Mungkin ado sanak awak nanpunyo kemampuan labiah, dan bisa mambantu adiak2 kito nan kurang mampu dibawah.
Kok kito tunggu pejabat wak dikampuang memperhatikan hal iko, antahlah.. Salam Nofend, Urang Pauah Duo juo Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres <http://www.padangekspres.co.id> Sedikitnya lima siswa tamatan SMP sederajat di Kabupaten Solok Selatan urung melanjutkan sekolah. Meski mereka berhasil lulus Ujian Nasional (UN). Bahkan satu diantaranya, siswa dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Lagi-lagi karena tidak ada biaya, harapan ingin bersekolah kandas. Informasi dihimpun di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Pekonina Kabupaten Solok Selatan, tingkat kelulusan sekolah agama yang terletak di kawasan Bloknol Kecamatan Pauhduo itu, mencapai 93,33 persen. Hanya satu siswa yang dinyatakan ikut ujian ulang. 14 siswa lainnya lulus dengan nilai cukup baik. Tapi sayang, empat siswa terpaksa membuang mimpi untuk duduk bangku sekolah. Mereka adalah, Zulfarmaini, Naila Mardiah, Reni Nofrianti, dan Aderi Sutera. Wakil kepala sekolah MTs Pekonina, Junaidi menyebutkan Zulfarmaini tercatat sebagai siswa yang mendapat nilai tertinggi di sekolah itu, pasca UN tahun ini. Anaknya tekun dan sangat ingin bersekolah. Namun karena kondisi ekonomi, membuat orang tuanya memutuskan sekolah anaknya cukup sampai MTs saja. "Saya temui orangtuannya (orangtua Zulfarmaini), mereka mengatakan memang tidak sanggup menyekolahkan, dan berhenti sampai MTs," ungkap Junaidi, beberapa waktu lalu. Hal serupa dialami Naila Mardiah. Juara kelas itu, menurut Jun, tidak melanjutkan sekolah. Meski bersikeras ingin sekolah, tapi orangtuanya lebih keras lagi. Tidak ada biaya. Tidak hanya dia, tiga orang kakak Naila malah hanya menamatkan Sekolah Dasar (SD). "Usai pengumuman kelulusan kemarin, Naila pergi ke Bukittinggi, menemui kakaknya yang dulunya juga alumni MTs tapi tidak melanjutkan sekolah. Memilih bekerja, membantu menjahit pakaian," kenang Jun. Kondisi memiriskan juga terjadi pada Aderi Sutera. Walau benar-benar ingin bersekolah, tapi nasib berkata lain. Saat membaca pengumuman kelulusan, siswa yang bercita-cita menjadi polisi itu, tidak terlalu gembira. Ayah kandungnya telah meninggal dua tahun lalu. Tamat MTs saja sudah mujur. Setali tiga uang, dengan Reni Nofrianti. Anak ke empat dari sembilan bersaudara itu juga kurang beruntung. Bapaknya mengalami sakit stroke. Kebutuhan hidup sehari-hari, mengandalkan Eri, 20, kakak laki-lakinya. Eri sebagai tulang punggung keluarga, bekerja menjadi kuli tani di sawah milik tetangga. Upahnya, Rp5000 per jam. Satu hari duit terkumpul paling banter Rp35 ribu. Eri pernah bersekolah, tapi hanya sampai SD. Koran ini, sempat bertemu dengan Reni beberapa pekan lalu. Sebelum UN digelar. Ketika ditanya rencananya ke depan, setelah menamatkan MTs, ABG (anak baru gede) itu hanya tersenyum kecut, lalu tertunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mukanya tampak memerah. "Empat orang di sekolah kami yang telah menyatakan tidak menyambung ke tingkat SMA. Hanya 11 orang yang akan mandaftar masuk MAN dan SMA," imbuh Junaidi. Terpisah, Kharsini 43, mengeluhkan hal senada. Saat terlibat perbincangan dengan Padang Ekspres (Group PadangToday), ibu empat anak itu mengatakan ponakannya Mujiati yang baru saja lulus SMP Liki, terpaksa menganggur tahun ini. Bertekad mengumpulkan uang, agar tahun depan bisa sekolah. Kharsini bercerita, sejak umur tiga tahun Muji tinggal bersamanya. Ibu Muji yang juga adik ipar Kharsini, sejak itu pergi dan tidak pernah kembali. Begitupula dengan orangtua laki-laki Muji. Kharsini lah yang mengurus Muji, hingga dia tamat SMP. "Bukan saya ndak mau lagi menyekolahkan dia (Muji), sedangkan anak saya saja ada tiga orang dan masih bersekolah SD. Untuk makan saja masih susah. Uang dari mana untuk sekolah," ujarnya dengan mata terlihat sembab. Dua minggu terakhir, Muji telah mulai bekerja di sebuah toko di Muaralabuh. Mengumpulkan uang agar tahun depan bisa mendaftar masuk SMK. Keterangan yang diperoleh Kharsini dari para tetangganya, biaya yang mesti ada untuk masuk SMA/SMK bisa mencapai Rp1 juta. Membeli seragam, sepatu, buku tulis, tas serta biaya-biaya lainnya. Belum lagi ongkos menuju sekolah. Dari Pekonina ke SMK di kawasan Kotobaru Sungaipagu, ongkos angdes (angkutan desa) Rp6 ribu, pulang pergi. "Muji itu ndak pernah keluar dari peringkat lima besar, sejak kelas satu sampai kelas tiga SMP. Tapi mau gimana lagi, dia keras mau sekolah, tapi kondisi tidak mendukung. Rencananya tahun depan saja Muji bersekolah. Sekarang memang tidak ada biaya. Saya dan suami hanya bekerja sebagai petani,"tutur Kharsini membiarkan air matanya terurai. Sementara itu, Dinas pendidikan Solsel mencatat, jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang SMA sederajat pada tahun lalu, hanya 68 persen. Jumlah ini merupakan perolehan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2009. Artinya, pada tahun tersebut APK Solsel belum mencapai 100 persen. "APK Solsel kurang dari 100 persen disebabkan banyak yang melanjutkan sekolah keluar Solsel, dan ada juga yang tidak melanjutkan. Jadi, bukan berarti 32 persen itu semuanya karena siswa tidak sekolah atau putus sekolah," ungkap Kadisdik Solsel, Fidel Efendi saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. [*] -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
