Disaat Usia Lansia  , sungguh sangat bijaksana  cara berfikir Mak Tuo ini , 
dimana seharusnya anak cucu membahagiakannya ,Saya sangat terharu sekali 
membaca kisah Mak Tuo  ini, banyak pelajaran yang kita petik  -1 dengan 
keikhlasannya  memaafkan .                              membuat Mak Tuo lebih 
kuat mengerjakan apapun..                                                       
             -2  dengan menumpahkan kemarahannya
                               membuat Mak Tuo lebih ceria dan tanpa beban.Mak 
Tuo semoga  diakhir perjalanan hidupnya kelak diberi kemudahan oleh Allah 
Swt.dan kita terus menanamkan rasa kasih sayang kepada keluarga dan lingkungan 
kita , karena merekalah orang-orang terdekat kita ,dikala susah dan senang. 
JADILAH ANAK YANG BERBAKTI KEPADA KE DUA ORANGTUA KITA ,dan ALLAH akan selalu 
melindungi kita. Amin.
Wassalam
Dewi Mutiara.
--- On Mon, 5/24/10, Rita Desfitri Lukman <[email protected]> wrote:

From: Rita Desfitri Lukman <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] JANGAN SIMPAN RASA MARAH DAN DENDAM DIHATIMU...
To: [email protected]
Date: Monday, May 24, 2010, 7:51 AM

JANGAN SIMPAN RASA MARAH DAN DENDAM DIHATIMU
 
Hampir dua bulan yang lalu, nenek tua berumur hampir 80 tahun, tetangga yang 
rumahnya tak jauh dari rumah saya itu tergeletak tak berdaya di bangsal kelas 
III rumah sakit Akhmad Mukhtar Bukittinggi. Persis hanya seminggu setelah saya 
menyapa beliau dengan ceria dan menggodanya sambil menemaninya mencuci setumpuk 
besar pakaian kotor beliau di pinggiran danau. Kehidupan beliau yang pas-pasan 
membuat dia memilih mencuci di tepian danau saja daripada mencuci pakaian di 
rumah karena harus membayar tagihan PDAM. 

 
Makanya saya kaget setengah mati ketika mendengar beliau tiba-tiba juga dirawat 
di rumah sakit tempat saya sedang menunggui ibu saya yang akan dioperasi kecil 
pada bagian kaki kanannya. Di sela-sela waktu menunggui ibu, saya sempatkan 
menengok nenek tua itu di bangsalnya. "Lho, mak tuo, baa?" saya menyapa sambil 
mengusap-ngusap tubuh kurusnya. "Ndak tahu, tibo-tibo badan mak tuo taraso 
lamah, tagalatak sajo, sahinggo dilarikan urang ka Bukittinggi ko...", jawab 
beliau tersendat karena nafas sesak.

 
Setelah ngobrol beberapa lama, dia lalu menangis dan menumpahkan kekesalan, 
bahkan 'kebencian' yang ada hatinya. "Kok lah sehat den sudah bisuakko, aden 
indak ka mamasakkan paja tu lai doh. Aden indak ka mancucikan bajunyo lai doh. 
Kok ka mati nyo, mati se lah surang!!!", umpatnya yang membuat saya seperti 
disambar petir. 

 
Saya tahu pasti umpatan itu ditujukannya kepada anak kandung laki-lakinya yang 
juga sudah berusia 50-an, dan sudah beberapa tahun belakangan ini sakit 
dan lumpuh. Seorang laki-laki yang dulu pernah jaya tetapi kemudian 'dibuang' 
anak dan istrinya karena sakit dan lumpuh itu. Satu-satunya jalan adalah 
kembali pulang ke pangkuan ibu kandung di kampung, yang juga sudah renta dengan 
kehidupan yang nestapa. 

 
Saya ajak beliau bercerita untuk menumpahkan semua kemarahannya yang masih 
terpendam. Terkuaklah cerita miris yang membuat nenek tua ini ambruk dan sakit 
karena tak tahan menanggung beban perasaan. Yaaah... mungkin rasa frustasi yang 
diderita bapak yang lumpuh dan merasa terbuang tak berguna itu membuat kondisi 
psikis si bapak itu tak stabil, dan membuat si bapak itu kadang uring-uringan. 
Sehingga terjadilah peristiwa di suatu pagi, ketika masakan ibunya yang 
sudah tua itu dianggap sangat tidak enak, piring makan dilempar si bapak ke 
lantai. Tentu saja nenek tua itu sangat terpukul, uang pembeli beras yang 
kadang ada kadang tidak, ditambah payahnya memasak dengan sisa-sisa tenaga, 
yang didapat bukan ucapan terima kasih... Tak tahan memanggung perasaan, si 
nenek jatuh tergeletak....

 
Di bangsal rumah sakit itu, saya biarkan beliau menumpahkan semua kekesalan 
hatinya. Dan sebelum pergi, saya pegang tangannya dan berkata: "Mak tuo, nan 
penting kini mak tuo cegak dulu. Jan banyak bana pangana ka nan sudah-sudah. 
Mungkin anak mak tuo tu sadang ado pikiran. Penyesalan nan juo dirasokan anak 
mak tuo kini setelah maliek amaknyo co iko, mungkin lah cukuik mambueknyo 
tersiksa pulo mah. Apolai kini inyo di kampung hanyo iduik dari bantuan 
perawatan famili-famili dek mak tuo sadang di rumah sakik pulo. Ijan lamo bana 
berang mak tuo ka anak, beko mambuek mak tuo tambah sakik. BILO AWAK MANCUCI DI 
TAPI DANAU BALIAK???". Dalam tangis, dia tertawa juga mendengar godaan saya. 

 
Sebulan berlalu tanpa terasa. Kalaupun pulang setiap minggunya, saya juga 
disibukkan dengan urusan yang membuat saya hampir lupa dengan keberadaan 
sekitarnya. 
 
Makanya kemaren saya terpana melihat si nenek itu kelihatan segar dan 
duduk-duduk di beranda tetangga bersama beberapa nenek-nenek lainnya. Dengan 
ceria beliau menyapa saya seperti biasa. Langsung saya menemui sekelompok 
nenek-nenek cantik yang biasa saya goda. 

"Alhamdulillah... Lah sehat mak Tuo?"  
"Alah...  alah rancak ambo baliak", jawabnya terkekeh... Dalam hati saya 
bersyukur pula.
 
Sambil bernasehat dia berkata bahwa ternyata sakit yang kita rasakan itu kadang 
terasa lebih berat karena hati yang tidak tenang, atau perasaan marah yang 
dipendam....  Lalu dia melanjutkan... "Dulu hati mak tuo sakik dek ulah anak, 
akibatnyo mak tuo kurang ikhlas,  maupek juo tiok mauruihnyo ".

 
"Kalau kini baa?" saya kembali bercanda sambil tertawa. 
 
"Oh... kini mak tuo sabana rela... baa lah ka baa... nan inyo anak mak tuo 
juo... Kalau ndak mak tuo nan mauruihnyo sia lai... Mak Tuo anggap 
sajo mauruihnyo sarupo wakatu inyo ketek baliak... Kalau mak tuo berang atau 
dendam juo akibat sikapnyo dulu... mak tuo juo nan ka sansai jo perasaan 
nyoh... Walaupun mungkin indak ka talupokan, tapi paling indak... mak tuo akan 
selalu memaafkan. Bagaimanapun juo inyo darah daging awak surang... Insya Allah 
Tuhan juga mendengar dan melihat apa yang kita kerjakan dengan niat dan hati 
yang baik....". 

 
Saya patut lama-lama wajahnya. Kelihatan betul perbedaannya... Wajah yang dulu 
sering cemberut setiap ia bercerita, sudah berganti dengan wajah lega... 
Kata-katanya yang dulu sering menggerutu dan mengomel akan sikap anaknya, 
sekarang juga sudah tidak ada... 

 
Kelihatannya nenek tua ini benar-benar telah ikhlas akan beban himpitan hidup 
yang ada di depan mata, termasuk harus bersusah payah kembali mengurusi anak 
laki-lakinya yang sudah lumpuh dan 'dilupakan' keluarga dan mantan istrinya 
tercinta... 

 
Yah..... Apapun permasalahan yang ada, ketika marah dan dendam itu tidak kita 
biarkan bersarang di dalam dada, di saat itu kita bisa berharap hidayah Allah 
kembali menyelimuti kita. Apakah cobaan hidup yang  berat terasa, atau 
perlakuan orang yang kurang bisa diterima... Insya Allah kita mampu 
menghadapinya satu persatu dengan lapang dada....  

 
Ya Allah, pada saat yang sama...tolong jauhkan pula kami dari tindakan berdosa 
dan melawan kepada orang tua.... Dan tolong jadikan ini juga pelajaran hidup 
kami di masa yang akan datang...

 
Semoga Allah menunjukkan dan melindungi kita dalam menghadapi semua cobaan 
hidup yang kita terima...  Amien...
 
24 Mei 2010
 
Salam,
 
Rita Desfitri Lukman
 
 
 



-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke