Sebenarnya Kawasan Mandeh sejak tahun 2001 sudah masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional bersama Bunaken dan Biak. saat ini Biak dan Bunaken malah sudah betul-betul menjadi destinasi wisata internasional berkat kuatnya komitmen pimpinan daerah dan masyarakatnya sehingga dilakukanlah promosi besar-besaran sampai ketingkat internasional, misalnya Bunaken dengan "Sail Bunaken" thn 2009 dan Papua & Maluku dengan "Sail Banda" thn 2010. Kapan Sumatera Barat.....? dengan Mandehnya????[?][?][?]. Padahal ada satu kawasan yang sangat potensial untuk dikembangkan untuk wisata bahari dan bahkan telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Laut Pulau Pieh dengan SK MenHutBun thn 2000. Dari beberapa penyelaman yang pernah saya lakukan di kawasan ini terdapat lebih dari 15 titik "hotspot" penyelaman yang tidak kalah indahnya termasuk dengan keunikan biota lautnya dengan yang ada di Bunaken dan Wakatobi, tetapi sekali lagi belum diperhatikan dan digarap maksimal.
Ada beberapa kendala utama bagi sumatera barat untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata: 1. Dilema cultural (budaya), masih ada sebagian pemuka masyarakat terutama pemuka adat dan agama yang belum sepenuhnya setuju kalau Sumbar dijadikan wisata massal (mungkin yg dibayangkan seperti di Bali) misalnya. Jadi harus disepakati dulu bersama mau kemana arahnya. 2. sumberdaya manusia yang belum memadai dan menguasai seluk beluk pengembangan pariwisata, karena trend wisata sekarang sesungguhnya sudah bergeser dari wisata massal yang glamour dan terkesan hura-hura kearah wisata yang ramah lingkungan (ecotourism), wisata budaya, keasrian alam dsb. yang sebenarnya sangat cocok untuk daerah SUMBAR, tapi belum banyak yang tahu sumberdaya manusia yang ada di daerah bagaimana membuat konsep dan marketingnya di Sumbar 3. perhatian dan komitmen pemerintah daerah baik eksekutif maupun legislatif baru sebatas wacana dan retorika, belum ada tindakan nyata misalnya saja, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan "open sky" yang mana dilakukan pembukaan rute-rute penerbangan langsung dari beberapa negara "pengimpor" wisatawan, tentu saja ini harus diiringi dengan berbagai kebijakan lainnya...dsb. 4. dsb... Jadi kalau mau dikenal, maka sumbar harus meulai memperkenalkan diri dengan segala komitmen, konsistensi dan kesiapannya, jangan hanya dengan retorikan dan perencanaan di atas kertas saja. Wassalam, Rajo Alam 2010/4/11 Bot S Piliang <[email protected]> > Ninik Mamak, Bundo jo Dunsanak di Palanta... > > Akhir Maret lalu, saya berkesempatan mengunjungi kepulauan Karimun Jawa. > Kepulauan yang terdiri atas 27 pulau ini berada di utara Semarang dan secara > administrative tergabung dalam Kabupaten Jepara. Yang menarik dari kepulauan > ini adalah terumbu karang yang relative terjaga dan kesadaran penduduknya > untuk ikut serta memelihara pantai sangat tinggi. Sepanjang jalan di pulau > karimun Besar sangat rapi, saya jarangs ekali menemukan sampah. Bahkan di > dermaga juga bersih. Sampah yang ada malah di tengah laut yang merupakan > kiriman dari Semarang dan Jepara. > > Ternyata Kepulauan Karimun Jawa adalah wilayah konservasi dan ditetapkan > sebagai taman laut (mohon koreksi apabila saya salah, informasi ini saya > dapat dari pak Camat kepulauan Karimun Jawa yang kebetulan satu kapal dengan > rombonghan saya). > > Saya teringat kekayaan bahari ranah Minang yang tak kalah indahnya, yaitu > Kawasan Carocok mandeh, yang berada di perbatasan Padang dan Pesisir > Selatan. Boleh dikatakan, itulah satu-satunya kawasan wisata bahari > minangkabau yang bisa kita banggakan (maaf, saya tidak memasukkan mentawai > karena secara budaya Mentawai tidak termasuk dalam bentang alam > minangkabau). Apabila surge bahari terakhir dna satu-satunya ini salah urus, > maka hilanglah kebanggaan Sumbar dan berdosa lah kita pada anak kemenakan di > Ranah Minang nantinya. > > Pengelolaan karimun jawa bisa dijadikan salah satu contoh. Menurut saya, > kawasan Carocok Mandeh, yang terbentang dari kawasan Sungai Pisang sampai ke > Tanah Genting di dekat tarusan harus dijadikan kawasan konservasi bahari. > Artinya, tidak boleh melakukan eksploitasi bahari besar2an di lokasi > tersebut, pelarangan pengambilan terumbu karang atau penangkapan kan dalam > jumlah besar2an. > > Meskipun pemandangan pulau dan alam di Sekitar SIkuai, Cubadak dan Pagang > sangat indah, tapi jauh berbeda dengan pemandangan bawah lautnya yang boleh > dikatakan rusak parah. > > Menjadi daerah konservasi bukan berarti menghilangkan nilai ekonomis dari > daerah tersebut, banyak hal yang bisa dilakukan yang sejalan dengan > konservasi. Pariwisata adalah salah satunya, penduduk sungai Pisang dan > kampung2 terdekat bisa dididik untuk menjadi operator selam atau olah raga > air lainnya, kemudian menyewakan rumah2nya untuk wisatawan, kapal2 nelayan > bisa digunakan. > > Bahkan, seperti yang dilakukan di Pantai Lovina-Singaraja, Bali, para > nelayan menternakkan ikan hias di kawasan pantai lovina, dan menjadi sentra > produksi ikan hias terbesar di Indonesia. Tentu penduduk disekitar kawasan > tersebut bisa mendapat untung, tentu dengan edukasi yang tak putus-putus > dari pemerintah dan LSM terkait. > > Dari informasi yang saya dapat, beberapa pulau memang telah di jadikan > pulau konservasi, seperti konservasi Penyu, KOnservasi Siamang di Pulau > Marak, mungkin di Pulau Sirandah nantinya bisa dijadikan wilayah konservasi > kijang Sumatera, atau Pulau Cubadak dijadikan konservasi elang laut dsb. > > Dengan demikian, surga Bahari Minangkabau tetap terjaga, tidak habis di > patok-patok oleh pengusaha luar, dan penduduk local hanyajadi penonton atau > babu di tanah sendiri. > > > > Salam > > > Bot Sosani Piliang > Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream > www.botsosani.wordpress.com > Hp. 08123885300 > > > -- > . > Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat > lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe > -- Hery Yusamandra Science and Monitoring Coordinator Bali Office: Jalan Pengembak No. 3 Sanur, Bali, 80228, Indonesia T: +62-361-747-4398 | F : +62-361-286-445 | M : +62-811-381-1168 Labuan Bajo (Flores) Office: Gang Masjid Kampung Cempa, Labuan Bajo, Manggarai Barat 86554, NTT - Indonesia T: +62-385-41-448| F: +62-385-41-225| M : +62-811-381-1168 [email protected] | gokomodo.org | komodonationalpark.org -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.
<<330.gif>>
<<324.png>>
