Assalamu'alaikumw.w.

Iko ambo lampirkan tulisan sanak M.Nazir Fahmi wartawan RiauPos nan ikuik
rombongan kami ka Negeri Sembilan kapatang ko. Tulisan ko dimuek di Harian
Riau Pos bisuak tanggal 19-05-2010. Mungkin bisa manambah informasi untuak
kito baa nan sabananyo Minangkabau di Malaysia.
Wassalam,

Ibnu Mas'ud

================================================================================================

Melawat ke Kota 'Daulat Tuanku' Negeri Sembilan, Malaysia (1)

Beradat Perpatih, Rumah 'Bagonjong' di Mana-mana

Port Dickson adalah pintu gerbang masuk ke Negeri Sembilan, Malaysia melalui
jalur laut. Dari Dumai ke Port Dickson memakan waktu empat jam menggunakan
feri. Pelabuhannya bersih dan sangat familiar dengan orang Indonesia.
Kata-kata Selamat Datang terpampang sangat besar menghadap ke laut.

Laporan Mhd Nazir Fahmi,
Negeri Sembilan

TIDAK hanya itu yang familiar, bangunan pelabuhannya sangat dikenal banyak
orang di Indonesia. Atap gedung Jeti Penumpang Port Dickson tersebut
berarsitek 'Bagonjong', ciri khas rumah adat Minangkabau. Walau tidak begitu
runcing gonjongnya, tapi orang akan cepat membaca bahwa itu mirip rumah adat
di Sumatera Barat.
  Berdasar ciri khas bangunan ini, Negeri Sembilan memang mirip dengan
beberapa negeri di Sumatera Barat. Makanya sejak dulu orang menyebutnya kota
kembar dengan Bukittinggi atau Batusangkar yang masih banyak rumah
bagonjongnya.
  Dari Port Dickson menuju beberapa negeri nan sembilan lainnya, Seremban
misalnya, bangunan bagonjong makin banyak dijumpai. Jembatan-jembatan
penyeberangan, gapura hendak masuk tol hingga kantor-kantor tol dibangun
dengan gaya tanduk kerbau.
  Lebih dalam menyelami tentang Negeri Sembilan, kita bisa mendatangi Musium
Diraja Seri Menanti Kuala Pilah Seremban. Menurut Asrul Effendi Bin
Kamaruzzaman, Penolong Kurator Unit Manumen dan Tapak Sejarah Lembaga Muzium
Negeri Sembilan saat rombongan DPD Association of the Indonesia Tours and
Travel (ASITA) Riau berkunjung, Musium Diraja Seri Meranti merupakan salah
satu istana lama Malaysia yang indah dari segi bentuk seni bina tradisional.
Dibuat dalam tahun 1905 dan siap pada tahun 1908 oleh tukang kayu yang mahir
dan terkenal bernama Kahar dan Taib. Salah satu yang menarik mengenai istana
ini adalah dalam pembuatannya tidak menggunakan sebuah pakupun.
  Istana ini dibangun dengan empat lantai dan ditopang dengan 99 batang
kayu. Beberapa kayunya diambil dari Bukittinggi malah. Di tengah-tengah
bangunan istana ini didirikan menara yang dinamakan Tingkat Gunung. Struktur
atas bangunan menggunakan kayu cengal yang berbentuk Lipatan Gunting. Pada
lantai pertama istana ini digunakan sebagai Balai Rong Seri untuk upacara
menghadap raja. Lantai ke dua tempat tidur atau ruang istirahat keluarga
kerabat raja dan lantai tiga dikhaskan untuk Yang Dipertuan Besar dan
tingkat empat sebagai tempat raja memantau rakyatnya.
  Atap istana terbuat dari potongan kayu, tapi tidak bergonjong sebagaimana
bangunan lamanya yang dulu pernah dibakar oleh tentara Inggris. Di luar
istana ada batu kasur dan replika batu bertikam. Dua batu ini yang aslinya
ada di Batusangkar, Sumatera Barat. Di halaman istana ada dua bangunan
dengan ciri khas Minangkabau yang saling berhadap-hadapan. Di depannya ada
halaman untuk bermain yang dijadikan sebagai Medan nan Bapaneh.
  Di dalam istana, terdapat beberapa catatan-catatan sejarah tentang asal
muasal raja-raja di Negeri Sembilan. Dari catatan yang ada dan ditempel di
dinding istana, sangat banyak menyebut kata-kata dari Minangkabau dan
Pagaruyung. Dari silsilah yang ada membuktikan raja-raja Negeri Sembilan
berasal dari keturunan Kerajaan Pagaruyung.
  Di istana ini semuanya memang ala tradisional. Apa adanya dan belum
tersentuh dengan perkembangan multimedia ala musium-musium lainnya. Ingin
yang lebih maju dan serba multimedia, kita bisa pergi ke Musium Adat di
Jelebu.
  Di Jelebu ini, rasa Minangkabaunya sangat kental. Di musium maupun
bangunan di sekitarnya, rata-rata menggunakan atap bagonjong. Persis
gonjongnya seperti di Sumatera Barat. Orang-orang di pasar sering
menggunakan bahasa Minang dalam kesehariannya.
  Saat rombongan ASITA Riau yang dipimpin Ibnu Masud memasuki musium yang
diresmikan tahun 2008 ini, seorang ibu langsung menyambut dengan bahasa
Minang yang sangat pas. ''Awak dari Payokumbuah, nenek jo inyiak ambo dari
sinan. Tapi awak indak pernah pulang. Indak ado pitih,'' kata Asmerino (43).
  Azmerino yang bersuku Caniago ini mengaku selalu berbahasa Minang di rumah
maupun di pasar. Apalagi di pasar banyak orang Minang dan rata-rata menjadi
saudagar di Negeri Sembilan. ''Kalau bajumpo, kami alah babahaso Minang
sajo,'' jelasnya.
  Di Musium Adat terhimpun cerita berbagai aspek kehidupan masyarakat
Malaysia yang dianggap adat. Selain itu juga memamerkan aspek-aspek
kehidupan adat melalui artifak dan naratif. Semuanya menjadi produk wisata.
  Musium ini berdiri dengan empat lantai dengan kekhasan berbeda-beda. Ada
satu lantai yang khusus menceritakan tentang adat merantau orang Minang
yakni di Galeri Aras 3 yakni Adat Perpatih. Di sini akan lebih jelas
diceritakan tentang kedatangan orang-orang Minang ke Negeri Sembilan.
  Menurut Rosman Bin Ayub, Pembantu Museum Kanan, Adat Perpatih Negeri
Sembilan adalah variasi adat alam Minangkabau. Adat Perpatih melestarikan
kehidupan masyarakat tempatan melalui prinsip kerukunan hidup termasuk
konsep dan amalan budi, undang-undang, perlembagaan, kuasa adat, kepentingan
harta, kekeluargaan, asal muasal alam, dan aspek-aspek kehidupan yang lain.
  Walaupun Adat Perpatih yang diamalkan oleh masyarakat pedalaman Negeri
Sembilan telah melalui proses pengubahsuaian, namun dasar adat ini masih
kekal yakni menasabkan keturunan berdasarkan garis ibu atau matrilineal dan
ini sama dengan di Sumatera Barat.
  Di dalam musium juga dipajang peta-peta perjalanan orang-orang tempo dulu
dari Sumatera Barat, lalu ke Siak dan terus ke Malaysia. Juga ada
ranji-ranji keturunan raja-raja yang bermula dari Iskandar Zulkarnain.
Talempong, kuda lumping, wayang kulit dan gamelan juga dipajangkan sebagai
sebuah kebudayaan warga Malaysia.
  Orang-orang di Negeri Sembilan memang susah untuk dibedakan dengan orang
Minang. Tidak hanya masalah adat istiadat, dalam hal makanan pun tak
jauh-jauh bedanya. Yang namanya masakan bersantan atau gulai, selalu ada
dalam menu kalau kita makan di rumah-rumah makan di daerah ini. Semuanya
serba kental dan pedas. Wajarlah saat Shanghai World Expo 2010, Malaysia
tampil dengan stan ala rumah bagonjong.
  Alamnya juga banyak bukit, gunung, sungai, lembah hingga pantai seperti di
Sumatera Barat. Semuanya sudah digarap oleh pihak Kerajaan dan pihak swasta
dalam hal ini Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA) Negeri
Sembilan dengan baik. Semua infrastruktur jalan sudah terbangun ke
pusat-pusat pariwisata di negeri ini. Walaupun kendaraannya sepi, tapi tol
tetap dibangun demi menunjang pelancongan.(bersambung)



2010/5/15 ajo duta <[email protected]>

> Sanak Minang di salingka bumi
>
> Ado kawan ambo di AS, inyo orang Malaysia keturunan Arab. Tau inyo ambo
> urang MInang,
> disalangkannyo ambo DVD yang menceritakan asal usul Negeri Sembilan. Ambo
> lupo judulnyo.
> mungkin sanak kito di Malaysia tahu. inti carito DVD tu bahaso Negeri
> Sembilan berasal dari
> adonyo 9 puak di semenanjung nan baparang dek masing2 suku ingin menjadi
> rajo. Untungnyo perundingan
> bisa dilakukan dan diambil kesepakatan untuk memilih raja dari Pagaruyung.
> Utusan dikirim
> kahandakpun dapek. Bundokanduang mengirim seorang pangeran kesana bersama
> serombongan
> pengawal dan pelayan. Kerajaanpun disebut Negeri Sembilan.
>
> Ambo setuju jo Jepe dan sanak lain. Kito jangan terlalu genitlah ber
> Minang2. Sebab nan asli Minang
> mungkin indak ado. Kalaupun ado mungkin ado sisanyo yaitu Suku Kubu nan di
> Jambi tu...hehe.....
>
> Maoh judul ambo tuka, agar bisa diterima oleh Minangkabau diseluruh dunia,
> termasuk sanak awak
> di Malaysia. Beko kalau diplesetkan pulo Indonesia menjadi Indon-sial,
> berang pulo awak.
>
> Wassalam
>
>
>
> 2010/5/14 Fashridjal M. Noor <[email protected]>
>
>>   Assalamu'alaikum Wr. Wb.,
>> Yth. Bapak Muljadi, sanak Syofiardi, jo dunsanak-dunsanak di Palanta 'ko,
>>
>> Manyambuik baiak pandapek Bapak Muljadi jo sanak Syofiardi, karano
>> sabananyo baruntuang bana awak urang Minang karano punyo balahan di
>> Negeri Sembilan, dan budaya Melayu Sumatra dakek jo budaya Melayu Malaysia.
>> Artinya indak ado hambatan budaya untuk bakarajo samo, Dijadikannyo Rumah
>> Gadang sebagai simbolisasi arsitektur tradisional Malaysia (yang berasal
>> dari Negeri Sembilan = turunan Minangkabau) manunjuakkan penghargaan
>> pemerintah Malaysia, dan seperti tulis sanak Syofyardi, mudah-mudahan
>> promosi ikon Minangkabau itu mambuek pengunjung Expo Shanghai 2010 akan
>> bausaho labiah mengenali budaya dan alam Minangkabau .
>> Salam,
>> Fashridjal M.oor Sidin, Bandung
>>
>> --- Pada *Jum, 14/5/10, Syofiardi BachyulJb <[email protected]>* menulis:
>>
>> =========Dikudung.......sabalum Rang Dapua mangaluakan
>> ladiang........................=========
>>
>>
>>
>>
>> --
>> .
>>
>  --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke