~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: Koran Digital <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 07 Jun 2010 07:44:44 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Koran-Digital] IJP: Seputar `Kartelisasi' Sekretariat Gabungan

  Seputar `Kartelisasi' Sekretariat Gabungan
Indra J. Piliang, KETUA DEPARTEMEN KAJIAN KEBIJAKAN DPP PARTAI GOLKAR

Beberapa tulisan menyangkut Sekretariat Gabungan (Setgab) mencerminkan 
pandangan liar terhadap partai politik, terutama Partai Golkar. 
Pandangan seperti itu kian berkembang di kalangan aktivis dan pengamat, 
dengan referensi teoretik yang minim. Padahal, selama lebih dari sepuluh 
tahun, kita sudah disuguhi beragam proses pendisiplinan arah demokrasi 
tanpa harus memunculkan anarki baru.

Penyebutan kartel politik terhadap Setgab juga menunjukkan dangkalnya 
pemahaman pihak yang mengajukan. Buku Kuskridho Ambardi (Agustus 2009) 
yang berjudul Mengungkap Politik Kartel lebih banyak menyamakan politik 
kartel dengan pola koalisi ketimbang pada proses mempengaruhi kebijakan 
bawah tanah. Sebuah kartel biasanya bergerak di bawah permukaan tanpa 
proses desiminasi publik atas sebuah kebijakan. Kartelisasi adalah 
persenyawaan antara pelaku kejahatan untuk melindungi diri dari kejaran 
hukum dan peraturan.

Manakala itu dialamatkan kepada Setgab, jelas sudah betapa itu 
contradictio in terminis (kontradiksi istilah). Mengapa? Setgab 
merupakan sebuah proses yang disampaikan secara terang oleh 
partai-partai pendukung pemerintah. Inisiatornya terdiri atas Partai 
Demokrat, Partai Golkar, PKS, PAN, PPP, dan PKB. Enam partai politik 
yang membangun kesepakatan bersama untuk memberikan dukungan kepada 
pemerintahan terpilih jelas bukan kartel.

Apalagi keenam partai politik ini merupakan hasil dari sebuah proses 
demokrasi yang wajar, bukan lewat proses ilegal tanpa pemilu.

Menghadap-hadapkan kehadiran Setgab dengan sistem presidensial atau 
dengan sistem parlementer juga keliru.Yang paling tepat adalah pilihan 
antara strong government (pemerintahan yang kuat) dan weak government 
(pemerintahan yang lemah).

Unjuk kuasa parlemen selama kasus Bank Century menunjukkan bahwa 
pemerintahan bisa menjadi lemah, sekalipun masalah itu muncul dari 
periode pemerintahan sebelumnya.

Sudah jamak diketahui bahwa selama satu semester ini pemerintahan 
berjalan timpang. Kecurigaan tertuju kepada partai-partai politik yang 
tidak solid mendukung pemerintahan. Akibatnya, pemerintah kurang percaya 
diri dalam bekerja.

Presiden dan wakil presiden terpilih menghadapi tekanan serius, bahkan 
bisa sampai ke pemakzulan apabila DPR mengeluarkan hak menyatakan 
pendapat yang diteruskan kepada Mahkamah Konstitusi. Sekalipun hasil 
putusan MK nanti bisa saja menolak seluruh argumen yang diberikan oleh 
DPR, proses persidangan diperkirakan menghabiskan energi bangsa ini.

Setgab setidaknya memberikan pakem

yang lebih jelas, yakni memfokuskan diri pada jalannya pemerintahan. 
Beragam krisis terjadi sekarang, baik berupa krisis listrik, krisis 
perumahan, sampai pada penanganan atas beragam bencana alam. Sementara 
itu, masalah yang berkaitan dengan hasil Sidang Paripurna DPR menyangkut 
Bank Century sudah diserahkan kepada lembaga-lembaga hukum.

Kebenaran jelas tidak tunggal. Kalangan pengamat atau aktivis lembaga 
swadaya masyarakat ingin sekali melihat ada kisah akhir menyangkut nasib 
aktor-aktor yang dianggap melawan hukum dalam proses bailout Bank 
Century. Ironisnya, seperti yang kuat sekali tertangkap dalam beberapa 
tulisan pengamat, kisah akhir itu hendak diberikan kepada partai-partai 
politik.
Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip negara hukum. Kalau desakan 
itu terus diberikan, yang terperankan nanti adalah prinsip negara 
kekuasaan, ketika kekuatan-kekuatan politik menentukan kebenaran dan 
keadilan.
Tenggelam atau terapung?
Upaya mengambil jarak antara masalah yang berkaitan dengan penuntasan 
kasus Bank Century dan jalannya pemerintahan justru menempatkan Setgab 
pada posisi dan jarak yang tepat. Setgab memberi napas kepada 
lembaga-lembaga hukum untuk bekerja secara obyektif. Konsentrasi tinggi 
terhadap jalannya pemerintahan jelas merupakan bagian dari kinerja 
politik yang baik, karena fungsi eksekutif bisa dimaksimalkan.

Benar, betapa yang tampak adalah partai politik pendukung pemerintah 
menjadi dominan. Tetapi bukankah dominasi merupakan bagian dari 
kehidupan politik, begitu juga dengan hegemoni dan penetrasi?
Kalaupun diberikan sebuah label kepada Setgab, saya lebih memilih 
sebutan "partycracy"ketimbang kartel dan lainnya."Partycracy"menjadi 
kuat setelah amendemen UUD 1945. Kalau kita jeli membaca setiap pasal 
dan ayat dalam UUD hasil perubahan, porsi kekuasaan partai politik 
demikian dominan. Makanya setiap upaya melakukan kontestasi politik juga 
berlangsung mahal dan rumit.

Setgab adalah cara untuk tetap mengapungkan masalah hukum yang berkaitan 
dengan Bank Century. Kalau harapan itu masih ada, pihak yudikatiflah 
yang mendapat peran maksimal dalam memberikan vonis. Serangan terhadap 
parlemen atau partai politik sebagai biang keladi penenggelaman kasus 
hukum Bank Century adalah salah alamat. Parlemen dan partai politik 
menjalankan fungsi politik, bukan menjadi hakim atau dewi keadilan.

Dalam era politik seperti sekarang, tugas setiap partai pascapemilu 
adalah menjalankan mandat yang diberikan rakyat.
Mandat itu dijalankan dengan mekanisme yang sudah diatur dalam 
konstitusi dan beragam perundang-undangan. Kalau mandat itu diminta 
terus untuk diselewengkan lagi, misalnya dengan cara mendahului proses 
peradilan, justru kekaburan yang didapat, bukan kejernihan. Jangan 
sampai tekanan yang diberikan oleh kalangan intelektual dan aktivis 
justru mengarah ke sana, mengingat partai politik memiliki legitimasi 
yang jauh lebih kuat dari lembaga swadaya masyarakat mana pun.

Jauh lebih mudah untuk mengutuk kegelapan daripada mulai menyalakan 
sebatang lilin yang bisa membuat terang. Setgab adalah sebatang lilin 
itu, sekalipun masih dalam bentuk yang masih prematur dan belum pernah 
menjalankan tugas-tugas yang hendak diambil. Akan jauh lebih baik 
apabila Setgab diberi waktu menemukan formulasi yang tepat, sebagai 
bagian dari upaya memperkaya terobosan-terobosan politik penting. 
Kebuntuan dalam politik jelas akan memberi akibat lebih buruk ketimbang 
mencoba sebuah jalan alternatif. Berhasil atau gagal, sebuah ikhtiar 
sudah dimajukan. Dan itu sudah setengah dari penyelesaian masalah....

*) TULISAN INI PANDANGAN PRIBADI, TIDAK MEWAKILI PANDANGAN PARTAI GOLKAR.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/06/07/ArticleHtmls/07_06_2010_012_003.shtml?Mode=1



-- 
"One Touch In BOX"

To post  : [email protected]

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun
                 -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
                 -  Hindari ONE-LINER
                 -  POTONG EKOR EMAIL
                 -  DILARANG SARA
                -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau  
                   Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
               -  Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck.

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke