Seperti yang kami saksikan dalam pelemparan jumrah Aqabah tadi malam, terlihat jelas kesiapan petugas keamanan dan kesehatan Arab Saudi berikut peralatan pendukung seperti ambulans yang disiapkan di sejumlah tempat strategis guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Terowongan Mina yang luas dan sangat kokoh yang sudah menjadi ganda sejak terjadinya tragedi Mina dalam tahun—kalau tidak salah—1990, mempertebal rasa aman. Dari kejauhan sudah terdengar raungan bunyi alat penyejuk udara yang tergantung di langit-langit terowongan yang suara dan bentuknya seperti mesin pesawat jet tersebut. Alat pendingin yang digerakkan dengan mesin turbo itu tidak hanya berfungsi sebagai pendingin tetapi juga sebagai pengatur sirkulasi udara di dalam terowongan, sehingga sepadat apapun massa yang melewati terowongan yang panjangnya lebih dari 500 meter itu, mereka tidak mungkin akan kekurangan udara segar. Melempar jumrah sendiri sebenarnya cukup aman, asal dilakukan dengan tenang, disiplin, (tetap dalam barisan, sebaiknya satu baris dua atau tiga orang), sedikit merunduk, menggunakan batu yang besarnya sedang (besar sedikit dari biji kacang tanah) dan melakukan pelemparan setelah dekat sekali ke tiang jumrah, lalu berbalik dengan tenang selesai melempar. Pokoknya emosi harus terkendali. Saya sempat khawatir melihat cara isteri saya Kur dalam melempar. Saking "bersemangat" dia keluar dari barisan, tanpa menyadari bahwa dia bisa tertabrak jemaah yang sudah selesai melempar dan berbalik. Malam itu kami kembali berbaris rapih berangkat ke tiga jumrah. Pak Selamat berada di barisan paling depan membawa bendera kafilah didampingi Muhrom dan pak Ustadz. Saya wanti-wanti bilang kepada Kur, bahwa dia harus tetap di samping saya sebelum, sedang dan sesudah melempar jumrah. Sewaktu melempar jumrah wustha, saya mengalami kembali sesuatu yang "aneh" yang mirip "peristiwa lorong" yang membawa kami ke dinding Ka'bah pada waktu umrah haji. Sewaktu akan melempar, saya merasa terlepas dari ruang dan waktu, rasanya yang berada di sana hanya saya sendiri dan tiang jumrah yang tepat di depan saya, sehingga saya bisa melakukan pelemparan dengan mudah. Ketika kami berkumpul kembali, ternyata kami kekurangan satu orang anggota rombongan. Setelah menunggu setengah jam baru yang bersangkutan berhasil menemukan rombongan kami. Susah juga, semua bendera kafilah Indonesia berwarna dasar hijau muda sehingga susah membedakannya dari jauh. Akhirnya atas gagasan seorang jaamah bendera kafilah kami dilampiri slayer seragam jemaah perempuan kafilah kami, bola-bola putih berlatar biru. Kamis, 13 Februari Kafilah kami milih nafar awal, jadi kami hanya melempar jumrah tiga hari berturut-turut. Dan hari ini adalah pelemparan jumrah hari terakhir. Kafilah kami melakukannya sebelum waktu dzuhur. Sewaktu melakukan pelemparan jumrah terakhir ini saya nyaris celaka. Sabuk khusus yang biasa digunakan untuk pakaian ihram—yang juga saya pakai pagi tadi walaupun saya tidak lagi memakai pakaian ihram, melainkan stelan Pakistan yang lebih tipis dan licin— melorot hingga ke mata kaki dan kemudian menyerimpet kaki saya yang sedang melangkah, yang menyebabkan saya hampir jatuh tersandung dan terinjak oleh teman yang di belakang saya. Sebenarnya tidak sukar bagi saya melepaskan sabuk itu dari kedua pergelangan kaki saya, tetapi sabuk tersebut pasti hilang, padahal di dalam salah satu kantungnya saya menyimpan uang lebih dari 200 riyal. Dalam bilangan detik saya berjongkok dan sambil berdiri kembali, saya menarik sabuk tersebut ke atas hingga ke tengkuk dan membiarkannya tetap tergantung di sana. Setelah itu saya terus maju dan melakukan pelemparan. Sekitar jam dua siang setelah selesai makan siang dan shalat dzuhur yang diqasar dan dijamak dengan ashar, kafilah kami berangkat kembali ke Makkah guna melaksanakan rukun haji yang terakhir yaitu thawaf ifadlah dan sa'i haji. Dalam perjalanan pulang kafilah kami mampir di tempat pemotongan hewan kurban dan dam. Sesampainya di Makkah, sebagian jemaah, yaitu yang tergabung dalam kelompok II dan III langsung melaksanakan thawaf ifadlah dan sa'i haji pada malam ini juga sesudah waktu isya, sedangkan kelompok kami yang diketuai pak Ustadz baru akan melakukannya besok pagi sekitar waktu shubuh. Malam ini badan saya terasa letih sekali, tetapi bisa tidur nyenyak dan mengalami beberapa mimpi yang menyenangkan. Salah satu di antaranya, saya ditunggu orang banyak di sebuah ruangan berkarpet merah yang indah. Pada mimpi yang lain saya melihat Kur berpakaian seperti putri raja dan tampak cantik sekali. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
