aaa) Sesuai dengan informasi dan masukan dari kami beberapa waktu yl. dimana 
pihak rekan bisnis Norway dapat memanfaatkan limbah CPO sawit menjadi Pupuk 
organik untuk dalam negeri, ekspor dan laainnya bahwa nampak jelas PETANI harus 
berjoang sendiri untuk kepentingan kehidupan mereka.
bbb) SEandainya PEMDA Prov./Kabupaten/Kota di Sumbar dapat berpihak kepada 
Rahayat Banyak terutama petani, seyogyanya tidak akan menjadi sussah. 
Pemerintah Norway sudah sejak lama mempersiapkan CSR untuk LH dan pengurangan 
carbon dimuka bumi termasuk Indonesia dan hibah tersebut telah dibawa pulang 
oleh SBY.
ccc) Kami sebagai Board member INBC dengan rekan pebisnis Norway sedang 
berupaya untuk mengajak serta pemilik CPO atau Pemda atau Masyarakat Petani 
Sumbar untuk menyerahkan LIMBAH CPO kepada pihak pengelolanya dan membuatkan 
internasional proposal untuk Pem.Norway dalam rangka mendapatkan support CSR.
ddd) diperlukan pembicaraan serius dan fokus bersama Pebisnis Norway ybs. 
bersama POKTAN dan LSM PEduli Petani Sumbar.tanpa mengurangi arti upaya yang 
telah ada. Dan ini adalah salah satu upaya meningkatkan ekspor non migas SB 
terutama ke manca negara yang dapat menghasilkan devisa.
Wasss.,
Asmun 

--- Pada Kam, 3/6/10, bandarost <[email protected]> menulis:

Dari: bandarost <[email protected]>
Judul: [...@ntau-net] Dinamika Petani Ranah Minang yang Mulai Tumbuh
Kepada: "RantauNet" <[email protected]>
Tanggal: Kamis, 3 Juni, 2010, 8:55 AM

Assalamu’alaikumWrWb,
Sanak sapalanta yang ambo hormati,

Koran Kompas seminggu lalu tanggal 27 Mei 2010 halaman 48 (http://
epaper.kompas.com/epaper.php?v=1.0) memuat sebuah berita dengan judul
“Perlawanan Para Pemilik Pabrik”, yang bercerita tentang 1600 petani
di Kabupaten Agam, Kabupaten Pariaman, dan Kota Pariaman  yang telah
berhasil keluar dari ketergantungan kepada pupuk kimia dan beralih ke
penggunaan pupuk organik.

Mereka membentuk kelompok-kelompok tani dan secara bersama-sama
membuat ‘pabrik’ pupuk mereka sendiri yang mereka gunakan dalam
aktivitas pertaniannya. Sejumlah 300 orang telah berhasil mengantongi
sertifikat Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Sumbar.
Menarik untuk mengikuti pengalaman & perjuangan mereka, sikap pihak
pemerintah yang tidak/kurang  mendukung  upaya positip mereka ini, dan
mulai tumbuhnya pengertian  untuk juga mulai menerjuni dunia non
budidaya (off farm), yang lebih menjanjikan dari segi profit. Diatas
dari segalanya :  mereka ternyata telah mulai berusaha secara
berkelompok (!), yang bisa merupakan langkah awal untuk menuju ke
format koperasi.

Keberadaan berita Kompas ini, pada tanggal yang sama (27 Mei 2010)
telah diposting di RN dengan judul ‘Perlawanan Petani Sumatera Barat
terhadap Pupuk Kimia’ oleh seorang sanak yang tidak menuliskan nama
jelasnya dan hanya menggunakan nama sandi ‘[email protected]
(maaf, akan sangat bermanfaat jika para pemosting dapat mencantumkan
nama dll sesuai aturan main palanta yang sarat dengan nilai
silaturahim ini)
Seminggu ini saya menunggu respons dari sanak lainnya di palanta atas
berita yang terkait dengan kehidupan lebih dari 50% rakyat Sumbar yang
bernama petani ini, yang sampai saat ini secara ekonomis masih berada
dalam kondisi terpuruk. Ternyata sampai hari ini tidak ada sama sekali
respons atas posting tersebut..........

Untuk kembali menghangatkan permasalahann yang menyangkut petani
Sumbar ini, topik diatas bersama ini saya muat dengan judul baru.
Bagi saya sendiri langkah ‘perlawanan’ petani diatas merupakan sebuah
‘benchmark’ dimulainya suatu upaya perbaikan nasib petani yang
bernilai strategis, positip, yang jika disokong oleh para pemangku
kepentingan lainnya di Sumbar, akan dapat membuat Sumatera Barat
‘tampil beda’ secara positif dalam era otonomi daerah dewasa ini.

Saya sendiri berpendapat bahwa kemakmuran ranah Minang akan dapat
dirasakan, hanya (sekali lagi ‘hanya’)  jika lebih dari 50%  rakyat di
ratusan Nagari ini yang hidup dari dunia pertanian ini dapat
dilepaskan dari jerat kemiskinan yang harus mereka hadapi sampai saat
ini.

Tanggapan saya atas berita Kompas tersebut saya tuangkan dalam tulisan
‘Nasib Petani Indonesia (4) : Sekali Tepuk (Bisa) 8 Nyawa” (http://
kadaikopi.com/?p=2921). Ini merupakan bagian dari 4 buah tulisan
seputar  sikon petani Indonesia yang saya muat di blog saya  tersebut.

Semoga wacana yang menyangkut perbaikan nasib etek, mamak, kemenakan,
maktuo, cucu, dan kerabat-kerabat kita di kampuang-kampuang di ranah
Minang ini dapat menarik minat dan dapat dikembangkan lebih lanjut
oleh warga RN dan cadiak pandai Minang lainnya.

Maaf dan wassalam,
Epy Buchari
L-67, Ciputat Timur

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke