Kalah 
oleh 
Oryza A Wirawan.

'Kekalahan' mengingatkan saya pada adegan ini: Seorang pria berambut gondrong 
berbadan tegap dibawa ke sebuah panggung. Pakaiannya acak-acakan. Tangannya 
terikat. Lehernya dibebat tali besar, ditarik oleh beberapa serdadu. Ia 
berjalan di setapak yang terbentuk oleh kerumunan manusia, yang segera saja 
melemparinya dengan buah-buahan busuk.

Di atas panggung, seorang berpakaian merah, dia seorang inkuisitor yang 
ditemani seorang algojo bertopeng dan bertubuh besar yang menantinya. Di atas 
sebuah meja, telah tertata rapi berbagai model pisau dan alat penyiksa. Sang 
Inkuisitor tersenyum sinis.

"Jika kau mau meminta maaf dan mencium emblem di bajuku ini, maka kau akan 
dihukum mati dengan cepat," suara Sang Inkuisitor dingin, penuh ancaman.

Pria berambut gondrong itu diam. Tangan dan kakinya yang diikat ke empat 
penjuru mata angin ditarik oleh kuda hingga otot-otot dan tulangnya merenggang. 
Ia kesakitan, tapi tak mengaduh.

Siksaan berjalan terus di tengah teriakan ngeri orang banyak yang menyaksikan. 
Namun pria itu masih diam, sampai suatu titik Sang Inkuisitor menyuruh semua 
yang ada di lapangan itu untuk diam, karena si pria bertubuh tegap hendak 
mengeluarkan sepatah kata.

Dengan kerongkongan yang sakit dan lidah yang terasa kelu, si pria susah payah 
berteriak: FREEDOM! Merdeka.

Pria itu William Wallace, pejuang legendaris Skotlandia abad pertengahan yang 
melawan penjajahan Monarki Inggris. Dalam film Braveheart, William tak pernah 
termotivasi untuk berperang. Ia hanya ingin hidup tenang bersama istrinya, di 
sepetak lahan di tengah pegunungan Skotlandia yang hijau.

Namun betapa hebatnya hidup mentransformasi sebuah mimpi. Ketika prajurit 
Inggris membunuh calon istrinya dan merusak desanya, tahulah William: ia 
ditakdirkan untuk melawan. Hidup tidak seindah surga, dan keadilan tidak turun 
begitu saja dari langit. Dan, ia melawan, sebenar-benarnya melawan. Hidup mulia 
atau mati sebagai syahid.

Pada akhirnya, William memang mati. Tubuhnya dimutilasi, dan dikirimkan ke 
empat penjuru mata angin sebagai peringatan kepada rakyat Skot untuk tidak 
memberontak.

Kerajaan Inggris menyatakan William telah dikalahkan. Tapi benarkah ia telah 
ditaklukkan? Kita semua terbiasa mengasosiasikan 'mengalahkan' dengan 
'menaklukkan'. Kekalahan kita anggap sebagai ketundukan terhadap yang menang. 
Yang menang merampas semuanya, termasuk kepatuhan dari yang dikalahkan. Dalam 
hal ini, menang dan kalah kita garis dalam dua warna, hitam dan putih. Tidak 
ada elan hidup yang menghargai 'kekalahan' sebagai bagian dari perjuangan 
panjang terhadap sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran.

Tak heran, jika kita sering salah baca, menganggap sebuah proses berhenti pada 
'kemenangan' dan 'kekalahan'. Kita terbiasa menghargai manusia dari pencapaian 
akhir 'menang' atau 'kalah'. 'Menang' kita sanjung, 'kalah' kita tendang: tak 
ada urusan apakah kemenangan itu dicapai dengan cara-cara kotor yang melukai 
semangat perjuangan itu sendiri.

William memang dikalahkan. 'Yang lemah' akan selalu merasa terteror saat merasa 
kalah. Namun, William tidak lemah dan tak bisa dilemahkan. Ia keras kepala. 
Setidaknya ketika ia memekik 'merdeka', orang tahu bahwa Sang Inkuisitor gagal 
menciptakan rasa takut.

Saya merasa ada epos dalam kekalahan William. Mungkin juga sesuatu yang agung. 
Saya tidak tahu, apakah epos seperti itu juga ada dalam diri Indra Jaya 
Piliang, saat menulis biografi politiknya sebagai politisi Golkar dan kepala 
sub judul 'Tiga Kekalahan'. Yang terang, dari Indra, saya semakin tahu bahwa 
apa yang dikatakan Goenawan Mohamad benar: politik adalah tugas sedih.

Memasuki dunia politik praktis bagi Indra berarti melintasi demarkasi tabu tak 
kasat mata. Di negeri ini, kaum intelektual-akademisi diperhadapkan vis a vis 
dengan para politisi praktis. Dengan pola oposisi biner strukturalisme, mudah 
ditebak, yang pertama mewakili kepentingan dan suara yang lebih suci, ketimbang 
yang kedua. Idealisme versus pragmatisme, prinsip melawan dagang sapi.

Saya tidak tahu bagaimana asal-muasal dikotomi ini. Barangkali para 
cerdik-pandai di negeri ini mengimani diktum klasik Julien Benda: bahwa kaum 
cendekia tak hendak mengkhianati prinsip-prinsip kebenaran untuk kekuasaan.

Saya merasa ada yang salah dengan negeri ini. Kita terlanjur basah menganggap 
dalam politik tak ada kebenaran, hanya kepentingan yang profan. Kita sudah 
zakelijk menganggap tak ada yang 'etis' dalam politik praktis. Maka kita 
mengharamkan dan mencibiri orang-orang cerdik-pandai yang semula berumah di 
atas awan namun memilih memasuki dunia politik kekuasaan.

Ini sebenarnya sebuah keyakinan yang ganjil di negeri tempat dicecokkannya 
doktrin moral sejak sekolah dasar. Bagaimana bisa kita bersikap ambigu: di satu 
sisi mengomel karena gedung parlemen tak ubahnya taman kanak-kanak, dan diisi 
orang-orang yang tak beretika, namun di sisi yang lain kita mencibir kaum 
cerdik-pandai yang selama ini bergumul dengan sesuatu yang etis masuk ke 
wilayah ini.

Bagaimana hendak mengharapkan perubahan: saat di satu titik kita enggan 
menempuh jalan pintas revolusi (menghabisi generasi tua yang sudah kadung 
menanamkan oligarki), namun sekaligus menampik jalur lamban dengan membiarkan 
kaum intelektual non partisan masuk ke dunia politik, untuk menggantikan kaum 
tua yang sulit berubah.

"Mentalitas ketertundukan publik terhadap pemerintah sekaligus alergi terhadap 
politisi adalah bagian dari kelanjutan mentalitas kolonial. Soekarno, Hatta, 
Syahrir dan politisi quo intelektual pada zamannya juga dianggap benalu bagi 
pemerintahan kolonial. Padahal kita tahu kemudian bahwa jalan politiklah yang 
membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan," tulis Indra.

Maka, orang-orang seperti Indra atau Budiman Sudjatmiko (aktivis gerakan 
mahasiswa kiri yang menjadi politisi PDI Perjuangan), pada titik ini menempuh 
jalan pedang yang sunyi dalam hidup mereka. "Politics is a war without 
bloodshed," kata Mao Tse Tung. Tidak ada darah yang tumpah dalam politik. 
Namun, ini jalan perang di mana para pendekar berjalan dalam kesendirian, 
seperti dalam novel-novel silat klasik. "Tidak ada yang benar-benar mengajak 
saya berkawan dalam kehidupan politik praktis ini," tulis Indra.

Menyedihkan memang, saat seribu kawan pergi karena pilihan-pilihan bebas kita. 
Ini seperti membenarkan apa yang didalilkan Sartre, bahwa kita dikutuk untuk 
bebas, dan oleh karenanya kita harus menanggung sendiri ongkos kebebasan itu.

Dalam adu balap kekuasaan, konsep perkawanan berubah menjadi 'persekutuan', 
'aliansi' untuk membangun sebuah angkatan perang. Tak ada kasih sayang dalam 
sebuah persekutuan. Dalam politik, jika Anda tak bisa dicintai dan ditakuti 
sekaligus, kata Niccolo Machiavelli, "lebih baik untuk memilih ditakuti".

"Orang tidak begitu merasa takut berbuat jahat terhadap seseorang yang membuat 
dirinya dicintai daripada terhadap orang yang membuat dirinya dibenci...Manusia 
makhluk yang lemah; ia akan memutuskan ikatan cinta, kalau itu 
menguntungkannya; tapi rasa takut diperkuat oleh kengerian akan hukuman yang 
selalu efektif," demikian risalah Machiavelli dalam Il Principe, sebuah buku 
kecil yang bicara tentang kekuasaan dan politik.

Boleh jadi Machiavelli tepat. Ia bicara soal naluri manusia, seperti puisi 
Sapardi Djoko Darmono: "Dalam setiap diri kita, berjaga-jagalah/segerombolan 
serigala." 

Tapi Machiavelli tak selamanya benar. Manusia adalah makhluk berwarna dan tak 
semuanya harus mengenai kekuasaan dan penguasaan. Habermas bicara soal tindak 
komunikatif, di mana manusia tidak bisa dipaksa untuk tunduk. Dari ruang 
komunikatif ini, muncul apa yang disebut penghormatan. 

Suatu kala, dalam upaya memenangkan pemilihan umum di Daerah Pemilihan Sumatra 
Barat 2, Indra mengirimkan surat ke empat penjuru mata angin untuk 226 wali 
nagari. Mengherankan sebenarnya, kenapa Indra repot-repot mengirimkan surat di 
zaman modern ini, jika bisa menelpon. Namun dalam surat ada rasa hormat 
terhadap posisi manusia, sebuah penghargaan dan tak memandang manusia dalam 
bingkai nalar instrumental.

Indra menampik menggunakan para makelar politik. Ia menolak untuk membeli 
kesetiaan pemilih dalam pemilu. Ia memilih untuk berpihak pada seorang calon 
presiden yang dicintai karena kejenakaan dan kecekatannya, bukan ditakuti 
karena kekuasaannya. Ia juga menolak menarik diri dari gelanggang Musyawarah 
Nasional PG, dan tetap keras kepala mendukung seorang kandidat yang mustahil 
menang, karena mereka adalah generasi pelintas batas politik: sesuatu yang 
penting dalam proses ke-Indonesiaan.

Namun Indra juga menolak bergeser dari tanggungjawab etisnya. Ketika Yuddy 
Chrisnandy, kawan yang didukungnya dalam Munas Golkar, melakukan pendekatan 
dengan Tommy Suharto, anak kesayangan mantan Presiden Suharto, ia menampik 
ikut. Ia tak ingin mengecewakan kawan-kawan segenerasinya. Ia tak ingin 
kehilangan kawan-kawan lagi.

Entahlah. Mungkin karena itu semua Indra akhirnya kalah. Namun setidaknya 
kekalahan itu tetap menjadikannya manusia yang menapak tanah. Jika politik 
adalah sebuah perang panjang kehidupan, ia telah terkapar di tiga medan tempur. 
Namun saya kira ia tak layu. Setidaknya, ia tak lemah dan telah 
sebenar-benarnya melawan demi prinsip-prinsip hidupnya. Saya kira itu yang 
terpenting. (*)

Jember, 21 Januari 2010
Oryza A. Wirawan
Wartawan www.beritajatim.com. 
(Dari buku Indra Jaya Piliang, 2010, Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga 
Kekalahan, Yogyakarta: Penerbit Ombak, halaman 541-546).
http://www.indrapiliang.com/2010/04/05/oryza-a-wirawan-kalah/

******Bagi mau yg hadir launching buku "Mengalir Meniti Ombak" dan 
"Bouraq-Singa Kontra Garuda", sekaligus Diskusi Publik:"Setahun Pemilu: Meretas 
Regenerasi Sistemik", Jum'at, 09 April 2010 di JMC jam 19.00, silakan daftar ke 
Lina (0813.1872.4725), Santi (0818.184.205) & Dian (0813.1977.1611)******


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke