Satpol PP dan Kaki Lima
Oleh K Suheimi

Editorial media Indonesia pagi ini sangat menyentuh ditutup dengan kalimat. 
Pristiwa Priuk kemari adalah Tragedi kemanusian! 
Dan Tragedi kemanusian itu telah Menghardik kesadaran kita bersama kenapa ini 
terjadi.

Menurut Editorial hari ini.
SATUAN Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menjadi kesatuan yang sedang disorot 
tajam. Disorot karena di mata warga Jakarta, dan banyak penduduk kota-kota 
besar umumnya, nama satpol adalah nama angker. Angker karena mereka terkenal 
bengis. 

Kerusuhan di Tanjung Priok sepanjang Rabu (14/4) yang melukai ratusan orang dan 
menewaskan tiga anggota satpol membuktikan betapa satuan yang berpenampilan 
mirip polisi itu adalah kelompok beringas yang sengaja dipelihara pemda. 
Pemprov DKI memelihara kelompok pemukul ini untuk menjamin perda-perda ditaati 
warga.

Saya jadi miris dan nangis ketika di TV ditayangkan
Anak kecil di keroyok satpol,
Brutal, memalukan.
"Satuan preman primitif" kata seseorang dalam interaktif di Editorial. "Masak 
anak kecil disiksa dan ditenteng seperti kambing".

Sebaliknya hati ini menjerit ketika menyaksikan orang yang me makai Pakaian 
atribut ke islaman meginjak org tak berdaya, sampai menimbulkan ke matian 
Satpol. Ah sadis sekali, betul2 Tak berbudi dan tak pekerti
Orang tak berdaya dipukul dan di bacok


Terhitung sejak krisis 1997 pertumbuhan PKL begitu pesat (terutama dikota2 
besar). Dan nyatanya hingga kini dari berdagang di pinggir jalan itulah 
masyarakat kita bisa bertahan. Kemampuan PKL untuk bertahan (dari krisis) harus 
diuji kembali oleh Perda2 yang tidak berpihak (kepada mereka). Dari Perda yang 
tidak berpihak itulah, maka Satpol PP berani menjalankan aksi pembongkaran 
paksa lapak2 yang dianggap melawan Perda.
ya, sungguh kondisi yang sangat dilematis, dimana2 terjadi PHK massal, karena 
banyak yang tidak kuat dengan hantaman krisis global yang lebih parah,  mereka 
yang ter- PHK harus berjuang agar tetap bisa survive. Salah satu pilihan mereka 
adalah menjadi pekerja informal di kota2 besar.

PKL, asongan, tukang cukur, pengamen, dan jenis usaha informal lainnya adalah 
pilihan bagi karyawan yg ter-PHK. Bagi mereka yang memperoleh pesangon dari 
perusahaan tak sedikit memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL).

PKL adalah jenis usaha yang (sering kita jumpai) dipinggir2 jalan (ramai) atau 
diatas trotoar. dengan modal seadanya itulah mereka (baca : PKL) mencari tempat 
yang strategis dengan harapan bahwa modal bisa segera kembali dan syukur2 
mendapatkan keuntungan dari hasil jualan tersebut.

Akan tetapi keberadaan mereka seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak baik 
oleh aparat pemerintahan kota, dengan alasan merusak keindahan kota atau 
menggangu kenyamanan pejalan kaki yang hendak menggunakan trotoar. Dengan 
berlindung peraturan daerah maka tak segan2 Satuan Polisi Pamong Praja merazia 
keberadaan PKL

Sulitnya mendapat pekerjaan, menghantarkan orang pada pilihan bekerja sebagai 
Satpol PP.

Kehidupan sebagai Satpol pp tidaklah mudah, tapi kerna tak ada pilihan lain.

Betapa sedih saya lihat, satpol PP yang masih muda dan mau akan menginjak 
jenjang perkawinan, tanpa senjata, hanya karena tugas dan memakai sergaman. 
Mereka maju, nekat, menyerbu ribuan rakyat yang siap dg clurit dan parang. Maka 
dia jaddi bulan-bulanan dan terkapar tak berdaya, ditengah masa yang emosionil.

Yang tampak dari tayangan TV adalah Masyarakat dan satpol siap perang.
Tak tampak usaha untuk Kompromi supaya pristiwa tragedi kemanusiaan itu jangan 
terjadi

Ah kata hati saya meratap pilu, orang-orang kecil orang-orang yang payah hidup, 
sama-sama tak mau kalah. Berperang ingin menghancurkan dan menghabiskan sesama.
Oh pilunya hati ini ketika mengetahui satpol pp yang tewas itu adalah anak2 
muda , harapan keluarga dan bangsa, penopang kehidupan keluarga yang tak 
berpunya.
Mereka adalah korban.

Apakah yang salah? Siapakah yang salah? Mungkin jawabannya ada dalam sebuah 
lagu "Mana kutahu"

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Sucinya dalam Al_Qur'an


Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu', sebenarnya tangan 
merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah 
mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; 
Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan 
kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran 
bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan 
kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api 
peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan 
Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. 5;64


Pekanbaru 16 April 2010

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke