Dalam suatu kunjungan tugas ke Bukittinggi.
Saya sedang menikmati sarapan pagi dengan penganan khas Minang di restoran di
lobby hotel Novotel yang menghadap ke taman. Di latar terdengar alunan musik
instrumentalia "Anak Salido". Saya mengikutinya dengan bersenandung di dalam
hati.
Anak salido,
Anak salido ka parantauan
Pandan dibaok,
Pandan dibaok ka dipadagangkan
Dunsanak tido,
Ondeh tuan manga bajalan
Ka sia badan,
Ka sia badan ka ditumpangkan
(Sampai di sini saya tidak mampu lagi melanjutkan. Tidak terasa air mata saya
jatuh berlinang. Angan saya jauh melayang ke masa sedang meningkat remaja di
kota kelahiran saya Padangpanjang, kota yang dilingkungi gunung-gunung dan
perbukitan. Kota dingin yang langitnya sering berkabut, dan hujan turun
sepanjang musim)
Lagu dengan lirik dan napas Minang yang kental tersebut di atas adalah ciptaan
Hoeriah Adam alm, seniwati tari dan koreoggrafer besar pada zamannya kelahiran
Padangpanjang (selevel dengan Gusmiati Suid) yang dinyatakan hilang ketika
pesawat Fokker F-27 Merpati penerbangan Jakarta-Padang yang ditumpanginya jatuh
di perairan sekitar pulau Katang-katang. Bangkai pesawat dan jenazah seluruh
penumpang tidak pernah ditemukan
Saya dan kawan-kawan: Pon, Suryaman (alm), Acin (alm), Kuzul dan lain-lain yang
sering mengukur jalan-jalan di Padangpanjang sembari menyandang dekat dengan
alm yang biasa kami sapa dengan Kak Un. Adalah alm yang memberi nama grup musik
kami "Simarantang" yang pernah saya pimpin dan selama beberapa tahun mengisi
acara lagu-lagu Minang di RRI Bukittinggi.
Kak Un bersaudara anak-anak Pak Adam, tokoh pendidikan agama (pendiri MIN) di
Padangpanjang, memiliki bakat seni jauh di atas rata-rata. Tuan Boestan (yang
paling tua) dan Tuan Arsyad (tunanetra), keduanya pernah bersekolah musik di
sebuah konservatorium di Belgia, Kak Ani yang ketika itu jadi guru di SMA
Padangpanjang, baru Kak Un . Di bawahnya Tuan Akhyar (juga tunanetra) pemimpin
Orkes Pantjairama yang ketika itu sangat terkenal, dan pernah dijadikan tenaga
honorer oleh RTP 2 Diponegoro yang berkedudukan di Bukittinggi untuk menghibur
para perwira setiap pekan. Akordeon yang dimainkan Tuan Akhyar terasa sangat
eksotis dan dinamis, (saya yang relatif muda ikut sesekali sebagai
penggembira), dan terakhir Tuan Abam. Tuan Boestan dan Tn Abam yang bergabung
dengan TP PRRI bergerilya di hutan-hutan sekitar Padangpanjang sampai
berakhirnya peristiwa PRRI
Tarian ciptaan Kak Un, `Sandang Pangan' dan `Nina Bobok' yang ditarikan oleh
penari asuhannya pernah mewakili Indonesia dan memperoleh pengharggan tertinggi
di sebuah festival tari yang diselenggarakan di sebuah negara Eropah Timur di
tahun 1960. Kak Un sendiri tidak ikut karena baru melahirkan buah kasih
pernikahannya dengan Tuan Ramudin, seniman patung dan pemain biola kenamaan.
Beberapa tahun kemudian, Kak Un dan suaminya hijrah ke Jakarta.
Saya agak dekat dengan Tuan Arsyad dan sering menuntun beliau berjalan-jalan di
seputar pusat Kota Padangpanjang yang tidak terlalu luas itu, dan biasanya
mampir di Gedung Kebudayaan (yang entah kenapa namanya diganti dengan "Balai
Budaya"). Di sini Tuan Arsyad memainkan beberapa lagu klasik dengan piano
akuistik. Kami juga sering berjalan-jalan ke Pasar Usang, kemudian berbelok ke
Utara. Kalau lagi mujur, ketika meliwati sebuah rumah bertingkat dua yang
asri, saya akan melihat sepasang mata indah milik bintang SMP 1 Padangpanjang
ketika itu :) di balik jendela, yang dengan berbinar memandang kepada saya.
("Baa pulo inyo namuah ka si Darwin teleng tu," :) keluh kawan-kawan yang kalah
bersaing :). Namun, suratan tangan Tuhan kuasa, kasih putus di tengah jalan,
ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Jakarta setamat SMP.
Walaupun demikian hal itu tetap merupakan kenangan terindah ketika saya
meningkat remaja di kota kelahiran saya Padangpanjang .
Pada kunjungan tugas sebelum itu, saya sempat menapaki kembali jalan-jalan
yang sangat saya kenal dengan baik di Padangpanjang yang tidak begitu luas itu.
Jalan-jalan itu semakin ramai dengan orang dan kenderaan yang berlalu lalang,
dan ada pula yang tambah lebar. Tetapi saya merasa sunyi dan sepi; Ya, saya
sudah menjadi orang asing di kota kelahiran saya sendiri, Padangpanjang, kota
yang dilingkungi gunung-gunung dan perbukitan, yang langitnya sering berkabut,
dan hujan turun sepanjang musim
(setelah mengusap mata dengan saputangan, saya melanjutkan bersenandung di
dalam hati)
Sungai tanang,
Sungai tanang tapian mandi
Rang bukiktinggi,
Rang bukiktinggi mandi bakawan,
Kasiah sayang,
Bakeh tuan tatuntuang abih
Manga dek kini,
Manga dek kini tuan rangguikkan
Depok, 6-Mei-10
Wassalam, HDB-SBK (67-)
Asal Padangpanjang, tinggal di Depok, Jawa Barat
Catatan: "Anak Salido" pertama kali diperkenalan oleh Orkes Gumarang melalui
RRI Jakarta melalui biduantitanya Nurseha yang sangat terkenal dengan lagu
"Ayam Den Lapeh"-nya. Hanya karena Nurseha menyanyikannya dengan gaya "Ayam Den
Lapeh", lagi itu terdengar agak aneh. Dan para penggemar lagu-lagu Minang,
mengenal "Anak Salido" liwat suara emas Tiar Ramon alm.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe