Ternyata Habib Hasan bin M. Al Haddad (yg dikenal sbg "Mbah" Priok)
belum sempat berdakwah di Pulau Jawa, terutama pantai utara Jakarta,
sebab meninggal tenggelam sebelum mencapai pulau jawa dalam pelayaran
selama 2 bulan dari Palembang.

Coba simak artikel berikut:

Siapa Mbah Priok? Kenapa sejumlah warga seperti memiliki ikatan
ideologis dengan sosoknya. 

Mbah Priok adalah seorang ulama. Masyarakat menyebutnya Habib. Ia
dilahirkan di Palembang tahun 1727 dengan nama Al Imam Al`Arif Billah
Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA. Menurut catatan,
pada tahun 1756 Habib Hasan bin Muhammad bersama Al Arif Billah Al Habib
Ali Al Haddad RA pergi ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.
Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Aneka rintangan
menghadang. 

Legenda yang tersebar dari mulut ke mulut, konon salah satu rintangan
yang menghadang di jalan adalah armada Belanda dengan persenjataan
lengkap. Tanpa peringatan, perahu Habib dihujani meriam. Namun, tak satu
pun meriam mengenai kapal. 

Lolos dari kejaran perahu Belanda, kapal Habib digulung ombak besar.
Semua perlengkapan di dalam kapal hanyut dibawa gelombang. Yang tersisa
hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan.
Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras dan membuat
kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, kedua ulama itu
terseret hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama. 

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah tewas,
sedangkan Muhammad Al Hadad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat
periuk dan sebuah dayung.  Warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh
dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa
dayung yang menyertainya, sedangkan periuk diletakkan di sisi makam. 

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung (mitos).
Sementara periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus
ombak hingga ke tengah laut. Menurut cerita, selama tiga hingga empat
tahun setelah pemakaman itu, warga beberapa kali melihat periuk yang
terbawa ombak kembali menghampiri makam Habib. 

Diyakini, kisah periuk ini yang melatarbelakangi sebutan Priok untuk
kawasan di utara Jakarta ini. Sebutan "Mbah" disematkan kepada Habib
Hassan kiranya merupakan penghormatan terhadap beliau. Kisah periuk nasi
dan dayung yang menjadi pohon tanjung lantas dipercaya sebagai
asal-muasal nama Tanjung Priok bagi kawasan tersebut. Setelah peristiwa
ini, sejumlah keluarga Habib Hassan ikut pindah ke Batavia menyebarkan
Islam dan mengurus makamnya.  

Sementara itu, Habib Ali Al Haddad, rekan seperjalanan Habib Hassan,
yang selamat sempat menetap di daerah tersebut. Ia menyebarkan agama
Islam hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menetap di Sumbawa dan wafat di sana. 

Kisah perjuangan syiar Habib Hassan terus disampaikan dari mulut ke
mulut. Karena perjuangan hidupnya dianggap suci, penghormatan terhadap
makamnya berlangsung hingga kini. Selama sekian abad, makam itu
dijadikan tempat berziarah.

 

Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/14/07511811/Mbah.Priok.dan.Le
genda.Tanjung.Priok 

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke