Da IJP
Dalam pilemko disabuikan kalau semanagatnyo tatap ado di nagari
Skotland...
Semoga samangaik ko tatap ado...terutamo bagi pendukung JK ko taraso
bana padiahnyo...dek kalah murah bana...

Ko salah satu film koleksi kito...tapi jauah labiah rancak dicaliak
versi orinyo dari pado alah lewat sensor film...he..he..

Kalau ado dunsanak mangoleksi "Legendof the falls" uda pitt jo om homkin
bintangnyo,.. tolong kopian kito ciek lewat japri...kito alah cari
ORInyo susah mancarinyo..apo lai bajakan, kabanyakan koleksi nan
kualitasnyo ndak rancak...

Aslim, MS

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Indra Jaya Piliang
Sent: Tuesday, April 06, 2010 12:21 PM
To: [email protected]
Cc: pasar buku
Subject: [...@ntau-net] Oryza A Wirawan: Kalah....

Kalah 
oleh 
Oryza A Wirawan.

'Kekalahan' mengingatkan saya pada adegan ini: Seorang pria berambut
gondrong berbadan tegap dibawa ke sebuah panggung. Pakaiannya
acak-acakan. Tangannya terikat. Lehernya dibebat tali besar, ditarik
oleh beberapa serdadu. Ia berjalan di setapak yang terbentuk oleh
kerumunan manusia, yang segera saja melemparinya dengan buah-buahan
busuk.

Di atas panggung, seorang berpakaian merah, dia seorang inkuisitor yang
ditemani seorang algojo bertopeng dan bertubuh besar yang menantinya. Di
atas sebuah meja, telah tertata rapi berbagai model pisau dan alat
penyiksa. Sang Inkuisitor tersenyum sinis.

"Jika kau mau meminta maaf dan mencium emblem di bajuku ini, maka kau
akan dihukum mati dengan cepat," suara Sang Inkuisitor dingin, penuh
ancaman.

Pria berambut gondrong itu diam. Tangan dan kakinya yang diikat ke empat
penjuru mata angin ditarik oleh kuda hingga otot-otot dan tulangnya
merenggang. Ia kesakitan, tapi tak mengaduh.

Siksaan berjalan terus di tengah teriakan ngeri orang banyak yang
menyaksikan. Namun pria itu masih diam, sampai suatu titik Sang
Inkuisitor menyuruh semua yang ada di lapangan itu untuk diam, karena si
pria bertubuh tegap hendak mengeluarkan sepatah kata.

Dengan kerongkongan yang sakit dan lidah yang terasa kelu, si pria susah
payah berteriak: FREEDOM! Merdeka.

Pria itu William Wallace, pejuang legendaris Skotlandia abad pertengahan
yang melawan penjajahan Monarki Inggris. Dalam film Braveheart, William
tak pernah termotivasi untuk berperang. Ia hanya ingin hidup tenang
bersama istrinya, di sepetak lahan di tengah pegunungan Skotlandia yang
hijau.

Namun betapa hebatnya hidup mentransformasi sebuah mimpi. Ketika
prajurit Inggris membunuh calon istrinya dan merusak desanya, tahulah
William: ia ditakdirkan untuk melawan. Hidup tidak seindah surga, dan
keadilan tidak turun begitu saja dari langit. Dan, ia melawan,
sebenar-benarnya melawan. Hidup mulia atau mati sebagai syahid.

Pada akhirnya, William memang mati. Tubuhnya dimutilasi, dan dikirimkan
ke empat penjuru mata angin sebagai peringatan kepada rakyat Skot untuk
tidak memberontak.

Kerajaan Inggris menyatakan William telah dikalahkan. Tapi benarkah ia
telah ditaklukkan? Kita semua terbiasa mengasosiasikan 'mengalahkan'
dengan 'menaklukkan'. Kekalahan kita anggap sebagai ketundukan terhadap
yang menang. Yang menang merampas semuanya, termasuk kepatuhan dari yang
dikalahkan. Dalam hal ini, menang dan kalah kita garis dalam dua warna,
hitam dan putih. Tidak ada elan hidup yang menghargai 'kekalahan'
sebagai bagian dari perjuangan panjang terhadap sesuatu yang diyakini
sebagai kebenaran.


Tak heran, jika kita sering salah baca, menganggap sebuah proses
berhenti pada 'kemenangan' dan 'kekalahan'. Kita terbiasa menghargai
manusia dari pencapaian akhir 'menang' atau 'kalah'. 'Menang' kita
sanjung, 'kalah' kita tendang: tak ada urusan apakah kemenangan itu
dicapai dengan cara-cara kotor yang melukai semangat perjuangan itu
sendiri.

William memang dikalahkan. 'Yang lemah' akan selalu merasa terteror saat
merasa kalah. Namun, William tidak lemah dan tak bisa dilemahkan. Ia
keras kepala. Setidaknya ketika ia memekik 'merdeka', orang tahu bahwa
Sang Inkuisitor gagal menciptakan rasa takut.

Saya merasa ada epos dalam kekalahan William. Mungkin juga sesuatu yang
agung. Saya tidak tahu, apakah epos seperti itu juga ada dalam diri
Indra Jaya Piliang, saat menulis biografi politiknya sebagai politisi
Golkar dan kepala sub judul 'Tiga Kekalahan'. Yang terang, dari Indra,
saya semakin tahu bahwa apa yang dikatakan Goenawan Mohamad benar:
politik adalah tugas sedih.

Memasuki dunia politik praktis bagi Indra berarti melintasi demarkasi
tabu tak kasat mata. Di negeri ini, kaum intelektual-akademisi
diperhadapkan vis a vis dengan para politisi praktis. Dengan pola
oposisi biner strukturalisme, mudah ditebak, yang pertama mewakili
kepentingan dan suara yang lebih suci, ketimbang yang kedua. Idealisme
versus pragmatisme, prinsip melawan dagang sapi.

Saya tidak tahu bagaimana asal-muasal dikotomi ini. Barangkali para
cerdik-pandai di negeri ini mengimani diktum klasik Julien Benda: bahwa
kaum cendekia tak hendak mengkhianati prinsip-prinsip kebenaran untuk
kekuasaan.

Saya merasa ada yang salah dengan negeri ini. Kita terlanjur basah
menganggap dalam politik tak ada kebenaran, hanya kepentingan yang
profan. Kita sudah zakelijk menganggap tak ada yang 'etis' dalam politik
praktis. Maka kita mengharamkan dan mencibiri orang-orang cerdik-pandai
yang semula berumah di atas awan namun memilih memasuki dunia politik
kekuasaan.

Ini sebenarnya sebuah keyakinan yang ganjil di negeri tempat
dicecokkannya doktrin moral sejak sekolah dasar. Bagaimana bisa kita
bersikap ambigu: di satu sisi mengomel karena gedung parlemen tak
ubahnya taman kanak-kanak, dan diisi orang-orang yang tak beretika,
namun di sisi yang lain kita mencibir kaum cerdik-pandai yang selama ini
bergumul dengan sesuatu yang etis masuk ke wilayah ini.

Bagaimana hendak mengharapkan perubahan: saat di satu titik kita enggan
menempuh jalan pintas revolusi (menghabisi generasi tua yang sudah
kadung menanamkan oligarki), namun sekaligus menampik jalur lamban
dengan membiarkan kaum intelektual non partisan masuk ke dunia politik,
untuk menggantikan kaum tua yang sulit berubah.

"Mentalitas ketertundukan publik terhadap pemerintah sekaligus alergi
terhadap politisi adalah bagian dari kelanjutan mentalitas kolonial.
Soekarno, Hatta, Syahrir dan politisi quo intelektual pada zamannya juga
dianggap benalu bagi pemerintahan kolonial. Padahal kita tahu kemudian
bahwa jalan politiklah yang membebaskan Indonesia dari belenggu
penjajahan," tulis Indra.

Maka, orang-orang seperti Indra atau Budiman Sudjatmiko (aktivis gerakan
mahasiswa kiri yang menjadi politisi PDI Perjuangan), pada titik ini
menempuh jalan pedang yang sunyi dalam hidup mereka. "Politics is a war
without bloodshed," kata Mao Tse Tung. Tidak ada darah yang tumpah dalam
politik. Namun, ini jalan perang di mana para pendekar berjalan dalam
kesendirian, seperti dalam novel-novel silat klasik. "Tidak ada yang
benar-benar mengajak saya berkawan dalam kehidupan politik praktis ini,"
tulis Indra.


Menyedihkan memang, saat seribu kawan pergi karena pilihan-pilihan bebas
kita. Ini seperti membenarkan apa yang didalilkan Sartre, bahwa kita
dikutuk untuk bebas, dan oleh karenanya kita harus menanggung sendiri
ongkos kebebasan itu.

Dalam adu balap kekuasaan, konsep perkawanan berubah menjadi
'persekutuan', 'aliansi' untuk membangun sebuah angkatan perang. Tak ada
kasih sayang dalam sebuah persekutuan. Dalam politik, jika Anda tak bisa
dicintai dan ditakuti sekaligus, kata Niccolo Machiavelli, "lebih baik
untuk memilih ditakuti".

"Orang tidak begitu merasa takut berbuat jahat terhadap seseorang yang
membuat dirinya dicintai daripada terhadap orang yang membuat dirinya
dibenci...Manusia makhluk yang lemah; ia akan memutuskan ikatan cinta,
kalau itu menguntungkannya; tapi rasa takut diperkuat oleh kengerian
akan hukuman yang selalu efektif," demikian risalah Machiavelli dalam Il
Principe, sebuah buku kecil yang bicara tentang kekuasaan dan politik.

Boleh jadi Machiavelli tepat. Ia bicara soal naluri manusia, seperti
puisi Sapardi Djoko Darmono: "Dalam setiap diri kita,
berjaga-jagalah/segerombolan serigala." 

Tapi Machiavelli tak selamanya benar. Manusia adalah makhluk berwarna
dan tak semuanya harus mengenai kekuasaan dan penguasaan. Habermas
bicara soal tindak komunikatif, di mana manusia tidak bisa dipaksa untuk
tunduk. Dari ruang komunikatif ini, muncul apa yang disebut
penghormatan. 

Suatu kala, dalam upaya memenangkan pemilihan umum di Daerah Pemilihan
Sumatra Barat 2, Indra mengirimkan surat ke empat penjuru mata angin
untuk 226 wali nagari. Mengherankan sebenarnya, kenapa Indra repot-repot
mengirimkan surat di zaman modern ini, jika bisa menelpon. Namun dalam
surat ada rasa hormat terhadap posisi manusia, sebuah penghargaan dan
tak memandang manusia dalam bingkai nalar instrumental.

Indra menampik menggunakan para makelar politik. Ia menolak untuk
membeli kesetiaan pemilih dalam pemilu. Ia memilih untuk berpihak pada
seorang calon presiden yang dicintai karena kejenakaan dan kecekatannya,
bukan ditakuti karena kekuasaannya. Ia juga menolak menarik diri dari
gelanggang Musyawarah Nasional PG, dan tetap keras kepala mendukung
seorang kandidat yang mustahil menang, karena mereka adalah generasi
pelintas batas politik: sesuatu yang penting dalam proses
ke-Indonesiaan.

Namun Indra juga menolak bergeser dari tanggungjawab etisnya. Ketika
Yuddy Chrisnandy, kawan yang didukungnya dalam Munas Golkar, melakukan
pendekatan dengan Tommy Suharto, anak kesayangan mantan Presiden
Suharto, ia menampik ikut. Ia tak ingin mengecewakan kawan-kawan
segenerasinya. Ia tak ingin kehilangan kawan-kawan lagi.

Entahlah. Mungkin karena itu semua Indra akhirnya kalah. Namun
setidaknya kekalahan itu tetap menjadikannya manusia yang menapak tanah.
Jika politik adalah sebuah perang panjang kehidupan, ia telah terkapar
di tiga medan tempur. Namun saya kira ia tak layu. Setidaknya, ia tak
lemah dan telah sebenar-benarnya melawan demi prinsip-prinsip hidupnya.
Saya kira itu yang terpenting. (*)

Jember, 21 Januari 2010
Oryza A. Wirawan
Wartawan www.beritajatim.com. 
(Dari buku Indra Jaya Piliang, 2010, Mengalir Meniti Ombak: Memoar
Kritis Tiga Kekalahan, Yogyakarta: Penerbit Ombak, halaman 541-546).
http://www.indrapiliang.com/2010/04/05/oryza-a-wirawan-kalah/

******Bagi mau yg hadir launching buku "Mengalir Meniti Ombak" dan
"Bouraq-Singa Kontra Garuda", sekaligus Diskusi Publik:"Setahun Pemilu:
Meretas Regenerasi Sistemik", Jum'at, 09 April 2010 di JMC jam 19.00,
silakan daftar ke Lina (0813.1872.4725), Santi (0818.184.205) & Dian
(0813.1977.1611)******


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan
ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email
lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke