Dunsanak di palanta nan ambo hormati. Manuruik ambo salah satu kekayaan SB ialah kekayaan sumber daya hayati yang perlu dikembangkan.
*Catatan: Postingan iko berhubungan dengan judul sebelumnyo (30 April 2010) dan dihubungkan peringatan peringatan Hari Biodiversitas Internasional, yang untuak kampuang halaman kito (SB) merupokan kekayaan yang perlu dipublikasikan. Dikutip dari KOMPAS 26 Mei 2010. *Keanekaragaman hayati atau biodiversitas secara sistematis dilemahkan sejak lama, terutama ketika salah satu cabang ilmu biologi, yaitu taksonomi*, sebagai mata kuliah di perguruan tinggi mulai ditiadakan. Padahal, *potensi flora-fauna Indonesia banyak yang belum terungkap.* "Keanekaragaman hayati terus menyusut karena tidak pernah dikembangkan taksonominya untuk mengetahui identifikasi serta menggali manfaatnya," kata pakar taksonomi Yayuk R Suhardjono dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam diskusi panel "Keanekaragaman Hayati bagi Kemajuan Bangsa: Sejarah Penelitian Hayati Nusantara", Selasa (25/5) di Pusat Sains Cibinong, Jawa Barat. Yayuk menyebutkan, *selama 30 tahun terakhir, keanekaragaman hayati Sungai Ciliwung dan Cisadane menyusut drastis.* Akan tetapi, siapa pun tidak pernah peduli, termasuk pemerintah. Di Sungai Ciliwung dan Cisadane, *spesies ikan menyusut sampai 80 persen dan spesies udang sampai 90 persen. Menghilangnya spesies lain yang menjadi indikator suatu. kondisi lingkungan juga tidak pernah diperhatikan.* Seperti capung, menurut Yayuk, sekarang hampir punah. Padahal, capung menjadi salah satu fauna indikator adanya kualitas air bersih. "Seperti juga *lebah*, sampai sekarang kita tidak pernah tahu berapa spesies yang tersisa. Padahal, lebah bisa meningkatkan penyerbukan hingga bisa panen tiga kali lipat," kata Yayuk "Keunikan karakter spesies yang diketahui, memberikan peluang berkembangnya bioteknologi untuk meningkatkan nilai ekonomi dan budaya," katanya. Seperti lebah, kita tidak tahu berapa spesies tersisa. Padahal, *lebah bisa meningkatkan penyerbukan hingga bisa panen tiga kali.* Seperti diungkap Endang Sukara, keahlian taksonomi sangat dibutuhkan untuk pengembangan bioteknologi, yaitu menemukan manfaat dari unsur alami untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Tetapi, proses ini tidak terwujud baik. Ironisnya, Indonesia sejak 1994 menandatangani konvensi penyelamatan keanekaragaman hayati yang tertuang dalam dokumen Convention on Biological Diversity (CBD). Tetapi, kebijakan pemerintah untuk mengembangkan keanekaragaman hayati kerap tidak disertai riset ilmiah. "Contohnya, *pemerintah mengembangkan spesies dari negara lain, seperti Lamtoro Gung, yang pada akhimya mengganggu spesies milik sendiri*," katanya. * taksonomi = ? -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
