[8]  Terbaring Sakit, Keberangkatan ke Arafah Tinggal Lima Jam lagi (A)

Terbaring Sakit, Keberangkatan ke Arafah Tinggal Lima Jam lagi (A)

Jumat, 7 Februari 

Hari ini adalah hari Jumat kami yang pertama di Tanah Suci. Khawatir tidak 
mendapat tempat di dalam Masjid, jam 10.30 saya dan teman-teman sudah berangkat 
ke Masjidil Haram. Kami berangkat dengan menggunakan "angkot" yang lewat pas di 
depan pemondokan kami, yaitu kenderaan pribadi penduduk setempat yang 
"diobyekkan" menjadi kendaraan umum selama musim haji. Dari depan pemondokan 
kami ke Masjidil Haram mereka menarik pembayaran perorang kadang-kadang satu 
riyal, kadang-kadang dua riyal1), tetapi lebih sering satu riyal. Nilai tukar 
satu riyal berkisar antara Rp 2.300 dan Rp 2.500.

Setiba di Masjid, saya yang duduk di dekat mas Andi merasa gelisah, rasanya kok 
lama sekali menunggu waktu dzuhur yang di Makkah yang saat ini jatuh pada pukul 
12.30. Duduk bersila salah, duduk bersimpuh salah. Saya coba membaca Al-Qur'an, 
yang mudah diperoleh di dalam Masjid. Tetapi baru beberapa ayat, sudah saya 
kembalikan lagi ke raknya. Saya  menceritakan kondisi saya tersebut pada mas 
Andi. Saya katakan kepadanya bahwa  ini mungkin pelajaran bagi saya yang tidak 
pernah beriktikaf di Masjid sebelumnya. "Bagaimana di Masjid Nabawi nanti?", 
saya membatin. Tetapi kemudian terpikir oleh saya, mungkin ini pelajaran bagi 
saya karena  kebiasaan saya berangkat Jumatan dari kantor yang selalu 
"pas-pasan", yatu tiba di Masjid beberapa saat menjelang khatib naik mimbar.   

Begitu keluar dari pintu Masjid setelah selesai shalat, saya terkejut melihat 
lautan manusia memenuhi halaman dan mulut-mulut jalan di sekitar Masjid 
beringsut meninggalkan Masjid. "Bagaimana mau lewat, nich?" saya membatin. Saya 
dan mas Andi lalu berbaur dan berjalan dengan beringsut mengikuti arus manusia 
tersebut.

Temperatur di Saudi sepanjang musim haji 1423 H tidak terlalu tinggi, malah 
masih lebih rendah dari pada temperatur rata-rata di Jakarta saat kami 
tinggalkan. Tetapi terik matahari di langit yang tidak berawan di kawasan 
berpadang pasir yang berkelembaban sangat rendah, membuat saya cepat merasa 
lelah. Pak Chaidir yang tidak lama kemudian bergabung dengan kami, secara 
bergantian dengan mas Andi, tiap sebentar menoleh kepada saya, menjaga saya 
tidak sampai tertinggal. Entah kenapa, saya sama sekali tidak ingat untuk 
meminum air zam-zam dari termos yang tergantung di leher saya.

Setelah berjalan dengan merayap hampir setengah kilometer, kepadatan masa mulai 
agak berkurang, dan mas Andi mengajak berhenti sebentar untuk membeli dan 
mentraktir kami jus buah segar di sebuah depot di pinggir jalan. Tidak begitu 
lama setelah berjalan kembali, saya mendengar seorang PKL menawarkan 
dagangannya dalam Bahasa Indonesia: 

"Hati onta, hati onta, obat asma lima riyal".

Saya yang penderita Asma sejak kecil karena keturunan membatin: "Ah, saya tidak 
butuh!"

Pikiran yang "bernuansa" takabur itu sepertinya tidak berlebihan. Sejak secara 
teratur mengikuti latihan senam pernapasan berbasis zikir Tetada (terapi tenaga 
dalam) Kalimasada selama satu setengah tahun terakhir ini, serangan asma agak 
jarang saya derita. Di samping itu kami juga membawa Berodual  inhaler sebagai 
cadangan, yang biasanya sudah dapat menghentikan serangan asma dengan cepat 
begitu tanda-tanda penyakit akan datang terasa. Kalau ini lewat, juga masih ada 
penangkal lain, kapsul obat racikan dari dokter keluarga kami yang 
diresepkannya menjelang keberangkatan kami. Karena padatnya massa, jarak 
sekitar satu kilometer dari Masjidil Haram  ke pemondokan kami tempuh hampir 
satu jam.

Merasa masih letih, saya tidak ikut teman-teman sekamar yang petangnya 
berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan shalat maghrib dan diteruskan 
dengan isya.


Sabtu, 8 Februari.

Hari ini satu hari menjelang hari Tarwiyah, saat kami berihram haji dan 
berangkat ke Arafah untuk berwukuf keesokan harinya. Pagi tadi kami mendapat 
pemberitahuan dari Ketua Kafilah, bahwa rombongan kami akan berangkat ke Arafah 
besok petang sehabis maghrib. 

Berwukuf di Arafah adalah puncak peribadatan haji. Sesuai dengan sabda 
Rasulullah SAW: "Al-hajju Arafah" (Haji itu di Arafah).

Arafah di saat-saat berwukuf adalah salah satu tempat, di mana Allah Yang Maha 
Pengasih, Penyayang dan Pengampun, membuka hijab,  tempat di mana do'a lebih 
diijabah, munajah lebih didengar dan pengampunan lebih disegerakan. Arafah 
adalah saat-saat yang paling ditunggu oleh para hamba yang datang dari tempat 
yang jauh, ikhlas karena Allah semata,  dan melafazkan talbiyah, tidak jarang 
sembari bercucuran air mata: "Labbaykallah humma labbayk, labbaykala 
syarikalaka labbayk. Innal hamda, wani'mata, laka walmulk. Lasyarikalak (Aku 
datang Ya Allah, memenuhi panggilan-Mu.  Aku datang Ya Allah, tiada yang setara 
dengan-Mu. Segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, segala kekuasaan jua 
milik-Mu. Tiada yang setara dengan-Mu) 


----------------------------
1)      Di Makkah juga ada bus kota yang menghubungkan sejumlah kawasan dengan 
Masjidil Haram. Bus-bus tersebut juga lewat di jalan raya yang  terletak ± 200 
m dari pemondokan kami yang kami lalui untuk pulang dan pergi ke Masjidil 
Haram. Tetapi jumlahnya tidak banyak dan selalu penuh penumpang. Kami pernah 
naik bus tersebut sekali untuk berangkat ke Masjidil Haram bersama pak Ustadz.  
   


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke