangsa akan memperkuat jatidiri bangsa yang 
bersangkutan. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-12 di Nusantara 
pernah berdiri Negara Majapahit yang wilayahnya melampaui luas NKRI saat ini. 
Negara Majapahit itu didirikan oleh Raden Wijaya atau Sanggrama Wijaya. Kisah 
menarik Majapahit bukan saja tentang luasnya kekuasaan dan tingginya peradaban 
yang telah dicapai, namun ada juga sepenggal cerita tragis yang disebut-sebut 
sebagai ‘aib sejarah’ sehingga sejarawan yang hidup kala itu, Mpu Prapanca, 
tidak sudi menuliskannya dalam buku karangannya yang tersohor, Nagara Kertagama.

Kisah tragis itu dikenal sebagai ‘Palagan Bubat’ atau ‘Perang Bubat’ yang 
terjadi tahun 1357 menurut naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara sarga 
ke-3 halaman 119--127. Bubat adalah nama sebuah lapangan di wilayah Majapahit. 
Konon sepuluh abad yang lalu di Bubat, pernah terjadi perang antara tentara 
Majapahit dan Galuh (Galuh adalah kerajaan di wilayah Jawa Barat bagian Timur, 
sedangkan Sunda adalah kerajaan di wilayah Jawa Barat bagian Barat. Raja Sunda 
kala itu membagi kembali kerajaan Sunda menjadi Sunda dan Galuh). 

Kisah Palagan Bubat dimulai dari keberangkatan rombongan mempelai wanita, yang 
terdiri dari Raja Galuh, sang mempelai, beberapa petinggi kerajaan, dan 
sepasukan tentara pengawal dari Galuh ke Majapahit. Kala itu, sudah merupakan 
tradisi perkawinan apabila mempelai wanita diboyong ke pihak mempelai pria yang 
bertahta sebagai raja. Bagi pihak Galuh, kedatangan ke Majapahit bukan saja 
sebagai ‘nganten’, namun lebih dari itu, yakni silaturrahmi kepada keluarga 
sendiri. 

Klimaks kisah Palagan Bubat dimulai ketika rombongan Galuh beristirahat di 
wilayah Bubat untuk persiapan upacara penyambutan esok harinya. Tiba-tiba atas 
perintah Maha Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada, rombongan Galuh 
diultimatum untuk menanggalkan segala senjata dan masuk ke Kotaraja sebagai 
taklukan (Sunda-Galuh bagi Gajah Mada adalah satu-satunya kerajaan Nusantara 
yang belum ditaklukkan). Ultimatum Gajah Mada ditolak. Rombongan Galuh yang 
jumlahnya tak seberapa itu memilih perang hingga mati daripada terhina. Maka 
pecahlah Palagan Bubat, darah tertumpah di Bubat. Dari pihak Galuh tak ada 
satupun yang hidup. Semua tentara, semua pejabat, bahkan Raja dan sang calon 
mempelai wanita pun ikut tewas. 

Kisah Palagan Bubat sedemikian jauh amat melukai perasaan keluarga raja di 
Galuh dan Sunda. Bahkan menurut beberapa sumber, konon keluarga raja Majapahit, 
termasuk Sang Prabu Hayam Wuruk, pun menyesalkan peristiwa Palagan Bubat 
tersebut. Lalu bagaimanakah kisah Gajah Mada selanjutnya? Riwayat Gajah Mada 
pasca peristiwa berdarah itu tidak jelas ditulis oleh para sejarawan. Di Pihak 
Galuh dan Sunda, diantara sisa-sisa luka lama itu masih dapat dijumpai, yakni 
hingga detik ini tidak dijumpai nama jalan Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi 
Gajah Mada di pelosok wilayah propinsi Jawa Barat !

Perang Bubat tak lain adalah perang saudara. Hubungan darah antara raja Sunda, 
Galuh, dan Majapahit rupanya tak diketahui oleh Gajah Mada. Ketidaktahuan ini 
merupakan salah satu petunjuk bahwasanya Gajah Mada bukanlah berasal dari 
kalangan kerabat istana, beliau benar-benar seorang prajurit yang merintis 
karier dari derajat yang paling bawah. 

Hubungan darah antara Sunda, Galuh, dan Majapahit kami jelaskan sebagai berikut 
:

Raja Singhasari yang berkuasa pada waktu itu, Prabu Wisnuwardhana, mengawinkan 
Jayadharma dengan salah seorang kemenakannya yang bernama Dewi Singhamurti atau 
Dyah Lembu Tal, anak Mahisa Campaka. Dari perkawinan itu lahirlah Sang Nararya 
Sanggramawijaya atau Raden Wijaya yang kelak mendirikan kerajaan Majapahit.

Jayadharma, ayah Raden Wijaya, adalah kakak kandung Prabu Ragasuci, keduanya 
adalah putra Prabu Guru Dharmasiksa atau Sanghyang Wisnu yang bergelar Sang 
Paramartha Mahapurusa (memerintah kerajaan Sunda selama 122 tahun antara 
1175—1297 masehi). Jayadharma adalah putra mahkota, namun wafat sebelum menjadi 
raja. Maka seandainya Jayadharma tidak mati muda, kemungkinan besar yang 
menjadi raja Sunda selanjutnya adalah Raden Wijaya. Sepeninggal Jayadharma, 
Raden Wijaya bersama ibundanya, Dyah Lembu Tal, diboyong kembali ke Singhasari. 

Hubungan perkerabatan Sunda – Singhasari diperkuat lagi dengan pernikahan Dara 
Kencana anak Prabu Ragasuci (yang berarti adalah sepupu Raden Wijaya dari pihak 
ayah) dengan raja Singhasari berikutnya, yakni Kertanegara (yang adalah paman 
Raden Wijaya dari pihak ibu).

Ketika Wijaya menjadi raja Majapahit yang pertama, kakeknya, Sang Prabu Guru 
Dharmasiksa, sempat memberinya seberkas nasehat, yakni agar jangan sampai 
mempunyai niat untuk menyerang, apalagi menaklukkan kerajaan Sunda karena dua 
kerajaan itu sungguh-sungguh adalah bersaudara, dan bahwasanya Majapahit dan 
Sunda hendaklah saling bahu membahu, tolong-menolong, serta mempererat 
silaturrahmi.

…

Demikianlah, beberapa puluh tahun setelah peristiwa Bubat, Majapahit mengalami 
kemunduran. Negara Adikuasa itu semakin tak bertaring. Pada saat Nusantara 
lemah dan mulai terpecah, datanglah kekuatan baru dari Eropa yang perlahan 
namun pasti merontokkan segala kemegahan yang pernah ada, dan selanjutnya 
menjajah Nusantara selama berabad-abad.
Sumber : 
http://hamdanarfani.blogspot.com/2010/01/raden-wijaya-cucu-raja-sunda.html 
 


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

<<image001.jpg>>

Kirim email ke