Assalamu'alaikum wr. wb. Dulu.... Ketika kami kecil dulu... Dengan semua fasilitas yang serba minim dan tak menentu... Almarhum Bapak saya suka menasehati kami agar tak menggerutu...
Ketika usia kami masih remaja dini Di kala jatah makan masih dibagi Ke sekolah di dekat pasar Maninjau juga hanya berjalan kaki Jarak 8 kilometer untuk pulang dan pergi itu ditempuh setiap hari Sepatu lusuh pun membuat lecet di kaki Ketika hujan datang menjenguk hari Tak jarang kami memakai daun pelepah pisang untuk payung pengganti Tapi almarhum Bapak saya dengan bijak akan tetap membesarkan hati kami Satu wasiat beliau yang sederhana dan selalu teringat sampai kini adalah; Bahwa rumput yang tumbuh ditanah yang bebatuan, daya tahannya akan jauh lebih kuat dari rumput di taman yang dipupuk dan tanahnya digemburkan setiap saat. Rumput yang tumbuh di tanah-tanah berbatu, genggaman akarnya jauh lebih hebat, sehingga untuk mencabutnya akan membutuhkan tenaga yang juga ekstra. Rumput ini tahu betul, bahwa untuk dapat hidup dia harus berusaha keras menjalarkan akarnya disela-sela bebatuan, dan siap dengan krisis air ataupun makanan setiap saat. Karena itu rumput dibebatuan bukanlah rumput yang cengeng yang langsung layu jika tidak ada orang yang datang menyiramkan air. Barangkali itulah sebabnya, orang-orang yang hidupnya ibarat rumput yang tumbuh dibebatuan ini, umumnya mereka akan menjelma menjadi pekerja keras, dan akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka juga akan lebih bijak dalam mendalami makna kehidupan. Dan ketika mereka menggapai kesuksesan, mereka cenderung tetap sederhana dan rendah hati karena tahu bahwa sesuatu itu tidak didapat dengan mudah, dan diperoleh hanya dengan izin Allah. Nilai-nilai inilah yang saya pelajari dari mamak-mamak, kakak-kakak, ibu-ibu di palanta, yang patut untuk ditiru. Walaupun beliau-beliau sudah mencapai kesuksesan diatas rata-rata orang kebanyakan, tetapi mereka tetap membumi dan merendahkan diri. Mak Ngah, Pak Emi, Bang Zul, Mamak Duta, adalah segelintir contoh dari ratusan contoh yang bisa disebutkan di balerong ini. Dan di balerong inilah, kami yang muda-muda bisa belajar dari mereka semua... Semoga... Sayup-sayup, serasa terdengar kembali petuah almarhum Bapak dari alam sana... Di kabek baru di kisai Isuak indak ka ladang lai Urang batanam si bungo lado Dari ketek iduik marasai Isuak indak ka gamang lai Tantangan hiduik nan dihadangnyo.... Wassalam, Rita Lukman ---------------------- Pada 1 April 2010 01:58, ajo duta <[email protected]> menulis: > Dinda Zul, > > Ajo sangka kehidupan ajo saja yang penuh rona duka. Ternyata dinda lebih > lagi. > Disamping hasilnya juga lebih pula. Bedanya dinda bisa menuliskan semua > "Perang si Padang" itu dengan baik dan kronologis. Sedang ajo tak pandai > menulis seperti > seperti yang dinda lakukan. Dinda Muljadi menyarankan ajo membaca tulisan > memoar pribadi dinda di Cimbuak. Ajo membacanya tak berkedip, sampai telat > makan. > Sungguh memberi motivasi bagi yang memulai hidup. > > Salam sukses. Insya Allah kita basuo di bumi Amerika. Lucu memang kita sama > tinggal di tanah paman Sam. Tapi kita bertemu di RM Sederhana di Pulo Mas > Jakarta. > Terima kasih sudah memenuhi undangan Ajo. Salam untuk sang putri (ajo lupo > namonyo) > > Bagi sanak nan alun mambaco "Perang si Padang" monggo dicalik > http://www.cimbuak.net/content/view/1398/5/ > > Wassalam > > > > > 2010/3/30 Zulkarnain Kahar <[email protected]> > > Tahun 2000 aku datang kemari mengikuti training pertama keluar negeri >> terjauh. Selama dua minggu habis kukelilingi kota melbourne ini dengan jalan >> kaki. Hari hari sore menjelang malam aku menikmati gemerlapan kota. Kembali >> kehotel biasanya sudah pukul 1 atau 2 pagi. >> >> Mejelang pulang ke Jakarta mataku ku buka lebar lebar seakan melihat kota >> untuk yang terakhir kalinya.. Aku memang seorang realistis. Kalau menurut >> akal sehat tak akan pernah lagi aku kembali kesini. Ternyata hidup bukan >> hitungan matematika. Setahun kemudian 2001, Aku kembali lagi lagi kemari >> mengikuti training. Kembali aku yang percaya dengan akal sehat. Ini adalah >> kesempatan terkahir kemari. Tanpa berfikir macam macam aku sewa mobil >> seharga 60 dollar AUS dan kujelajahi jala raya melbourne - Sidney dengan >> waktu tempuh 12 Jam di jalan raya. dan kembali lagi ke Melbourne keesokan >> harinya otimatis aku tidak tidur dua hari dua malam... >> Selamat Tinggal Melbourne... >> >> Hari ini 31 March 2010,aku mendarat lagi disini setelah menempuh >> pernerbangan terpanjang non-stop dari Los Angeles.. dan kali ini aku datang >> memberi training ... >> >> *What a Wonderful Life * >> >> Zulkarnain Kahar >> >> > > -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.
