Dalam Pemilu 1999, masyarakat Minang mulai memperlihatkan jatidirinya. Bagian 
terbesar masyarakat Sumatera Barat lebih memilih PAN yang pluralis dan dipimpin 
seorang tokoh reformasi. Sekalipun sebagian pendukung saat ini mungkin kecewa 
bahkan frustrasi terhadap Sang Tokoh Idola yang sering mgomong benar di tempat 
yang salah atau ngomong salah di tempat yang benar, hasil pemilu tampaknya 
tidak menghasilkan perubahan yang signifikan di Sumatera Barat. Malah Kepala 
Daerah terpilih tetap stok lama dan tidak jelas visi dan misinya.

Rezim orde baru yang sentralistik dan monolitik tentu ikut mempunyai andil: 
dalam meluluhlantakan tatanan masyarakat Minang ini (Mudah-mudahan arwah 
Mendiang Jenderal Amir "bulldozer" Machmud, Suhartois yang sangat berhasil 
dalam "seragamisasi" berbagai aktivitas dan institusi di awal-awal pemerintahan 
orde baru, bisa tenang menyaksikan  kerusakan tata nilai bangsa ini akibat ulah 
perbuatannya).

Tetapi tentu tidak hanya itu saja. Peristiwa PRRI di akhir tahun limapuluhan 
yang berakibat didudukinya Sumatera Barat oleh tentara dari Jawa---yang 
mengkibatkan terpukulnya martabat dan harga diri masyarakat Minang---tentu 
berperanan juga. Bak kata pepatah: "Sekali pasang surut, sekali tepian 
beranjak".

Tetapi pertanyaan yang menggoda saya, ialah mengapa masyarakat Minang dengan 
adat yang kuat---yang katanya "tidak lapuk dek hujan dan tidak lekang dek panas 
itu"---serta agama Islam yang dianut 99% mayarakat Minang itu, tidak mempunya 
daya tahan terhadap gempuran-gempuran tersebut. Pertanyaan itu semakin 
menggoda, sejauh mana Sumatera Barat siap dengan otonomi daerah. Lebih-lebih 
Sumatera Barat bukan daerah dengan kekayaan alam berlimpah.

Karena itu dalam salah satu posting saya terdahulu [1], saya memancing Walhi 
Sumbar dengan pertanyaan: "Apa sih yang secara sosiologis terjadi pada 
masyarakat Sumbar belakangan ini? Dari adanya "partai" yang bisa menyauk suara 
sampai 94% dalam Pemilu 1997, peristiwa busung lapar dan adanya bau tidak sedap 
dalam pemilihan kepala daerah?".

Namun mungkin karena terlalu sibuk dengan urusan advokasi Pembabatan Seribu Ha 
Hutan Suaka Alam Air Tarusan, Solok, jawaban yang saya peroleh dari para cerdik 
pandai di Walhi Sumbar ini sangat umum dan normatif:  "Sebenarnya jika kita 
perhatikan kondisi di Sumbar tidak jauh beda dengan semrautnya Indonesia dalam 
wilayah yang agak kecil".

Saya risau terhadap kondisi di Sumatera Barat bukan semata-mata karena saya 
dilahirkan di sana. Tetapi saya merasa betapa lengkap sudah carut marut bangsa 
ini, dan betapa panjang dan menyakitkan jalan yang harus ditempuh sampai 
desentralisi dan otonomi daerah bisa terlaksana dengan tuntas di tanah air 
tercinta ini. Apalagi dalam proses ini kita sudah berada di point of no return…

Talempong ditabuh dari dulu sampai sekarang. Bunyi tetap sama, nuansa jauh 
berbeda

Atau barangkali saya yang salah observasi dan salah persepsi?

Tetapi, siapa pulalah awak ini 

Wassalam, Darwin Bahar
Depok, November 2000

[1] Naskah Asli disiapkan untuk Milis Desentralisasi, dengan beberapa 
penghalusan.


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke