Waalaikumsalam w.w. Sanak Ephy Buchari dan para sanak sapalanta,
Saya ucapkan penghargaan tinggi terhadap minat besar Sanak untuk memperbaiki
nasib petani, yang di seluruh Indonesia memang merupakan 'peta kemiskinan dan
keterbelakangan', jika dibandingkan dengan di daerah urban. Dapat saya
sampaikan bahwa sasaran menurunkan kemiskinan menjadi separo dari besaran yang
ada dewasa ini sudah termasuk dalam Millenium Development Goals 2015, yang juga
disetujui oleh Pemerintah R.I.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana sasaran tersebut bisa diwujudkan ke dalam
kenyataan, khususnya sehubungan dengan kondisi penyelenggara negara kita yang
masih sarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme, walau Reformasi sudah
berusia 12 tahun. Dengan demikian, maka Rakyat memang harus mengembangkan
sendiri prakarsa dan kreativitasnya, sebagai bagian menyeluruh dari masyarakat
madani ('civil society').
Dalam hubungan ini sudah barang tentu kita perlu angkat topi kepada para petani
Agam yang dengan prakarsa sendiri secara kreatif mencari jalan keluar dari
ketergantungan pada pupuk pabrik, dengan mendirikan pupuk organik yang bisa
dijual, apalagi karena sudah mempunyai sertifikat resmi. Itu jelas merupakan
suatu permulaan yang baik.
Walaupun demikian, petani yang kreatif tersebut tidak bisa dibiarkan bekerja
sendiri. Mereka perlu dibantu antara lain dengan modal kerja dan akses ke
pasar, dengan harga produksinya yang baik, yang memungkinkannya untuk
meningkatkan kesejahteraannya. Kita -- yang hidup di daerah perkotaan --
mungkin bisa memberikan informasi kepada mereka, bila perlu juga memberikan
akses kepada pasar yang tepat, di dalam negeri maupun di luar negeri.
Berbicara mengenai petani Sumatera Barat tentu berbicara mengenai petani
Minangkabau di nagari-nagari, lengkap dengan sistem dan struktur sosialnya,
serta sisten kepemilikan tanahnya. Pada tahun 2005 saya pernah mendengankan
ceramah mantan Menteri Pertanian Prof Dr Syarifuddin Baharsyah di Bukit Tinggi,
yang menjelaskan bahwa masalah dasar yang dihadapi petani Sumatera Barat adalah
kecilnya lahan yang mereka garap, rata-rata kurang dari 0.5 Ha. Kenyataan
itulah yang menyebabkan mengapa -- menurut beliau -- petani Sumatera Barat
(baca Minangkabau) merupakan petani termiskin di Sumatera. Kondisi geografis
Sumatera Barat yang bergunung-gunung serta status sebagian besar tanahnya
sebagai hutan lindung telah menyebabkan rencana panarukoan baru hampir
mustahil.
Adalah menarik perhatian, bahwa mengenai keterbatasan lahan ini sama sekali
tidak ada respons dari sanak kita di Ranah terhadap penawaran yang pernah saya
posting dalam Rantau Net ini untuk memperoleh tanah seluas 2.5 hektar di
Provinsi Riau, dalam rangka trnsmigrasi lokal, yang secara riil bisa
diprogramkan melalui Kementerian Transmigrasi. Sementara itu sebagian besar
hutan di Riau telah dimasuki dan digarap oleh sanak kita suku Batak yang datang
dari Sumatera Utara, yang juga memerlukan lahan untuk hidup. [Sanak Jupardi
Jepe bisa bercerita banyak mengenai soal ini.]
Jadi, tantangannya adalah bagaimana caranya kita orang Minangkabau bisa melihat
kenyataan riil dengan mata terbuka, melihat tantangan dan peluang, menyusun
wawasan, kebijakan dan strategi ke masa depan, serta melaksanakannya
bersama-sama, sehingga anak cucu kita -- termasuk yang memilih menjadi petani
di nagari-nagari -- bisa hidup lebih baik dari sekarang.
Momen jangka pendek untuk membahas serta mengambil keputusan untuk itu ada pada
Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010. Yang paling berpeduli terhadap masalah ini
adalah Dr Mochtar Naim, Wakil Ketua SC Kongres, didukung oleh Sanak Asmun dan
Sanak Baridjambek.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta)
--- On Thu, 6/3/10, bandarost <[email protected]> wrote:
From: bandarost <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Dinamika Petani Ranah Minang yang Mulai Tumbuh
To: "RantauNet" <[email protected]>
Date: Thursday, June 3, 2010, 8:55 AM
Assalamu’alaikumWrWb,
Sanak sapalanta yang ambo hormati,
Koran Kompas seminggu lalu tanggal 27 Mei 2010 halaman 48 (http://
epaper.kompas.com/epaper.php?v=1.0) memuat sebuah berita dengan judul
“Perlawanan Para Pemilik Pabrik”, yang bercerita tentang 1600 petani
di Kabupaten Agam, Kabupaten Pariaman, dan Kota Pariaman yang telah
berhasil keluar dari ketergantungan kepada pupuk kimia dan beralih ke
penggunaan pupuk organik.
Mereka membentuk kelompok-kelompok tani dan secara bersama-sama
membuat ‘pabrik’ pupuk mereka sendiri yang mereka gunakan dalam
aktivitas pertaniannya. Sejumlah 300 orang telah berhasil mengantongi
sertifikat Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Sumbar.
Menarik untuk mengikuti pengalaman & perjuangan mereka, sikap pihak
pemerintah yang tidak/kurang mendukung upaya positip mereka ini, dan
mulai tumbuhnya pengertian untuk juga mulai menerjuni dunia non
budidaya (off farm), yang lebih menjanjikan dari segi profit. Diatas
dari segalanya : mereka ternyata telah mulai berusaha secara
berkelompok (!), yang bisa merupakan langkah awal untuk menuju ke
format koperasi.
Keberadaan berita Kompas ini, pada tanggal yang sama (27 Mei 2010)
telah diposting di RN dengan judul ‘Perlawanan Petani Sumatera Barat
terhadap Pupuk Kimia’ oleh seorang sanak yang tidak menuliskan nama
jelasnya dan hanya menggunakan nama sandi ‘[email protected]
(maaf, akan sangat bermanfaat jika para pemosting dapat mencantumkan
nama dll sesuai aturan main palanta yang sarat dengan nilai
silaturahim ini)
Seminggu ini saya menunggu respons dari sanak lainnya di palanta atas
berita yang terkait dengan kehidupan lebih dari 50% rakyat Sumbar yang
bernama petani ini, yang sampai saat ini secara ekonomis masih berada
dalam kondisi terpuruk. Ternyata sampai hari ini tidak ada sama sekali
respons atas posting tersebut..........
Untuk kembali menghangatkan permasalahann yang menyangkut petani
Sumbar ini, topik diatas bersama ini saya muat dengan judul baru.
Bagi saya sendiri langkah ‘perlawanan’ petani diatas merupakan sebuah
‘benchmark’ dimulainya suatu upaya perbaikan nasib petani yang
bernilai strategis, positip, yang jika disokong oleh para pemangku
kepentingan lainnya di Sumbar, akan dapat membuat Sumatera Barat
‘tampil beda’ secara positif dalam era otonomi daerah dewasa ini.
Saya sendiri berpendapat bahwa kemakmuran ranah Minang akan dapat
dirasakan, hanya (sekali lagi ‘hanya’) jika lebih dari 50% rakyat di
ratusan Nagari ini yang hidup dari dunia pertanian ini dapat
dilepaskan dari jerat kemiskinan yang harus mereka hadapi sampai saat
ini.
Tanggapan saya atas berita Kompas tersebut saya tuangkan dalam tulisan
‘Nasib Petani Indonesia (4) : Sekali Tepuk (Bisa) 8 Nyawa” (http://
kadaikopi.com/?p=2921). Ini merupakan bagian dari 4 buah tulisan
seputar sikon petani Indonesia yang saya muat di blog saya tersebut.
Semoga wacana yang menyangkut perbaikan nasib etek, mamak, kemenakan,
maktuo, cucu, dan kerabat-kerabat kita di kampuang-kampuang di ranah
Minang ini dapat menarik minat dan dapat dikembangkan lebih lanjut
oleh warga RN dan cadiak pandai Minang lainnya.
Maaf dan wassalam,
Epy Buchari
L-67, Ciputat Timur
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.