Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
Saya menganggap artikel Kompas di bawah ini penting bagi kita, sebagai
masyarakat yang ber-ABS SBK.
Untuk mempersiapkan sikap bersama kita itu perlu diwujudkan sebuah Forum
Adat`dan Syarak atau Forum Tungku Tigo Sajarangan, sebagai wadah kita
bermusyawarah dan mengambil keputusan bersama.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
SIKAP ORGANISASI KEAGAMAAN
Muhammadiyah dan NU Harus Berani
Kompas, Jumat, 16 April 2010 | 03:12 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS - Organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul
Ulama, perlu lebih berani menyuarakan kritik pada kebijakan pemerintah ataupun
penyelewengan di masyarakat. Dengan banyaknya anggota, suara organisasi
keagamaan mempunyai kekuatan memperbaiki bangsa.
Hal itu terungkap dalam diskusi bertema ”Muhammadiyah Abad Ke-2: Welfare State
dan Gerakan Sosial” di Yogyakarta, Kamis (15/4). Diskusi diselenggarakan
menjelang Muktamar 100 Tahun Muhammadiyah pada 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta.
”Dengan jumlah pengikut Nahdlatul Ulama (NU) sekitar 45 juta orang dan
Muhammadiyah yang sekitar 25 juta orang, suara NU dan Muhammadiyah akan
mempunyai dampak besar pada kelangsungan negara,” kata Zuli Qodir, peneliti
Islam, yang juga moderator diskusi itu.
Ketua PWNU DI Yogyakarta Mochammad Maksum mengatakan, selama ini organisasi
keagamaan cenderung diam saat krisis sosial dan krisis moral. Padahal,
keberanian organisasi keagamaan untuk bersuara makin dibutuhkan karena krisis
demikian parah, seperti terlihat dari berbagai masalah, di antaranya korupsi
besar-besaran, layanan pendidikan dan kesehatan yang tidak memenuhi standar,
hingga berkurangnya simpati dan empati.
Menurut Maksum, beberapa tahun terakhir ini, organisasi keagamaan melenceng
dari tujuan awal, yaitu mendorong terciptanya masyarakat yang adil dan
sejahtera. Organisasi keagamaan semakin sibuk pada kegiatan politik sehingga
kurang memerhatikan kondisi masyarakat.
Badan-badan usaha organisasi keagamaan pun semakin memperlihatkan kecenderungan
mencari keuntungan daripada memberi pelayanan kepada masyarakat miskin. ”Rumah
sakit milik organisasi keagamaan, misalnya, perlu dipertanyakan apakah masih
bertujuan melayani masyarakat miskin atau lebih untuk cari untung,” ujarnya.
Untuk mengatasinya, organisasi keagamaan perlu kembali menjadi gerakan sosial
sehingga tidak terjebak pada kepentingan mencari profit ataupun politik praktis.
Terkait hal itu, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, saat ini
Muhammadiyah tengah menghadapi tantangan baru karena bergesernya permasalahan
di masyarakat menjadi persoalan-persoalan yang bersifat struktural. Akibatnya,
permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah menjadi semakin rumit.
”Kami berhadapan dengan permasalahan yang bersifat struktural yang tidak bisa
dipecahkan dengan hanya mendirikan sekolah atau rumah sakit saja,” ujarnya.
(IRE)
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe