Maaf, karena ada bagian yang hilang dalam posting sebelumnya -- diambil Koran
Digital di e-papernya Web Koran Tempo --, ini naskah aslinya. Terima kasih...
Koran Tempo, 23 Mei 2010
Ada Udang di Balik Kepala
Oleh
Indra Jaya Piliang
Penulis Buku “Mengalir Meniti Ombak” dan “Bouraq-Singa Kontra Garuda”
Pendekatan spasial akan membawa kita pada kesimpulan bahwa beragam peristiwa
yang bersumber kepada kekuasaan hari ini tidak saling berhubungan. Kasus Susno
Duadji berbeda dengan Gayus Tambunan. Tragedi Koja tidak sama dengan kompetisi
merebut ketua umum partai-partai politik. Kupu-kupu yang terbang di lembah
Gunung Merapi, Sumatera Barat, tidak terkait dengan badai di Lautan Pasifik.
Para demonstran kaos merah di Bangkok hanyalah serpihan yang tidak hinggap di
kepala kelompok-kelompok tani yang minta haknya di Sumatera. Pra-peradilan
kasus Bibit-Chandra bukan bagian dari kisah Anggodo.
Tetapi, bagaimana kalau kita melihatnya secara holistis dan komprehensif? Bagi
penganut teori sistem, satu gigitan nyamuk saja di tungkai kaki bisa menembus
selaput otak. Dari sini, pola pandang perlu diperbesar lagi. Kemajuan teknologi
informasi zaman ini mengejar setiap individu dengan tumpukan sampah-sampah tak
berguna. Apabila tidak mampu memilahnya, manusia tertimbun dalam ketidak-tahuan
justru karena penuhnya data dan informasi. Daya ledak terjadi akibat
over-information.
Dengan merangkai seluruh informasi dan meletakkannya di dinding kamar kerja,
lalu menggunting dan menstabilo bagian-bagian kecil yang tersembunyi, kita
segera tahu masalah besar bangsa ini. Apa itu? Kerusakan di kepala kekuasaan.
Saya tidak menyebut kepala negara atau kepala pemerintahan. Tetapi, sekali
lagi, kepala kekuasaan.
Kekuasaan di sini bisa didefenisikan kepada setiap orang yang memiliki otoritas
publik. Otoritas yang didapatkan atas dasar kerja-kerja pelayanan publik.
Otoritas yang juga bermodalkan anggaran publik yang diperoleh dari hak
pengelolaan kekayaan negara dan warga negara. Kepala kekuasaan itu bisa saja
seorang petugas pajak yang mendatangi wajib pajak atau wali nagari yang
mengelola bantuan gempa. Kekuasaan yang tersebar, bukan dimonopoli oleh hanya
segelintir orang saja.
***
Di sungai Batang Naras di depan rumah orang-tua saya, terdapat banyak sekali
ikan. Yang paling mudah ditangkap pakai tangan adalah udang. Udang-udang itu
bersembunyi di balik batu. Kita tinggal mengangkat batunya pelan-pelan atau
langsung menjepit di bawah batu itu agar udang tak sempat lari. Cara lain,
kalau ada semak belukar tempat udang bersembunyi, langsung saja diangkat dengan
cepat dan dibuang ke darat. Udang akan menggelepar-gelepar.
Makna udang di masa kecil hanyalah sebagai lauk untuk menemani nasi. Tetapi,
setelah dewasa, udang memiliki banyak makna. Satu yang saya ingat adalah
labirin kecil warna hitam di punggungnya. Bagi tukang-tukang masak di restoran,
labirin itu dibuang, karena itulah aliran kotoran dari kepala ikan ke bagian
tubuh yang lain. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa bagian paling berbahaya
dari udang adalah sisiknya bagi kesehatan. Sisik yang tidak mudah dicerna dan
mengandung kolesterol tinggi. Itu informasi yang saya dapat, entah salah, entah
benar.
Pada pelajaran yang lain tentang udang, lalu dikaitkan dengan kekuasaan, saya
diberitahu tentang sebuah kesimpulan. Ya, udang itu kalau kotorannya terletak
di kepala. Jadi, bagian yang paling cepat busuk setelah udang mati adalah
kepalanya. Apakah di kepala itu terdapat otak, saya tidak tahu. Barangkali ada,
tetapi tidak sebanyak kotorannya sendiri. Hubungannya dengan kekuasaan? Seperti
udang, kekuasaan itu busuk di kepalanya sendiri.
Barangkali itulah yang terjadi belakangan ini. Setiap kepala kekuasaan memiliki
kebusukan yang endemik dan sistemik. Kepala-kepala itu seperti ular-ular kecil
di kepala Medusa, seorang perempuan yang tubuhnya juga ular. Siapapun lelaki
yang memandang kepala itu, akan berubah menjadi batu. Tidak peduli lelaki itu
seorang raja atau anak dewa sekalipun.
***
Tetapi, belum ada makhluk menyerupai udang dalam mitologi Yunani. Dalam alam
moderen ini, kita sungguh disibukkan dengan penanda dan petanda yang berubah
bentuk. Maqam Mbah Priuk, misalnya, sekalipun hadir lewat mitologi yang
dipercaya oleh para pelayat, sebentar lagi malahan akan diresmikan sebagai
bangunan cagar budaya oleh Presiden SBY. Saya percaya bahwa itu bagian dari
pencitraan biasa. Tetapi, tanpa kejelasan sejarah tentang sesosok manusia yang
bernama Mbah Priuk, jelas akan menimbun satu soal yang nanti pastilah
mengundang masalah lagi.
Seperti rangkaian, baik Mbak Priuk, maqam Mbak Priuk, pelayat-pelayatnya,
pewaris-pewarisnya, Pemda DKI Jakarta, Pelindo II, sampai Presiden SBY sendiri,
terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang saling tindih-menindih. Bukannya
mengarah kepada kejernihan atas informasi yang masih samar-samar, kita seperti
ingin melupakan masalah ini dengan cara win-win solution. Adagium yang entah
mengapa makin sering dipraktekkan.
Padahal, cara-cara yang lebih berguna bagi masa depan sungguh banyak tersedia.
Misalnya, sebuah studi arkeologis dan sejarah yang dilakukan oleh ahli-ahli
yang bertebaran di banyak kampus. Sekalipun Fauzi Bowo sebelum menjadi Gubernur
DKI berkampanye “Bang Foke Ahlinya”, tetap saja Fauzi bukan ahli soal sejarah
dan arkeologi. Biarkan pakar-pakar ini yang bekerja dalam masa jeda. Jangan
juga jeda itu dihentikan dengan cara membuat program-program pencitraan baru.
Selain itu, tentu mempekerjakan ahli-ahli bangunan, kalangan arsitek, serta
perencanaan kota. Kalau selama ini maqam Mbak Priuk dianggap sebagai bagian
dari “benalu” dalam fungsi pelabuhan, para arsitek dan perencana kota pastilah
bisa membuatkan maket yang menjadikan maqam itu sebagai bagian integral dalam
sistem pelabuhan. Di pintu pelabuhan bisa saja dipasang arah penunjuk jalan,
bahwa maqam Mbah Priuk bisa dibuka pada jam sekian dan dikunjungi para pelayat.
Para pedagang juga bisa difungsikan dengan baik, tanpa harus mengganggu arus
keluar-masuk kontainer-kontainer raksasa.
Dengan cara-cara yang lebih realistik itu, udang-udang di balik kuasa bisa
dicarikan jalan bernafasnya. Bukan malah terus disembunyikan untuk
sewaktu-waktu menjadi bom-bom waktu. Begitupula atas masalah-masalah lain
bangsa ini. Jangan biarkan kepala-kepala kuasa, kuasa-kuasa kepala, malah
menjadi mahkluk yang membuat bangsa ini menjadi busuk. Diremehkan oleh bangsa
lain. Dilecehkan oleh bangsa sendiri.
Saatnya udang masuk ke penggorengan. Jangan biarkan berubah menjadi kepala kita
sendiri....
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe