Assalamualaikum Wr.Wb. Bapak Muzirman Tanjung. Lebih fair lagi serta sama2 enak, bila ada gambar gulai/menu diserta harga yang jelas terbaca dan terpampang. Jadi alasan tapakuak, gak ada lagi. Umumnya dikota yang agak besar, Mall2 sudah diterapkan, rasanya. Minimal preventip dari sang empunya restorant, tapi manusia muca macam2 marketing strategie koq.
Maaf, ini mungkin ide yang sudah basi. Mengenai GAYUS... menurut tebak2 manggis saya, beliau itu hanya kelas teri, makanya ketangkap. Kalau kelas Ikan Paus raksasa, yang lebih besar dari Prabu Dasamuka, yah gak bakalan di-apa2 in. Tapi ini kan hanya, cerita khayalan OMONG KOSONG dari saya, saja, tanpa bukti dll. Wassalam, Muljadi -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Thu, 1 Apr 2010 15:28:29 -0400 > Von: Muzirman -- <[email protected]> > An: [email protected], rantaunet <[email protected]>, MuzIrman > <[email protected]> > Betreff: [...@ntau-net] GAYUS dan Kedai PADANG DI SINGAPORE. > BP, Bundo @sanak Yth, > Wah bertambah lagi promosi gratis restourant Padang, dimana Gayus di > perogoki Satgas, nasi padang juga yg di cari di Singapore. > Tp saya bertanya, apakah kalau kita mengatakan "Restaurant Pdg dan > Tapakuak",krn tak dicantumkan harga sebelumnya....merupakan "kritikan > awaksamo awak" atau akan menambah miring nya image keberadaan restaurant > Padang. Menurut saya kalau anda merasa tapakauak, knp ngak dari awak di > tanya berapa harga nya satu persatu? Jadi lamak carito nyo. > Kalau lansung meng vonis " aden tapakauak' di restauranat Padang, tanpa > keterangan lbh jelas,.. dan disebarkan di milis ini namanya,... pencemaran > nama baik",.. I wanna sue U , kata UU ITE. > Wass. Muzirman Tanjung. > ---------------------------------------------- > > > Dilema Gayus di Kedai Padang Lucky Plaza > > Kamis, 1 April 2010 | 03:10 WIB > > *FX Laksana Agung Saputra* > > Sejak 24 Maret lalu, Gayus HP Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak > Kementerian Keuangan, bersama istrinya, Milana Anggraeni, dan tiga anaknya > ”tinggal” di Singapura. Mereka menginap di Hotel Meritus Mandarin di > kawasan > Orchad Road, Singapura, kamar 2105. > > Harga kamar di hotel itu per malamnya mulai 320 dollar Singapura untuk > deluxe room sampai dengan 1.440 dollar Singapura untuk presidential suite. > Jika dialihkan ke rupiah, lebih kurang Rp 2,1 juta-Rp 9,5 juta per kamar. > > Di hotel itu, Gayus, yang menjadi buron Polri terkait makelar kasus, > bersembunyi selama ini. > > Selasa (30/3) sekitar pukul 20.00, ia keluar hotel sendirian mencari makan > malam untuk keluarganya. Tujuannya Lucky Plaza, dua blok dari Meritus > Mandarin. Pakaiannya santai. Kaus oblong dipadu celana pendek tiga > perempat. > Sebuah tas merek berkelas diselempangkannya di bahu. > > Setiba di Lucky Plaza, ia ke lantai dasar, tempat gerai makanan (food > court). Ia memilih gerai yang menjual ayam goreng dan nasi. Lokasinya di > sudut. > > Saat membayar, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya dari belakang. Itu > suara Denny Indrayana, Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. > ”Gayus menoleh dan menyambut kami,” kata Denny. > > Denny bersama Mas Achmad Santosa, anggota Satgas. Mereka di Singapura > memang > untuk mencari, menemukan, dan membujuk Gayus agar menyerahkan diri. Mereka > tentu bekerja sama dengan tim Mabes Polri serta Kedutaan Besar Republik > Indonesia di Singapura. > > Namun, pertemuan di gerai makanan itu, kata Denny, adalah kebetulan. > ”Sungguh suatu kebetulan,” katanya. > > Denny dan Santosa menginap di Hotel JW Marriott, sekitar 100 meter dari > Lucky Plaza. Mereka mencari makan malam. > > Gayus diajak duduk di kedai masakan Padang, tak jauh dari gerai ayam > goreng. > Denny pada saat yang sama memberi tahu tim Mabes Polri untuk segera > merapat. > Pendekatan berlangsung sekitar dua jam, sambil makan nasi padang, yang > rasanya hambar, seperti dikatakan Denny, karena situasi. > > Tak mudah bagi Gayus untuk pasrah meski posisinya sangat sulit. > Pembicaraan > tidak banyak menyangkut soal hukum, tetapi soal perasaan. ”Kami tak > banyak > ngomong soal hukum kepada Gayus, tetapi lebih banyak encouragement. Saya > mengatakan padanya, forget the past, start a new life,” kata Santosa. > > Kedua anggota Satgas itu berusaha meyakinkan, menyerahkan diri adalah > pilihan terbaik. Apabila tak menyerahkan diri, Gayus akan dihantui > perasaan > sebagai buron seumur hidup. Gayus juga terancam ditahan polisi Singapura > karena paspornya dicabut akibat status pekerjaannya dipalsukan dari yang > semestinya pegawai negeri sipil ditulis pegawai swasta. Kalau permasalahan > ini diteruskan, pasti kian runyam. > > ”Kami membujuknya untuk menyerahkan diri. Ia tampak bingung dan takut, > terutama dengan nasib istri dan anaknya, yang masih enam tahun, empat > tahun, > dan satu tahun. Berulang kali, ia mengusap dahinya,” kata Denny. > > Akhirnya, saat sebagian besar gerai telah tutup, nada-nada mau menyerahkan > diri tampak pada diri Gayus. Namun, perasaan bingung dan takut masih > berkecamuk di pikirannya. Maka, ia minta waktu untuk berbicara dengan > istrinya di hotel. Jam menunjuk pukul 22.30. > > Denny, Santosa, dan tim Mabes Polri mengantarkan Gayus kembali ke Hotel > Meritus Mandarin. Sekitar 45 menit, Gayus berbicara dengan istrinya dalam > kamar. > > Setelah menetapkan hati, Gayus keluar kamar. Didampingi Denny, Santosa, > dan > tim Mabes Polri, mereka menuju lobi Hotel Marriott. Di sana, Kepala Bagian > Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi, staf KBRI di > Singapura, dan pejabat Kepolisian Singapura telah menunggu. > > Di tempat itu dibicarakan persiapan dokumen imigrasi agar Gayus bisa > kembali > ke Tanah Air. Disepakati, Gayus pulang dengan surat perjalanan laksana > paspor sebagai pengganti paspornya yang dicabut. Pembicaraan selesai pukul > 02.00. > > Rabu, Gayus menetapkan langkahnya menuju pesawat Garuda Indonesia bernomor > penerbangan GA 829 tujuan Jakarta. Di Jakarta, Gayus berketetapan hati > mengungkap segalanya meski rasa takut masih berkecamuk. > > *Lebih gemuk* > > Jadwal kedatangan GA 829 dari Singapura terpampang di layar monitor. > Pesawat > dijadwalkan mendarat pukul 15.35. Ratusan orang memadati ruang kedatangan > di > Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Wartawan tersebar di tiga > titik > pintu keluar karena tidak jelas dari mana Gayus akan keluar. > > Gayus keluar dari terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul > 16.00. Ia diapit aparat Polri berpakaian preman. Ratusan wartawan pun > langsung mengerumuni Gayus yang berkepala plontos itu. Gayus dibawa ke > mobil > Toyota Land Cruiser warna hitam bernomor polisi B 2676 TL. > > Saat keluar, Gayus tanpa ekspresi. Tubuh dan wajahnya tampak lebih gemuk > daripada foto yang selama ini beredar di internet dan media massa. > Rombongan > yang membawanya tak mampir ke bagian imigrasi. > > Sempat terjadi kericuhan kecil saat Gayus datang, tetapi itu tak > menghambatnya dibawa ke Mabes Polri untuk diperiksa. (pin/fer/ong/tri) -- GRATIS für alle GMX-Mitglieder: Die maxdome Movie-FLAT! Jetzt freischalten unter http://portal.gmx.net/de/go/maxdome01 -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.
