Minggu, 16 Mei 2010 | 04:31 WIB

DAHONO FITRIANTO DAN INGKI RINALDI

Prof Dr H Ahmad Syafii Ma'arif bukan satu-satunya perantau dari kawasan
Kanagarian Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Masih banyak perantau lain yang
memilih mencari penghidupan lebih baik di luar desa terpencil itu.

Menurut Syafii, ada dua kakak beradik dari Nagari Silantai, desa sebelah
Sumpur Kudus, yang berhasil menjadi guru besar di Universitas Andalas,
Padang. "Namanya Novirman dan Novesar. Novirman doktor lulusan sebuah
universitas di Filipina, sementara Novesar doktor lulusan ITB," tutur Syafii
dalam sebuah perbincangan di Maarif Institute di kawasan Tebet, Jakarta
Selatan, pertengahan April.

Dalam otobiografinya, Titik-titik Kisar di Perjalananku (Ombak, 2006),
Syafii bahkan menyebutkan, paling tidak ada empat nama lain yang berhubungan
dengan Sumpur Kudus yang meraih sukses di bidang akademis.

Memang tidak semua orang seberuntung mereka yang bisa menuntut ilmu hingga
tingkat tertinggi itu. Sebagian besar merantau sekadar untuk mencari
tambahan penghasilan, tak jarang hingga ke negeri jiran Malaysia. "Saya dulu
sempat dua kali pergi ke Malaysia. Yang kedua tidak pakai paspor, masuk
lewat Dumai menyeberang ke Malaka, terus ke Kuala Lumpur," tutur Yusrafizal
(38).

Para perantau ini pun membawa pengaruh dan warna tersendiri saat pulang
kampung. Salah satunya adalah hobi main biliar atau snooker, jenis olahraga
hiburan yang digemari di Malaysia.

Saking banyaknya peminat snooker itu di Sumpur Kudus, Yusrafizal akhirnya
membuka tempat biliar di kawasan Pasar Calau, sekitar 2 kilometer dari pusat
Nagari Sumpur Kudus. "Dulu sempat buka, lalu tutup satu tahun. Sekarang buka
lagi karena peminatnya masih banyak," tutur Epi, panggilan akrab Yusrafizal,
Selasa (20/4) malam.

Meski sederhana, tempat biliar itu hampir selalu dipenuhi orang tiap malam.
"Mejanya saya bikin sendiri. Karpet dan bolanya beli di Padang. Saya rutin
ke Padang buat jual karet, pulangnya beli bola biliar," ujarnya.

Selain dilengkapi dengan tempat biliar, los pasar yang hanya buka tiap Jumat
itu juga disulap menjadi arena bulu tangkis. Beberapa warung pun masih buka
hingga malam untuk menyediakan makanan dan minuman bagi warga yang berkumpul
untuk main biliar dan bulu tangkis.

Pasar Calau pun menjadi semacam civic center bagi masyarakat Sumpur Kudus.
Hampir tak terlihat lagi suasana desa tertinggal di tempat itu. Warga datang
menunggang sepeda motor buatan Jepang terbaru.

Para pemain bulu tangkis pun berganti kostum lengkap dengan sepatu kets yang
masih mengilap. Di salah satu sudut warung, sekelompok muda-mudi sedang
asyik ngobrol dan membuka Facebook dari HP mereka. "Sekarang hampir semua
yang punya HP pasti sudah bisa buka Facebook," kata Wali Nagari (setingkat
kepala desa) Sumpur Kudus Nasirwan (46).

Sejak tersedianya jalan beraspal mulus, listrik dari PLN, dan sinyal telepon
seluler, hubungan Sumpur Kudus dengan dunia luar pun makin leluasa. Dan,
seperti juga desa-desa lain di dunia ini yang sudah terkoneksi dengan
jaringan global, arus globalisasi pun masuk tak terbendung ke Sumpur Kudus.
Pergeseran pun mulai terjadi.

Pergeseran

Menurut Nasirwan, sekarang sudah tidak bisa ditemui lagi anak-anak lelaki
yang tiap hari berkumpul, bahkan tidur, di surau. Sesuai tradisi matrilineal
di kalangan masyarakat Minangkabau, anak laki-laki tidak memiliki hak atas
kamar di rumah. Itu sebabnya mereka lebih banyak tidur di surau.

"Zaman saya kecil dulu, masih merasakan kebiasaan tidur di surau itu. Pulang
sekolah langsung menggembalakan sapi. Malam mengaji dan terus tidur di
surau. Tidak ada pilihan lain karena tidak ada PR (pekerjaan rumah) atau
hiburan TV," kenang Nasirwan.

Sejak era 1980-an, seiring dengan program-program pembangunan pemerintahan
Orde Baru, pola itu mulai berubah. Sekolah mulai memberikan PR bagi para
murid dan perubahan pola pertanian membuat lahan penggembalaan sapi
menyempit, bahkan hilang sama sekali. "Ditambah masuknya TV meski masih
dinyalakan pakai aki. Anak-anak pun lebih memilih tinggal di rumah untuk
menggarap PR dan menonton TV. Kepedulian mereka terhadap adat pun mulai
berkurang," kata Nasirwan.

Demikian juga dengan kultur dan tradisi merantau orang Minang, sudah
mengalami pergeseran di sana-sini. Pergeseran paling nyata adalah makin
banyaknya orang Minang yang memilih marantau cino atau "merantau China",
yakni pergi merantau dan tak pernah kembali lagi ke kampung halaman.
"Rata-rata orang Minang yang merantau tidak kembali lagi ke kampung," tutur
Syafii Ma'arif.

Menurut penulis novel ES Ito, pengaruh globalisasi membuat para perantau
Minang tidak rindu pulang. "Di mana-mana semuanya seragam, sama saja," tutur
penulis yang berasal dari Kamang, Bukittinggi, Sumatera Barat, ini.

Kehilangan

Pengamat kebudayaan dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Yasraf Amir
Piliang, khawatir makin banyaknya orang yang merantau China itu membuat
kondisi brain drain alias kehilangan sumber daya intelektual di Sumatera
Barat sendiri.

"Sekarang agak susah mencari orang-orang Minang yang sukses secara
intelektual. Mereka lebih banyak merantau untuk berdagang atau berbisnis.
Motifnya ekonomi," ungkap Yasraf yang berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam,
Sumatera Barat.

Padahal, pada masa lalu, para intelektual asal Minang inilah yang berperan
besar dalam perjuangan meraih kemerdekaan bangsa. Sebut saja nama-nama
seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, M Natsir, Mohammad Yamin,
hingga Tan Malaka adalah orang-orang asli Minang. "Mereka jadi 'orang'
setelah bergumul dengan kultur lain di rantau," tulis Syafii dalam
otobiografinya.

Menurut Yasraf, dengan makin berkurangnya orang-orang berkualitas yang
berkiprah di kampung halamannya sendiri, akhirnya pembangunan di Sumatera
Barat justru lebih banyak didorong oleh para perantau dari luar Minang.

Motif merantau pun bergeser. Dari sekadar motif sosial ekonomi untuk mencari
penghidupan yang lebih baik, dalam hal ilmu dan materi, kini mulai bergeser
dengan motif adat. "Di luar alasan ekonomi, (orang Minang) merantau juga
untuk melepaskan diri dari kekangan adat. Banyak unsur suku lain (di luar
Minang) yang lebih manusiawi," ungkap Syafii Ma'arif.

Sistem matrilineal yang diterapkan di masyarakat Minangkabau dalam beberapa
hal memang terlalu memarjinalkan kaum laki-laki, seperti tidak adanya hak
waris anak laki-laki terhadap harta benda orangtuanya. "Sekadar satu biji
piring pun kami tidak berhak. Kakak laki-laki saya yang kembali ke kampung
tidak berhak menempati rumah pusaka peninggalan orangtua meski rumah itu
kosong," ungkap Yasraf.

Menurut Yasraf, masyarakat Minangkabau perlu melakukan reposisi budaya dalam
konteks globalisasi sekarang ini. "Tafsiran hermeneutik terhadap berbagai
aspek warisan kebudayaan Minangkabau harus diberi tempat, sekali lagi, bukan
untuk mengubah prinsip-prinsip dasarnya, melainkan memberinya tafsir dan
makna-makna baru agar keberadaannya di dalam kancah globalisasi lebih dapat
diterima, diapresiasi, dan dipahami," tutur Yasraf. (BUDI SUWARNA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/16/04312474/merantau.dan.globalisas
i.

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke