Ven, baa kalau di galang dek rang dapua kacio untuak iko. Kalau indak panuah
ka ateh, panuak ka bawah.

Salam

andiko

Pada 10 Mei 2010 10:03, Nofend St. Mudo <[email protected]> menulis:

>  *Mungkin ado sanak awak nanpunyo kemampuan labiah, dan bisa mambantu
> adiak2 kito nan kurang mampu dibawah.*
>
> *Kok kito tunggu pejabat wak dikampuang memperhatikan hal iko, antahlah….*
>
> * *
>
> *Salam*
>
> *Nofend, Urang Pauah Duo juo*
>
>
>
> Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres <http://www.padangekspres.co.id>
>
> Sedikitnya lima siswa tamatan SMP sederajat di Kabupaten Solok Selatan
> urung melanjutkan sekolah. Meski mereka berhasil lulus Ujian Nasional (UN).
> Bahkan satu diantaranya, siswa dengan nilai tertinggi di sekolahnya.
> Lagi-lagi karena tidak ada biaya, harapan ingin bersekolah kandas.
>
> Informasi dihimpun  di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Pekonina Kabupaten
> Solok Selatan, tingkat kelulusan sekolah agama yang terletak di kawasan
> Bloknol Kecamatan Pauhduo itu, mencapai 93,33 persen. Hanya satu siswa yang
> dinyatakan ikut ujian ulang. 14 siswa lainnya lulus dengan nilai cukup baik.
> Tapi sayang, empat siswa terpaksa membuang mimpi untuk duduk bangku sekolah.
> Mereka adalah, Zulfarmaini, Naila Mardiah, Reni Nofrianti, dan Aderi Sutera.
>
> Wakil kepala sekolah MTs Pekonina, Junaidi menyebutkan Zulfarmaini tercatat
> sebagai siswa yang mendapat nilai tertinggi di sekolah itu, pasca UN tahun
> ini. Anaknya tekun dan sangat ingin bersekolah. Namun karena kondisi
> ekonomi, membuat orang tuanya memutuskan sekolah anaknya cukup sampai MTs
> saja.
>
> "Saya temui orangtuannya (orangtua Zulfarmaini), mereka mengatakan memang
> tidak sanggup menyekolahkan, dan berhenti sampai MTs," ungkap Junaidi,
> beberapa waktu lalu.
>
> Hal serupa dialami Naila Mardiah. Juara kelas itu, menurut Jun, tidak
> melanjutkan sekolah. Meski bersikeras ingin sekolah, tapi orangtuanya lebih
> keras lagi. Tidak ada biaya. Tidak hanya dia, tiga orang kakak Naila malah
> hanya menamatkan Sekolah Dasar (SD). "Usai pengumuman kelulusan kemarin,
> Naila pergi ke Bukittinggi, menemui kakaknya yang dulunya juga alumni MTs
> tapi tidak melanjutkan sekolah. Memilih bekerja, membantu  menjahit
> pakaian," kenang Jun.
>
> Kondisi memiriskan juga terjadi pada Aderi Sutera. Walau benar-benar ingin
> bersekolah, tapi nasib berkata lain. Saat membaca pengumuman kelulusan,
> siswa yang bercita-cita menjadi polisi itu, tidak terlalu gembira. Ayah
> kandungnya telah meninggal dua tahun lalu. Tamat MTs saja sudah mujur.
>
> Setali tiga uang, dengan Reni Nofrianti. Anak ke empat dari sembilan
> bersaudara itu juga kurang beruntung. Bapaknya mengalami sakit stroke.
> Kebutuhan hidup sehari-hari, mengandalkan Eri, 20, kakak laki-lakinya. Eri
> sebagai tulang punggung keluarga, bekerja menjadi kuli tani di sawah milik
> tetangga. Upahnya, Rp5000 per jam. Satu hari duit terkumpul paling banter
> Rp35 ribu. Eri pernah bersekolah, tapi hanya sampai SD.
>
> Koran ini, sempat bertemu dengan Reni beberapa pekan lalu. Sebelum UN
> digelar. Ketika ditanya rencananya ke depan, setelah menamatkan MTs, ABG
> (anak baru gede) itu hanya tersenyum kecut, lalu tertunduk tanpa mengucapkan
> sepatah katapun. Mukanya tampak memerah. "Empat orang di sekolah kami yang
> telah menyatakan tidak menyambung ke tingkat SMA. Hanya 11 orang yang akan
> mandaftar masuk MAN dan SMA," imbuh Junaidi.
>
> Terpisah, Kharsini 43, mengeluhkan hal senada. Saat terlibat perbincangan
> dengan Padang Ekspres (Group PadangToday), ibu empat anak itu mengatakan
> ponakannya Mujiati yang baru saja lulus SMP Liki, terpaksa menganggur tahun
> ini. Bertekad mengumpulkan uang, agar tahun depan bisa sekolah.
>
> Kharsini bercerita, sejak umur tiga tahun Muji tinggal bersamanya. Ibu Muji
> yang juga adik ipar Kharsini, sejak itu pergi dan tidak pernah kembali.
> Begitupula dengan orangtua laki-laki Muji. Kharsini lah yang mengurus Muji,
> hingga dia tamat SMP.
>
> "Bukan saya ndak mau lagi menyekolahkan dia (Muji), sedangkan anak saya
> saja ada tiga orang dan masih bersekolah SD. Untuk makan saja masih susah.
> Uang dari mana untuk sekolah," ujarnya dengan mata terlihat sembab.
>
> Dua minggu terakhir, Muji telah mulai bekerja di sebuah toko di Muaralabuh.
> Mengumpulkan uang agar tahun depan bisa mendaftar masuk SMK. Keterangan yang
> diperoleh Kharsini dari para tetangganya, biaya yang mesti ada  untuk masuk
> SMA/SMK bisa mencapai Rp1 juta. Membeli seragam, sepatu, buku tulis, tas
> serta biaya-biaya lainnya. Belum lagi ongkos menuju sekolah. Dari Pekonina
> ke SMK di kawasan Kotobaru Sungaipagu, ongkos angdes (angkutan desa) Rp6
> ribu, pulang pergi.
>
> "Muji itu ndak pernah keluar dari peringkat lima besar, sejak kelas satu
> sampai kelas tiga SMP. Tapi mau gimana lagi, dia keras mau sekolah, tapi
> kondisi tidak mendukung. Rencananya tahun depan saja Muji bersekolah.
> Sekarang memang tidak ada biaya. Saya dan suami hanya bekerja sebagai
> petani,"tutur Kharsini membiarkan air matanya terurai.
>
> Sementara itu, Dinas pendidikan Solsel mencatat, jumlah siswa yang
> melanjutkan ke jenjang SMA sederajat pada tahun lalu, hanya 68 persen.
> Jumlah ini merupakan perolehan Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun
> 2009. Artinya, pada tahun tersebut APK Solsel belum mencapai 100 persen.
>
> "APK Solsel kurang dari 100 persen disebabkan banyak yang melanjutkan
> sekolah keluar Solsel, dan ada juga yang tidak melanjutkan. Jadi, bukan
> berarti 32 persen itu semuanya karena siswa tidak sekolah atau putus
> sekolah," ungkap Kadisdik Solsel, Fidel Efendi saat ditemui di ruang
> kerjanya beberapa waktu lalu.  [*]
>
> --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke