Terbaring Sakit, Keberangkatan ke Arafah Tinggal Lima Jam lagi (B)

Sejak pagi saya merasa kurang enak badan, sehingga tidak berani mandi pagi. 
Menjelang tengah hari, tanda-tanda asma saya akan kambuh mulai terasa. Saya 
mendatangi Kur di kamarnya untuk mengambil Berodual inhaler yang baru dibelinya 
khusus guna persediaan di Tanah Suci sebulan sebelum kami berangakat. Namun 
ketika saya gunakan, inhaler itu tidak berfungsi sama sekali, tidak ada gas 
yang keluar ketika botolnya ditekan. Setelah saya periksa, ternyata botolnya 
bocor dan isinya menggumpal di luar. Saya sebenarnya punya satu lagi yang biasa 
saya taruh di tas kantor. Tetapi ketika hendak saya  masukan ke saku sebelum 
berangkat dari rumah dilarang oleh Kur, karena sudah ada yang baru dibelinya 
itu.  Lalu saya  menelan obat racikan yang dari dokter. Setelah itu kami berdua 
keluar berusaha mencari Berodual di apotek-apotek yang ada di sekitar 
pemondokan,  tetapi tidak ada yang menjual. 

Tidak seperti biasa obat racikan yang dari dokter kami sepertinya tidak 
bekerja. Napas saya semakin sesak, karena selain berkontraksi, bronkus saya 
sudah mulai mengandung  lendir. Dari pak Erman, ketua regu kami, saya mendapat 
beberapa butir Bricasma tablet.

Sehabis makan siang dengan diantar Kur saya mendatangi dokter Iva Siregar, 
dokter kloter kami di tempat praktiknya yang kebetulan satu lantai dengan kamar 
kami. Karena suhu badan saya juga mulai naik, dokter Iva memberikan antibiotika 
dan obat penurun panas, serta  meminta saya untuk terus meminum obat racikan 
yang diresepkan dokter keluarga yang kami bawa dari rumah.

Makan antibiotika dan obat penurun panas agak menurunkan suhu badan, tetapi 
tidak mengurangi sesak napas saya. Saya mulai batuk-batuk, dan makin lama 
setiap batuk terasa makin menyakitkan. Kur mulai cemas melihat kondisi saya, 
sementara saya sendiri berusaha untuk tetap tenang dan lebih banyak berzikir 
dan memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

Malam harinya napas saya semakin sesak dan batuk saya semakin menjadi-jadi. 
Kadang-kadang disertai lendir, tetapi belum terlalu banyak dan masih sangat 
lengket. Teman-teman sekamar memperlihatkan simpati dan keprihatinan mereka 
terhadap kondisi saya tersebut.


Minggu, 9 Februari.

Kondisi saya tidak semakin membaik, sementara waktu keberangkatan ke Arafah 
hanya sekitar 12 jam lagi. Agar tidak sering bolak balik ke kamar saya serta 
atas persetujuan teman-temannya sekamar, Kur membawa saya ke kamarnya  dan 
menyuruh tidur di tempat tidurnya.

Walaupun terus makan obat, kondisi kesehatan saya semakin menurun. Menjelang 
tengah hari, kondisi kesehatan saya hampir menyamai kondisi saya ketika 
mengalami serangan astma terburuk dalam tahun 1996, di mana saya terpaksa 
dirawat selama empat hari di rumah sakit, memperoleh bantuan pernapasan dengan 
oksigen serta diinfus dua hari dua malam guna mengeluarkan lendir kental dari 
paru-paru saya.

Kur mendatangi dokter Iva, tetapi tidak ditempat karena sedang keluar 
pemondokan untuk suatu keperluan.

Waktu keberangkatan ke Arafah hanya sekitar enam jam lagi. Saya masih terbaring 
sakit. Akankah saya berwukuf di Arafah di atas mobil ambulans?

Hati kecil saya, berkata tidak. Sejak menderita serangan kemarin saya sudah 
merasa bahwa penyakit saya ini bukan sesuatu yang "kebetulan". Sebelum 
berangkat ke Tanah Suci, saya sudah mendengar bahwa perjalanan ibadah haji ini 
banyak cobaannya, antara lain sakit berat. Ada yang sakit menjelang berangkat, 
selama di Tanah Suci, atau setelah kembali ke tanah air.

Sebelum ini di Tanah Air, kalau menderita sakit saya jarang mengeluh. 
Lebih-lebih sekarang, di Tanah Suci. Saya tetap optimis bahwa saya akan bisa 
wukuf di Arafah tanpa diusung di atas mobil ambulans. Dalam hati saya berkata, 
Allah SWT sudah mengizinkan dan memberi rezeki kepada saya untuk berangkat ke 
Tanah Suci. Pasti Ia akan mengizinkan saya juga untuk berwukuf di Arafah.

Jarum jam terus berputar, sementara kondisi saya terus menurun.  

Waktu keberangkatan ke Arafah tinggal hanya sekitar lima jam lagi……………


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke