From: adi [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, April 12, 2010 4:44 AM
From: syauqi yahya

Bangsa yang Suka (Pura-pura) Terkejut

Bagaimana kabar anda hari ini? Baik-baik saja? Belum bosan dengan semua
pemberitaan mengenai GT, SD, BA, atau SJ, Mr. X mungkin?

Jujur saja, saya merasa bosan. Bukan bosan pada kebenaran yang tengah
diungkapkan, tapi bosan pada kecenderungan bangsa ini untuk (pura-pura)
terkejut.

Ada perwira Polisi kaya raya, sebenarnya kita sudah tahu dari dulu. Ada
jaksa kaya raya, kita juga sudah tahu dari dulu. Ada orang pajak kaya
raya, rahasia umum. Ada orang Bea Cukai tajir berat, ga ada yang ga
tahu. Ada hakim kaya raya, hmmmm dah lama tau. Ada gubernur atau bupati,
berobat aja harus ke Singapur, bah....biasa aja. Ada anggota dewan kaya
mendadak, ga urus yang penting nyumbang ke konstituen....

Namun ketika ada percikan kasus - yang lagi panas sekarang misalnya -
kita sibuk mencaci maki kesana kemari, media sibuk ngintip2 rumah orang2
tersebut. Pendek kata, kita (pura-pura) terkejut. Seolah-olah itu hal
baru. Seolah-olah Indonesia indeks korupsinya sejajar Finlandia.
Seolah-olah semuanya.

Ada tulisan menarik di Jawa Pos beberapa hari yang lalu mengenai
tumpulnya sensor kebenaran bangsa ini. Misal kita bertetangga dengan
salah satu dari mereka, kita diam saja, membenarkan secara tidak
langsung kekayaan yang tidak biasa itu, yang penting dia baik, suka
nyumbang kalau ada acara kampung, suka nyumbang masjid, suka nyumbang
gereja. Tak pernah perduli duit itu dari mana....

Media juga sama saja. Tengok siapa2 pemegang saham mereka. Sebersih
malaikatkah? Atau mungkin pemilik mereka punya interes politik tertentu
terhadap kasus yang tengah berkembang, sehingga kasus ini dihajar
habis-habisan, dilebar-lebarkan, dipanjang-panjangkan...Tak perduli.
Sebab itu menjual rating. Kirim para reporter ke rumah2 mereka, bahas
panjang lebar seolah2 masyarakat selama ini ga tahu apa-apa tentang gaya
hidup mereka atau tentang asal usul duit mereka.

Saya tidak sedang membenarkan perilaku mereka, tentu saja. Salah adalah
salah dan patut dihukum. Tapi, rasanya kita tidak usah suka (pura-pura)
terkejut dah...

Basi.....

http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/10/bangsa-yang-suka-pura-pura-ter
kejut/

Tanggapan Tulisan

Paqq Y, saya tangkap sepenuhnya maksud anda krn kurang lebih kadang saya
berpikir spt apa yg anda papar disini. Terkejut? Bukan itu yg saya
lihat! Dari dulu banyak hati dan pikiran rakyat indonesia sudah
terkejut, saya percaya. Termasuk saya saat dulu masih jaman SD, tiap
kali lihat tanah luas dan dengar komentar orang yg bernada bangga
(padahal dekat dgn orang itu saja tidak!), "Oh ini tanahnya pak C,
pejabat Pertamina! Wah, rumahnya dimana2 ada".. "Oh ini milik si
Anu..pensiunan kantor pajak! Orang kaya tuh, seneng nyumbang buat
kegiatan RT ato kelurahan".. "Oh, ini luasnya ribuan meter..milik pak
jendral A".. Saya saat itu, bocah cilik pendiam tapi pemikir hal2
serabut, melongo terkagum krn nada bangga si komentator, seraya
membandingkan kondisi orangtua saya yg kontras 180 derajat. Selalu
tersisa pertanyaan dalam benak.."bagaimana bisa yah dapat uang sebanyak
itu?"..juga sebuah kesimpulan masa kecil dalam diam, "pegawai negri
kaya2 yah?!".

Beranjak remaja mulai well informed, dan sadar bahwa "pegawai negeri dan
militer tak seharusnya kaya raya" jika itu murni dari gaji. Kalau kaya
raya, kemungkinan dari warisan, bisnis/usaha sampingan (sementara
menimbulkan pertanyaan lain "lho, kok boleh PNS/Militer berbisnis, apa
ngga akan terjadi 'conflict of interest'?", SMA saya sudah dapat istilah
ini lho dari pelajaran favorit, Sosiologi! Hehe..), hibah, atau pilihan
lain..korupsi.

Jika yg terjadi adalah korupsi, kok bisa yah seluruh anggota keluarga
besar hingga masyarakat tetangga bersikap biasa2 aja tuh..aman2
aja..selamat tentram damai dan harmonis di masyarakat. Lalu dari mana
asal anggapan 'korupsi itu perbuatan tercela'? Senada dgn yg Paqq Y
bilang diatas, ya mgkin karena masy kita gak tegaan dan super
pengampun..atau super pelupa?? LOL.. Sepanjang ketercelaan seseorang itu
tak merecoki hal2 syariah dan tradisi agama bisa cincay lah.. Sepanjang
si koruptor hobi nyumbang RT, RW, Kelurahan, Kegiatan Remaja..selamat
laah. Sepanjang murah senyum sana-sini, rajin beribadah (apapun
agamanya)..tetep terhormat dan amaaaan. Dan banyak 'Sepanjang' lainnya..

Jadi, buat saya, komentar segelintir orang bahwa masyarakat indonesia
ini hipokrit alias munafik, ya tepat banget. Saya sepakat pendapat Paqq
Y, kalo kita mendiamkan saja perbuatan tercela, artinya kita suport!
Parahnya, perbuatan tercela-let's say korupsi di tanah air kita ini
seringkali 'terlegalkan'. Perbuatan korup sering dipelintir, dipermak
habis jadi sesuatu yang abu2 atau bahkan putih bersinar dgn keampuhan
senjata peraturan-perundangan!..

Well oh well..Yang salah tetap salah dan patut dihukum, yes certainly!
Bagaimana dengan aturan-perundangan yg justru korup..bisakah
membersihkan tindakan korup dgn sapu yg juga korup? Tentu tidak,
disitulah saatnya masyarakat sama2 perlu mendorong penggusuran produk
hukum yg korup utk diganti dgn produk bersih, walau sebagian bidan
perundangannya juga masih banyak yang korup..sepanjang suara masyarakat
yg mendorong tercipta dari hati dan pikiran yg bersih, maka masyarakat
sebagai ibu dari bayi aturan/perundangan akan tetap mampu melahirkan
aturan/perundangan bersih pula, karena bidan (DPR-MPR-Kabinet) hanyalah
pihak yg membantu..kekuatan dorongan tetap ada pada ibu sang pelahir
bayi!  

 

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke