Assalamu'alaikumWrWb, Sanak sapalanta yang ambo hormati,
Ini topik menarik karena menyangkut kehidupan kita berbangsa dan bernegara, dan berlaku pada semua tingkatan kehidupan di negeri ini. Menurut pendapat saya, secara umum ini adalah permasalahan proses dan kriteria seleksi yang tidak jelas. Secara organisatoris ini adalah permasalahan 'career planning' yang sering tidak jelas di sejumlah organisasi di negara kita. Proses pemilihannya sendiri mungkin sudah sangat jelas, tapi proses kaderisasinya yang tidak jelas, atau tidak diikuti secara konsisten & konsekuen. Salah satu (atau mungkin satu-satunya) organisasi besar yang punya 'career planning' yang jelas menurut saya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Proses kaderisasi pemimpin di mereka jelas, mulai dari pimpinan regu, pleton, batalion, kompi, resimen, dan seterusnya secara bertahap. Penilaian kualifikasi juga prosesnya jelas karena dilakukan oleh suatu tim yang berwenang untuk itu. Karier merekapun dimulai dari lapangan secara berjenjang, sehingga secara bertahap mereka punya kemampuan pengenalan, pemahaman, dan penguasaan wilayah yang memadai. Peningkatan kulifikasi kemudian didasarkan pula pada pendidikan & latihan yang juga berjenjang. Di sini saya hanya melihat dari sisi 'career planning' semata, bukan militerismenya.Saya kira pak Saaf lebih tepat untuk menjelaskan hal ini. Sejak zaman ORBA ada suatu kebiasaan untuk menjadikan mantan TNI memegang suatu posisi puncak sesuatu organisasi. Jika dilihat dari pemahaman mereka mengenai prinsip 'career planning' tadi, mungkin salah satu yang diharapkan secara ideal adalah pembinaan tentang hal ini di organisasi yang bersangkutan. Tapi seperti biasa, hal yang baik ini bisa menjadi tertutup oleh beragam praktik buruk pada aspek-aspek lainnya. 'Career planning' yang terpola, terarah, dan terencana baik ini jarang kelihatan di organisasi sipil di negeri kita. Mungkin ada di beberapa organisasi yang sudah mulai bersentuhan dengan manajemen moderen seperti perbankan umpamanya. Jadi menurut saya permasalahan ini tidak semata permasalahan bahwa orang tua harus digantikan oleh kaum muda. Yang lebih penting adalah adanya proses berjenjang untuk menyiapkan para calon pemimpin, serta kriteria yang jelas untuk menentukan kualifikasi berdasarkan pendidikan, pengalaman, sikap mental, dan lain sebagainya. Disamping itu tentunya juga ada kriteria yang jelas menyangkut kapan saatnya seorang pemimpin harus digantikan, atau minimal 'tau diri' untuk siap digantikan. Hal ini seyogianya dimiliki dan diterapkan oleh setiap organisasi pada bidang apapun, atau minimal sekarang mulai dijadikan perhatian dan pemikiran. Tentang sebagian besar pemimpin atau bapak bangsa yang sudah menjadi pemimpin pada usia muda pada tahun 40an, saya kira ini disebabkan politik etis dari kerajaan Belanda yang antara lain menyediakan fasilitas pendidikan untuk negeri jajahannya baru dimulai efektif pada awal abad ke 20. Pada saat kemerdekaan diproklamirkan, kaum terdidik yang berjiwa patriot ini memang masih berusia muda. Situasi dan kondisi sekarang tentunya sudah sangat berbeda. Yang sekadar terdidik sudah sangat berjibun, tapi yang berjiwa patriot ? Secara pribadi, bertolak dari pengalaman menjalani berbagai perubahan politik di negeri ini, saya masih sangat optimis melihat rahmat Allah kepada bangsa ini. Kita tidak stagnant, proses perubahan sedang berjalan secara relatif lebih cepat dan terarah dari masa-masa sebelumnya. Dalam waktu relatif dekat, insyaallah generasi bung IJP, Anas Urbaningrum, Anis Baswedan, Budiman Sujatmoko, dll akan segera menggantikan generasi yang lebih tua. Maaf dan wassalam, Epy Buchari L-67, Ciputat Timur -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
