MBM TEMPO, Senin, 24 Maret 2003

http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2003/03/24/mbm.20030324.CTP86068.id.html

Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu 
kembalilah ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam 
umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap 
diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.

Hari itu 16 Maret yang tak tercatat, karena hari selalu tak tercatat dalam 
kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di 
tungkai kaki mereka, apa artinya "sementara". Juga di Kota Rafah itu, di dekat 
perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni—yang 60 persennya 
pengungsi—juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. 
Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki 
dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan 
dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 
rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 
300 orang—orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.

Tentara itu mencari "teroris", katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba 
melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk 
mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada 
lagi tempat untuk pergi.

Saya bayangkan kini Rachel Corrie di surga, sebab hari itu ia, seorang 
perempuan muda dari sebuah kota yang tenang di timur laut Amerika Serikat, 
memilih nasibnya di antara orang-orang di Rafah itu: mereka yang terancam, 
tergusur, tergusur lagi, dan tenggelam. Hari itu ia melihat sebuah buldoser 
tentara Israel menderu. Sebuah rumah keluarga Palestina hendak dihancurkan. 
Dengan serta-merta ia pun berlutut di lumpur. Ia mencoba menghalangi.

Tapi jaket jingga terang yang ia kenakan hari itu tak menyebabkan serdadu di 
mobil perusak itu memperhatikannya. Prajurit di belakang setir itu juga tak 
mengacuhkan orang-orang yang berteriak-teriak lewat megafon, mencoba 
menyetopnya. Buldoser itu terus. Tubuh itu dilindas. Tengkorak itu retak. Saya 
bayangkan Rachel Corrie di surga setelah itu; ia meninggal di Rumah Sakit Najar.

Rachel yang di surga, selalu kembalilah namamu. Korban dan kematian di hari ini 
menjadikan kita sebaya rasanya. Kau terbunuh di sebuah masa ketika tragedi 
dibentuk oleh berita pagi, dan makna kematian disusun oleh liputan yang datang 
dan pergi dengan sebuah kekuasaan yang bernama CNN. Tahukah kau, di seantero 
Amerika Serikat, tanah-airmu, tak terdengar gemuruh suara protes yang mengikuti 
jenazahmu?

Tentu kita maklum, bukan singkat ingatan semata-mata yang menyebabkan sikap 
acuh tak acuh setelah kematianmu di hari itu. Bayangkanlah betapa akan 
sengitnya amarah orang dari Seattle sampai dengan Miami, dari Gurun Mojave 
sampai dengan Bukit Capitol, seandainya kau, seorang warga negara Amerika, 
tewas di tangan seorang Palestina yang melempar batu.

Tapi kau tewas di bawah buldoser tentara Israel; kau berada di pihak yang 
keliru, anakku. Itulah memang yang diutarakan beberapa orang di negerimu ketika 
mereka menulis surat ke The New York Times. Mereka menyalahkanmu. Sebab kau 
datang, bersama tujuh orang Inggris dan Amerika lain, untuk menjadikan tubuhmu 
sebuah perisai bagi keluarga-keluarga Palestina yang menghadapi kekuatan besar 
pasukan Israel di kampung halaman mereka. Kau melindungi teroris, kata mereka. 
Meskipun sebenarnya kau datang dari Olympia, di dekat Teluk Selatan Negara 
Bagian Washington, bergabung dengan International Solidarity Movement, untuk 
mengatakan: "Ini harus berhenti."

Kau salah, Rachel, kata mereka. Tapi kenapa? Dalam sepucuk e-mail bertanggal 27 
Februari 2003 yang kemudian diterbitkan di surat kabar The Guardian, kau 
menulis, "Kusaksikan pembantaian yang tak kunjung putus dan pelan-pelan 
menghancurkan ini, dan aku benar-benar takut…. Kini kupertanyakan keyakinanku 
sendiri yang mendasar kepada kebaikan kodrat manusia. Ini harus berhenti."

Saya bayangkan Rachel di surga, saya bayangkan ia agak sedih. Ia dalam umur 
yang sebenarnya masih pingin pergi dansa, punya pacar, dan menggambar komik 
lagi untuk teman-teman sekerjanya. Tapi di sini, di Rafah, ada yang ingin ia 
stop; bersalahkah dia? Beberapa kalimat dalam surat kepada ibunya menggambarkan 
perasaannya yang intens: "Ngeri dan tak percaya, itulah yang kurasakan. Kecewa."

Ia kecewa melihat "realitas yang tak bermutu dari dunia kita". Ia kecewa bahwa 
dirinya ikut serta di kancah itu. "Sama sekali bukan ini yang aku minta ketika 
aku datang ke dunia ini," tulisnya, "Bukan ini dunia yang Mama dan Papa 
inginkan buat diriku ketika kalian memutuskan untuk melahirkanku."

Apa yang mereka inginkan, Rachel, dan apa yang kau minta? Berangsur-angsur kau 
pun tahu: kau tak menghendaki sebuah rumah yang begitu nyaman, begitu 
"Amerika", hingga si penghuni tak menyadari sama sekali bahwa ia sebenarnya 
berpartisipasi dalam sesuatu yang keji, yakni "dalam pembantaian". Itulah 
sebabnya kau berangkat ke Palestina. "Datang ke sini adalah salah satu hal yang 
lebih baik yang pernah kulakukan," begitu kau tulis pada 27 Februari 2003. 
"Maka jika aku terdengar seperti gila, atau bila militer Israel meninggalkan 
kecenderungan rasialisnya untuk tak melukai orang kulit putih, tolong, 
cantumkanlah alasan itu tepat pada kenyataan bahwa aku berada di tengah 
pembantaian yang aku juga dukung secara tak langsung, dan yang pemerintahku 
sangat ikut bertanggung jawab."

Ia menuduh dirinya sendiri ikut bersalah. Tapi ia meletakkan kesalahan yang 
lebih besar pada pemerintahnya. Rasanya ia betul. Saya kira ia bahkan bisa juga 
menggugat jutaan orang Amerika lain yang senantiasa membenarkan apa yang 
dilakukan Ariel Sharon—hingga dalam keadaan perang dengan Irak sekalipun, dari 
Washington DC datang tawaran satu triliun dolar untuk bantuan militer langsung 
kepada Israel, di celah-celah berita tentang orang Palestina yang ditembak dan 
dihalau, di antara kabar tentang anak-anak Palestina yang tewas. Bukan 
main—cuma beberapa hari setelah seorang Amerika tewas ditabrak buldoser di Kota 
Rafah!

Jika ada kepedihan hati di sana, kau pasti mengetahuinya lebih intim, Rachel. 
Dari lumpur Kota Rafah itu kau pasti mengerti apa yang jarang dimengerti orang 
Amerika: kekerasan bisa muncul di puing-puing itu, sebagai bagian dari usaha 
untuk, seperti kau katakan dalam suratmu, "melindungi fragmen apa pun yang 
tersisa". Segalanya telah direnggutkan. Kau akan bisa menunjukkan bahwa Usamah 
bin Ladin dan Saddam Hussein, dengan wajah mereka yang setengah gelap, menjadi 
penting karena mereka bisa bertaut dengan gaung Palestina di mana segalanya 
telah direnggutkan—sebuah pantulan dari keluh lama yang jadi hitam. Sampai hari 
ini, yang terdengar sebenarnya adalah sebuah gema dari geram bertahun-tahun 
yang terkadang kacau, terkadang keras, dan senantiasa kalah.

Senantiasa kalah—di Yerusalem, di Kabul, dan, sebentar lagi, di Bagdad.

Tapi adakah kalah segala-galanya? Tidak, kau pasti akan bilang, semoga tidak. 
Dalam suratmu bertanggal 28 Februari kau ceritakan kepada ibumu sesuatu yang 
menyebabkan engkau merasa lebih mantap sedikit, di antara perasaan pahitmu 
menyaksikan hidup yang dibangun oleh ketidakadilan. Tak semuanya ternyata hanya 
ngeri, tak percaya, dan kecewa. Di celah-celah luka yang merundung penghuni 
Palestina yang kau kenal di Rafah, kau dapat menyaksikan sesuatu yang lain dari 
kepedihan. Kau menemukan sesuatu yang belum pernah kau lihat dalam hidupmu 
sebelumnya: "…satu derajat kekuatan dan kemampuan dasar manusia untuk tetap 
menjadi manusia". Dan kau punya sepatah kata untuk itu: dignity.

Tapi apa kiranya yang bisa didapat dari dignity, dari harga diri, yang 
menyebabkan manusia tak melata di atas debu sebelum menggadaikan 
segala-galanya? Tak banyak, tapi juga sangat banyak.

Seperti Bagdad yang akan jatuh, yang lemah akan tetap roboh. Tapi di depan 
tubuh yang tergeletak di lumpur, tubuh yang terjerembap dan menuding 
ketidakadilan, kemenangan sang superkuat sekalipun akan terhenti: ia hanya 
ibarat sebuah buldoser yang sekadar menghancurkan. Genggaman itu kosong. 
Penaklukan itu ilusi.

Sebab itu, Rachel yang ada di surga, semoga namamu selalu akan kembali. Kini 
memang saya bimbang, tapi masih ingin saya percaya bahwa hidup selalu 
membutuhkan yang lain, sesuatu yang bukan fotokopi diri subyek yang bertakhta. 
Saya masih ingin percaya bahwa tak mustahil akan ada sebuah ruang di mana yang 
lemah tak terusir, dan yang lain bisa sewaktu-waktu berteriak "Stop kau!" dan 
sebab itu merdeka.

Goenawan Mohamad


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke